Evan Indrawijaya: Melihat Orang Bagus, Saya Nggak Tahan

“Melihat orang bagus saya nggak tahan, ingin saya ambil atau saya kembangkan leih lanjut. Anda bisa bayangkan impact-nya ke dalam bisnis kalau orang-orang bagus itu bisa berkembang dan berkontribusi, perusahaan itu akan cepet grow.”
Dari sepotong pernyataan itu, kiranya tak sulit membayangkan sosok Evan Indrawijaya, HR Director Kimberly-Lever Indonesia. Energik, bersemangat dan memiliki passion yang tinggi terhadap bidang yang digelutinya. Bahkan, tak berlebihan kalau dibilang bahwa Evan adalah potret ideal generasi baru profesional HR di Indonesia. Selain secara umur memang masih tergolong muda, dia juga tumbuh dalam ruang dan di atas pijakan yang berbeda dibandingkan generasi pendahulunya. Jika HR zaman dulu berpikir dan bertindak dalam kerangka paradigma HR sebagai “personalia”, maka Evan berkembang di era ketika semua orang dengan bangga bicara tentang HR sebagai mitra strategis bisnis.
Tentu saja, kecintaannya pada bidang HR tidak datang begitu saja. Bahkan, awalnya, Evan sempat merasa memiliki ketertarikan pada bidang marketing. Maklum, ketika kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, dia memang mengambil jurusan manajemen, dengan spesialisasi marketing. Namun, setelah lulus pada 1995 dan sempat bekerja sebentar di Citibank, Evan mulai berkenalan dengan dunia HR melalui jabatannya sebagai Organization Development Officer di PT HM Sampoerna yang dimasukinya sejak 1996.
“Kebetulan waktu itu Sampoerna melakukan transformasi bisnis, dan itu membuka mata saya bahwa kalau orang bicara perubahan bisnis, faktor yang terpenting itu apa? People. Oke, organisasi bisa dengan cepat diubah, tapi bagaimana dengan orangnya, kebutuhan skills dan kompetensinya, cara treatment dan pengembangannya? Saya lihat waktu itu, ternyata challenge-nya cukup besar di HR. Saat itulah saya ngeliat, HR itu lebih strategik dari yang selama ini saya pikirkan,” kenang pria kelahiran Malang, 10 April, 34 yang lalu itu.
Setelah tiga tahun berkarir di Sampoerna, Evan kembali melanjutkan pendidikan untuk mengambil gelar master bidang manajemen umum di University of Antwerp Management School (UAMS), Belgia. Dan, menyambungnya dengan menempuh program satu tahun bidang pengembangan organisasi di Universitas Marquette, Milwaukee, AS. Pada 2002, ia kembali ke Tanah Air dan memantapkan karirnya di bidang HR sebagai asisten manajer untuk manajemen dan pengembangan organisasi di Philip Morris. Setelah sempat pindah ke perusahaan pakan ternak Charoen Pokphan Indonesia sebagai general manager organization development and talent management pada 2004, Evan bergabung dengan Kimberly-Lever pada awal 2006, langsung menduduki kursi HR Director.
Kimberly-Lever adalah perusahaan asal Amerika yang memproduksi barang-barang penunjang kesehatan seperti popok bayi (“Huggies”), pembalut wanita (“Kotex”) dan tisue (“Kleenex”). “Kehadirannya di Indonesia sejak tahun 2000 merupakan hasil kesepakatan kerja sama antara Kimberly-Clark Corporation dengan Unilever”, terang Evan.
Kimberly-Lever Indonesia memiliki 400 karyawan tetap ditambah 250 karyawan outsource. “Saya membawahi HR structure yang klasik, ada rekrutmen, kompesasi dan benefit, talent development management, industrial relations dan adminstrasi. Tapi, visi saya ke depan, HR harus lebih fokus bener di core function. Saya pikir dengan tuntutan bisnis yang cukup tinggi, kita harus bisa fokus dengan delivery yang strategis. Untuk fungsi yang tak terlalu critical, yang value added-nya rendah, kita bisa outsource,” papar Evan sambil mengungkapkan bahwa perusahaannya cukup strategis menempatkan fungsi HR.
