Empy Effendi: HR itu Hatinya Perusahaan

Jabatan formalnya managing partner. Nama perusahaannya Freshminds. Jangan cari di Jakarta. Perusahaan ini berpusat di Singapura. “Tapi kita buka di sini juga tahun ini, di samping kita juga sudah ada associate network di China dan Jepang,” jelas Empy Effendi merinci kegiatan bisnisnya. Lelaki berusia 33 tahun itu tentu tidak ingin disebut sebagai malin kundang karena lebih memilih mendirikan perusahaan di negeri orang ketimbang di Tanah Air sendiri.

“Kebetulan sejak dulu saya memang sekolah dan bekerja di sana,” kata pria berdarah Sunda itu. Ia menggunakan kata “di sana” untuk menunjuk Singapura karena ketika ditemui portalHR, penyandang gelar MBA itu sedang berada di Jakarta. Ia diundang untuk mengisi sebuah kelas pelatihan yang digelar oleh Majalah Training, tempat ia tercatat sebagai redaktur tamu. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam, ia tampak bugar di sela kesibukannya memberi pelatihan.

Suaranya yang agak lirih dan tidak meledak-ledak barangkali tak mengesankan seorang trainer. Tapi, pengalaman tentu saja tak diukur dari situ. Buktinya adalah Freshminds yang dirintisnya, sebuah perusahaan konsultasi yang bergerak dalam bidang peningkatan human resource (HR). “Kita melihat, posisi HRD sekarang sudah harus ditingkatkan lagi. Tapi kekuaran dan pengalaman kita di bagian training, kita nggak ambil HR secara general, tapi fokus di training,” papar dia seraya menjelaskan filosofi di balik nama Freshminds. “Kita mau menampilkan ide-ide baru,” ujar penulis lepas pada Harian The Jakarta Post sejak masih duduk di bangku kuliah itu.

Salah satu ide baru yang telah dikembangkan Empy untuk program pelatihan adalah e-learning. Ia bahkan sudah menulis buku berjudul E-Learning: Konsep dan Aplikasi. Sejauh amatan Empy, sebagai sebuah metode, e-learning memang sudah bukan hal yang asing lagi di Indonesia. Namun, secara konsep, “Sayangnya masih agak tertinggal meskipun ada beberapa yang levelnya sudah sama dengan yang di luar negeri.” Ketika diminta menjelaskan hakikat e-learning itu sendiri, Empy mengatakan, batasannya banyak sekali. Oleh karenanya, ia lebih senang mendefinisikannya secara konteksual.

“Kalau saya lihat keadaan di Indonesia, di mana internet masih minim, bagi saya segala bentuk pelatihan yang diselenggarakan dengan memanfaatkan komputer dan teknologi informasi, kenapa tidak disebut e-learning?” tanyanya retoris.

Empy memberi contoh, sebuah perusahaan yang memiliki banyak kantor cabang, e-learning sangat berguna untuk mengefisienkan kerja. “Kalau masih ada masalah dengan koneksi internet, kenapa tidak mencari jalan lain, misalnya menggunakan CD rom, dikirim ke kantor-kantor cabang, itu lebih cepat, tinggal upload ke komputer masing-masing. Kelemahannya nggak bisa online, nggak bisa dimonitor langsung, tapi namanya memang masih ada keterbatasan ya nggak apa-apa,” kata dia.

Lahir di Bogor, 10 Desember 1973, anak kedua dari empat bersaudara itu menyelesaikan pendidikan S-1 yang dibilangnya “masih main-main”di jurusan manajemen Universitas Trisakti Jakarta. Begitu lulus, ia bekerja di Bank Universal –sekarang Bank Permata- selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di National University of Singapore. Dengan gelar MBA yang diraihnya, ia melenggang masuk ke Singapore Telecommunication Ltd sebagai manajer training. “Waktu itu saya menangani banyak area, semua bagian training kurang lebih saya udah coba,” kenang dia.

Pengalaman itulah yang mengantarkannya mendirikan Freshminds yang menangani training sumber daya manusia. “Dari tingkat vice president sampe klerek,” ujarnya menggambarkan cakupan unit yang ditanganinya. Dari persentuhannya dengan berbagai level jabatan itulah, Empy sampai pada kesimpulan bahwa SDM dalam sebuah organisasi atau perusahaan itu ibarat hati pada tubuh manusia.

“Di atasnya, kepalanya, otaknya itu CEO, tangan itu bagian sales, marketing yang melakukan penjualan, kakinya bagian operational. HR selalu saya lihat lebih sebagai hatinya organisasi, yang selalu men-drive soal visi, misi,” papar dia.

Begitu pentingnya peran HR seperti itu, Empy menyayangkan bahwa masih banyak perusahaan yang memandangnya sebagai administrator saja. “Tapi nggak hanya di sini (Indonesia –red) aja, masih merupakan gejala umum di banyak tempat kalau HR hanya dijadikan polisi dan admin, kalau perusahaan mau bikin strategi apa, HR datang bawa pentungan, ini ada peraturan, ini nggak boleh dilanggar.”

Namun demikian, Empy juga tak menutup mata dari fakta, betapa orang HR sendiri masih banyak yang tidak peduli dan tidak mau tahu mengenai peran lebih yang mestinya mereka emban. “Orang yang paling mengetahui helicopter view-nya perusahaan, tentang seluruh organisasi, itu HR. (Perusahaan) maunya ke mana…kadang-kadang orang HR sendiri nggak mau tahu. Ditanya saingan terbesar siapa, mereka nggak tahu.” Tak heran, demikian Empy, jika sampai sekarang stigma yang melekat pada departemen HR selalu negatif.

Menurut Empy, HR harus bisa memberikan value agar lepas dari bayang-bayang pencitraan yang serba tidak mengenakkan. Empty menggambarkan value itu begini. Kalau bagian HR sudah memberi sebanyak 100 jam training kepada 500 karyawan, itu adalah what you do, bukan what you deliver. Itu task-nya, bukan value. Sedangkan value adalah, apakah setelah karyawan diberi training, penjualan meningkat misalnya. “Jadi, kuncinya, HR harus menjadi strategic partner bagi CEO dan petinggi-petinggi perusahaan lainnya,” tegas Empy.