Egiest A Siregar: Wara-Wiri antara Konsultan dan Praktisi

Wajahnya yang cerah tampak lega ketika akhirnya kami bertemu, Minggu (25/2/07) lalu setelah beberapa kali tertunda. Bukan hanya karena banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta tempo hari, melainkan juga kesibukan khas awal tahun seorang manajer HR. Kata ‘maaf’ sempat terlontar sebelum ia mengungkapkan penyebab kesibukannya yang luar biasa, sehingga terkesan agak susah ditemui.
“Habis menghitung kenaikan gaji karyawan dan bonus, sekarang sudah selesai dan kemarin sudah dibayarkan,” ujar Manajer Human Resources Management (HRM) PT Indominco Mandiri Egiest A. Siregar.

Sebagai satu dari lima kantor operasi perusahaan tambang batubara Banpu Group (Thailand) di Indonesia, Indominco Mandiri memiliki 600 orang karyawan, dan Egiest merupakan satu dari tiga manajer HR di bawah seorang direktur. “Sebagai Manajer HRM, tanggung jawab saya pada rekrutmen, pengembangan organisasi serta compensation and benefit,” jelas perempuan yang mengepalai 6 orang staf dari tiga area, yakni Rekrutmen, HRM System dan Remunerasi.
Lahir di Jakarta, 15 Agustus 1966, Egiest menamatkan pendidikan S-1 bidang Psikologi Industri di Universitas Pajajaran, Bandung pada 1990. Perjalanan panjangnya hingga mencapai karir yang sekarang dimulai sebagai seorang konsultan HR di Muladaya Adipratama. Di sinilah, selama 6 tahun (1990-1996) Egiest mempertajam minat sekaligus pengalamannya di bidang HR. “Menarik sekali, karena yang diurusin orang,” kata dia.
Namun, sebagai profesional yang kala itu boleh dibilang baru pertama kali menjajal kemampuan lapangannya, Egiest tak gampang berpuas menerima kemapanan yang telah diraihnya. Dan, dengan mengantongi pengalaman 6 tahun sebagai konsultan, jalan bagi dia untuk melakukan lompatan karir terbuka cukup lempang. Ia langsung menduduki kursi manajer HR Legal & General Affairs Group begitu pindah ke Babcock&Willcox Indonesia. Di sini, Egiest bertahan sampai 5 tahun, sebelum kemudian sempat “nyemplung” ke sebuah pabrik karpet.
“Di situ hanya enam bulan sebagai manajer HR. Saya merasa nggak cocok dengan iklim kerjanya,” kenang dia. Uniknya, setelah mencapai level manajer, Egiest “rela” menjadi konsultan lagi ketika ia pindah ke Achieve Global International Consulting. Enam bulan kemudian, ia pindah lagi, dan lagi-lagi di perusahaan konsultan asing Deloitte, sebagai senior consultant pada divisi Human Capital.
Dari konsultan ke praktisi lalu ke konsultan lagi dan balik ke praktisi, sudah barang tentu memberi nilai tambah bagi Egiest dalam menapaki jalur karir di bidang HR. “Awalnya ketika saya menjadi konsultan, pengen jadi praktisi, tapi setelah menjadi praktisi kok nggak menantang, semua aman-aman saja, di atas normal, maka saya pun cari yang labour intensive. Jadi semua sudah saya coba, selain karena ingin tahu, juga untuk <I>self improvement. Tapi, setelah di pabrik, ternyata nggak kuat juga,” akunya diiringi tawa kecil.
Egiest juga sadar, bahwa kecenderungannya untuk berpindah-pindah tempat kerja itu juga didorong oleh naluri lain tentang kepuasan. “Orang nggak pernah puas dalam hal kompensasi, yang bisa membatasi cuma langit. Tapi, dari situ justru saya jadi belajar mengendalikan emosi sendiri,” ujar Egiest yang akhirnya pindah ke Indominco melalui jasa headhunter itu.
Di perusahaan yang baru berdiri pada 2002 itu, Egiest menemukan banyak pekerjaan rumah yang cukup menantang. “Seiring dengan tuntutan bahwa HR harus mampu menjadi mitra strategis bisnis, kami sedang meningkatkan sistem HR dan khusus tim HRM yang saya pimpin, kami berusaha membuat tim yang solid,” ungkap penyuka travelling dan baca buku itu. Setinggi-tinggi merpati terbang, akhirnya akan kembali ke dahan pertama yang pernah dia pijak. Begitulah, bagi Egiest, menjadi konsultan adalah hal yang ia bayangkan untuk mengisi masa pensiun nanti. “Sekarang saya masih harus belajar terus,” ujar sang merpati.