Kendati dukungan dari top leader terhadap program-program HR sudah bukan masalah lagi, tak berarti Evan bisa duduk santai di belakang meja. Sebagai “kepala suku” HR, ia sadar bahwa dirinya juga harus ikut berperan dalam penetrasi pasar produk-produk perusahaannya, di tengah persaingan yang ketat. Lebih-lebih, tidak hanya ikut meramaikan pasar saja tujuan yang hendak dicapai Kimberly-Lever Indonesia, melainkan seperti dicita-citakan semua perusahaan juga ingin menjadi market leader di antara brand-brand yang sudah lebih dulu mapan.
“Pemainnya memang banyak, tapi berapa penduduk Indonesia? Anggap saja separonya wanita, dan anggap wanita yang memakai pembalut, kurang lebih 80 persen. Pas period, seorang wanita memakai pembalut 2-3 kali ganti. Dan, dari segi kesehatan harusnya 7 kali. Bisa dibayangin, betapa besar peluang pasarnya. Di kota-kota besar, pemakaian pembalut cukup tinggi, tapi di desa masih pemakaiannya masih belum banyak dan bahkan ada yang masih memakai kain, nah itu tantangan bagi kita karena opportunity-nya besar di low income. Prinsipnya kita mencoba masuk ke berbagai segmen. Peran HR tak lain men-support bisnis, mencari tenaga-tenaga yang ngerti bisnis dan marketing, kita harus dapetin orang-orang yang bisa mengembangkan brand-brand kita. Di luar negeri, produk kita market leader dan peran HR cukup strategis di sini, siapa yang mendesain iklan, jualan sampai ke jalan-jalan intinya yang bisa melakukan dan menumbuhkan bisnis adalah orang.”
Dalam pandangan Evan, faktor orang di atas segalanya dalam sebuah perusahaan. Dan, HR –dalam visi Evan ke depan– bertugas sebagai agen perubahan dan fasilitator bagi para manajer lini sebagai pimpinan langsung dari karyawan sesuai divisi masing-masing. “Ke depan, masing-masing manajer akan menjadi HR manager, dan divisi HR tugasnya membantu membuat manajer-manajer itu bisa melakukan rekrutmen dengan baik, performance appraisal dengan baik dan lainnya, semua itu harusnya di line manajer. Dengan begitu, HR bisa membantu organisasi untuk tumbuh ke depan.”
Kalau ditanya pengalaman paling mengesankan selama berkarir di bidang HR, Evan yang banyak bergelut di talent management itu dengan jujur mengatakan, bahwa tak ada yang lebih membuatnya bersemangat dibandingkan ketika melihat talenta-talenta organisasi yang direkrutnya dan dikembangkannya berkembang lebih jauh lagi. Evan punya kiat jitu untuk mengembangkan talent. “Kita harus protect mereka dulu. Sebelum, dikembangkan, pastikan dulu apakah dia sudah cukup aman di perusahaan ini atau masih lirik sana-sini. Karena yang saya temui di beberapa perusahaan, mereka suka kelabakan kalau ada orang resign, terutama kalau ada di posisi yang penting, karena kita nggak mempersiapkan penggantinya.”
Namun, Evan mengingatkan, sebelum melangkah sampai ke tahap mengembangkan dan mempersiapkan suksesi, ada hal mendasar yang tak boleh dilupakan, yakni menggaji karyawan secara fair, dan disusul dengan pendekatan yang lebih komprehensif berupa total retention package.
“Kalau dari awal kita yakin telah menggaji karyawan dengan bener dan memberikan fasilitas dan pengembangan yang membuat karyawan merasa betah dan dihargai. Dan, kalau bicara orang mau tinggal di satu perusahaan, bayangkan dulu berapa lama sih orang berada di kantor dibandingkan di rumah. Waktu yang dihabiskan di kantor cukup besar, kalau orang nggak enjoy kerja, pasti akan keluar. Kita bikin karyawan kita enjoy kerja di tempat kita, dan kita ciptakan lingkungan yang mendukung, dan kita buat bagaimana orang merasa berkembang di perusahaan ini, lalu kompensasi dan benefit yang sesuai dengan pasar, jadi orang nggak lirak-lirik ke sana-sini.”