Conny P. Manurung: Waktu Menolong Jatuh Cinta Pada HR

Conny Manurung_2

ADA BANYAK SEBAB para praktisi HR (human resources) kecantol alias jatuh cinta dengan profesinya. Tidak terkecuali bagi Conny Purnama Manurung, Senior Manager Human Capital PT Mircroads Indonesia.

Conny Manurung_1

Kepada PortalHR, Conny mengaku awal ia terjun di dunia HR dimulai setelah keluar dari dunia NGO (non Government Organization), pekerjaan pertamanya setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Psikologi Sosial, Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Di NGO ini Conny sudah bersentuhan dengan fungsi HR seperti rekrutmen, serta training and development. Tidak ada yang salah dengan pekerjaannya, Conny memutuskan keluar setelah berkarir selama 5 tahun, dengan pertimbangan tempat ia bekerja yang berada di desa kecil di satu kabupaten di NTT relatif jauh dengan suaminya yang ada di Jakarta.

“Bermodalkan pengalaman tersebut saya mencoba melamar di sebuah perusahaan advertising yang saya awalnya tidak mengerti sama sekali tentang dunia pekerjaan tersebut. Ya, waktulah yang menolong saya dapat menikmati pekerjaan saya sebagai HR dan memahami dunia advertising yang cukup beda dari dunia pekerjaan saya sebelumnya. Momen inilah awal saya jatuh cinta terhadap dunia HR,” ujar Conny.

Meski masih ada anggapan orang HR harus dari jurusan Psikologi, Conny yang memang lulusan Psikologi Sosial tidak sependapat. Ia mengakatan, “Menurut saya, di zaman sekarang latar belakang pendidikan tidak terlalu menjadi hal utama untuk menjadi seorang praktisi HR. Yang penting ia memiliki passion dan visi ke depan serta punya alasan yang jelas mengapa ia ada di posisi HR. Toh, untuk pengetahuan orang tersebut dapat belajar melalui pelatihan yang banyak disediakan oleh beberapa instansi pengembangan SDM,” katanya menjelaskan.

Conny Manurung_2

Conny mengaku sangat menyukai pekerjaan di bidang HR, utamanya karena pekerjaannya berhubungan dengan ilmu manusia. Ia mengaku banyak belajar karakter bermacam-macam orang hingga cara menghadapinya. “Sukanya tetap merasa jiwa muda karena saat ini bekerja di tengah Gen Y yang range umurnya sekitar 21-27 tahun, meski konsekuensinya harus lebih sabar menghadapi karakter Gen Y yang sangat sulit dispilin akan banyak hal,” imbuhnya.

Apalagi Gen Y, sebut Conny memang menjadi tantangan tersendiri buat SDM Indonesia. “Kini banyak organisasi yang jumlah stafnya mayoritas dari Gen Y, yang mereka membawa karakternya yang berbeda dengan generasi sebelumnya, salah satunya yang tidak “betah” untuk bertahan lama di satu company. Tantangan lainnya utamanya yang saya alami di dunia advertising adalah masalah disiplin dalam hal ini time management dari Gen Y,” katanya lagi.

Namun begitu, bicara mengenai Gen Y, imbuh Conny, tidak selamanya identik dengan yang kerumita-kerumitan pekerjaan. “Tidak dipungkiri mengelola Gen Y itu merupakan tantangan tersendiri, tetapi bahagianya juga banyak, salah satunya saya menikmati membuat ide-ide creative setiap bulan dalam acara kebersamaan yang rutin kita lakukan, membuat dress code bulanan, dan masih banyak yang lainnya. Banyak hal positif juga yang saya dapatkan bekerja dengan sekitar 90 Gen Y yang ada di kantor. Saya juga selalu merasa berumur 25 tahunan jika berada di tengah-tengah mereka,” ujarnya sambil tersenyum

Conny yang menyelaraskan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya ia jalani dengan kegiatan traveling. “Paling sering bersama suami  kita bepergian ala backpacker, atau sekedar hunting kuliner, mencari makanan unik dengan teman-teman kantor d isekitaran Jakarta dan Bogor,” tambahnya.

Menjawab passion dan cita-cita ke depan, Conny justru mengatakan mungkin terlalu naif buat banyak orang. Ia lantas buru-buru menjelaskan, “Saya hanya ingin Indonesia maju dalam segala bidang, di mana saya bisa berkontribusi dengan bekerja maksimal sesuai bidang pekerjaan dan berdampak pada pembangunan Indonesia. Kalau dulu di NGO saya bisa langsung melakukan sesuatu yang berdampak, saya ingin di dunia HR bisa mengulangnya. Apalagi visi tempat saya bekerja saat ini yang diberikan oleh COO adalah ‘Impact to Indonesia’s Future By Youth Power and Passion‘. Saya coba berpikir keras kenapa beliau yang notabene orang Jepang mau memikirkan Indonesia, kenapa saya tidak?” (*/@erkoes)

Tags: , , , , , , , , , , ,