Djarot T. Basuki : Hidup itu Dinamis dan…

Djarot Basuki, Director of HRD & Administration Hotel Nikko Jakarta ternyata bukan hanya handal dalam mengelola sumber daya manusia di tempat mereka bekerja, tetapi juga mengarahkan keluarganya. Pria yang selalu bersikap optimis dalam menghadapi hidup ini mencoba mengubah paradigma lama yang sering diterapkan oleh para orang tua.

“Kita harus optimis karena hidup itu menarik, dinamis, dan selalu ada perubahan menuju kebaikan”, ujar pria kelahiran Surabaya ini ringan. “Ada paradigma yang salah di mana orang tua menyekolahkan anak setinggi-tingginya hanya karena gelar kesarjanaan dan status sosial dianggap akan membuat seseorang menjadi terhormat”, terangnya. Baginya, menjadi orang terhormat bukan sekadar status sosial dianggap akan membuat seseorang menjadi terhormat”, terangnya. Baginya, menjadi orang terhormat bukan sekadar status sosial, tetapi lebih pada kemampuan seseorang.

Di samping itu, kritik pun ia lancarkan untuk lembaga pendidikan terkait. Menurut pria kelahiran 3 Maret 1956 ini, sekolah harus bisa mempersiapkan tenaga muda menjadi ilmuwan dan tenaga siap kerja. Untuk itu kurikulum harus segera disesuaikan dengan kebutuhan industri. “Sekolah harus menyiapkan kompetensi untuk membantu industri. Kalau ini dilakukan dengan benar, pasti bisa mengatasi pengangguran”, paparnya.

Kritikan bukan sekadar kritik yang di mulut saja, tetapi hal ini ia terapkan bagi putra putrinya. “Saya punya satu putra dan satu putri. Saya membebaskan mereka untuk memilih”, katanya pasti. “Tugas kita menciptakan mereka mandiri, bebas menentukan sikap, terus kita hanya mendorong. Saya tidak pernah memaksa mereka sekolah setinggi mungkin”, jelasnya lagi.

Perjalanan karirnya untuk mencapai posisi yang kini dijabatnya juga tidak mudah. Layaknya dongeng, seseorang yang sukses itu pasti berawal dari kesusahan terlebih dahulu. Djarot kecil harus berjuang, bahkan dengan berusaha menjual kantong semen yang telah diperbaikinya demi menyelesaikan pendidikan sekolah menengah tingkat pertamanya.

Namun bisa dikatakan Dewi Fortuna memang berpihak kepadanya. Pada akhirnya sebuah perusahaan menawarkannya untuk melanjutkan sekolah. Dan akhirnya Djarot memilih jalur perhotelan. Langkahnya ini ternyata tidak keliru dan berhasil membawanya ke dunia perhotelan yang sesungguhnya.

Pria yang bernama lengkap Djarot Teguh Basuki ini sempat berkelana dari beberapa hotel. Pengalaman yang dikumpulkannya selama ini membawanya berlabuh di Hotel Nikko Jakarta. Ketertarikannya di bidang HRD didasarkan pada keinginannya untuk berbagi ilmu dan pengalaman. “HRD adalah tempat untuk membangun manusia, terutama anak-anak muda. Saya ingin membagi ilmu dan pengalaman”, terangnya.

Menduduki posisi Direktur HRD, pria dengan dua putra ini menginginkan semua orang menyadari bahwa hidup harus selalu berkompetensi dengan sehat. Artinya semua orang harus membangun diri sendiri untuk mencapai kemajuannya. “Sebagai HRD, saya mempunyai alat untuk membangun diri. Di banyak tempat orang tidak sadar bahwa berkompetensi menuntut kita untuk maju dari hari ke hari”, jelasnya.

Dalam mengelola sumber daya manusia menurut Djarot yang juga telah dianugerahi sertifikat dari Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia sebagai salah seorang Eksekutif Senior di bidang sumber daya manusia, perlu adanya system punishment. “Punishment penting dalam arti objektivitas yang dijunjung tinggi”, tegasnya.

“Di dunia perhotelan, tata nilai manusia yang diukur adalah kepribadian, bukan kepandaian semata. Perilaku yang mengikuti kompetensi, bukan kompetensi yang mengikuti perilaku”, ujarnya.

“Apa gunanya pintar tetapi sombong, anggun dan sombong, tidak cocok orang seperti ini di pariwisata, mungkin cocok di bidang lain. Tamu tidak pernah melihat siapa kita, tapi melihat pelayanan yang diberikan”, jelasnya.