Chairul Hamdani: Tak Henti Cari Tantangan

Menduduki posisi Vice President (VP) – Head of Resourcing and Talent Management (HRTM) Bank Permata pada usia 38 tahun tidak membuat Chairul Hamdani puas. Pada 2007 dia mencari tantangan dengan meninggalkan jabatan bergengsinya itu, dan pindah ke Fortis, sebuah perusahaan reksadana berskala relatif lebih kecil. Dengan jumlah karyawan sekitar 40 orang, Rully, demikian panggilan akrabnya, sebagai HR Head merasa tak mendapatkan apa yang dicarinya. “Kurang menantang,” kata dia.
Sore itu, Rully duduk di Coffee World Pacific Place, menceritakan perjalanan kariernya yang begitu dinamis dalam tiga tahun terakhir.
Tahun 2007 di Bank Permata, 2008 di Fortis dan sebelum memasuki 2009 dia sudah pindah lagi. Kali ini ke LG Indonesia. “Kira-kira pertengahan tahun (2008) saya ditelepon LG, ditawari, mau coba nggak. Awalnya saya merasa agak aneh, ini industri yang sama sekali baru bagi saya, tapi ya sudah saya niatin ketemu,” kenang dia.
Singkat cerita, Rully pun bergabung dengan perusahaan elektronika asal Korea Selatan itu sebagai Head of HR. Lagi-lagi, jika diminta mengenang, Rully akan bilang, “Awalnya kurang yakin.”
Apa yang membuatnya ragu?
“Budayanya beda, saya pikir perusahaan Korea pasti keras. Tapi, saya memang butuh tantangan,” papar dia.
Tentu saja, proses bergabungnya Rully ke LG tak sesederhana yang diceritakannya. “Cuku panjang, harus menghadapi interview regional HR Head dari Singapura, habis itu tiga bulan nggak ada kabar,” kisah dia.
Sampai akhirnya Rully dihubungi lagi, dan resmi bergabung dengan LG Indonesia pada Desember 2008.
Dua tahun di LG, pria kelahiran Jakarta, 21 Juni 1969 yang mengantongi gelar MBA dari Southeastern Louisiana University, Hammond, AS itu langsung menunjukkan prestasi yang mencorong. “Sekarang LG Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Pasific dalam kategori LG Way Indeks, itu adalah indeks mengenai karyawan LG,” papar dia.
Memangnya, apa saja yang dilakukannya? “Memperbaiki policy, culture, sistem dan leadership,” kata dia. Dengan 4600 karyawan tetap ditambah 2400 karyawan outsource, sebagai orang baru yang langsung melakukan perbaikan, Rully sadar dirinya tak luput dari berbagai risiko.
“Saya pegang tiga lokasi, terdiri dua pabrik dan satu marketing office. Tantangan tentu ada dan banyak, tapi alhamdulillah semua bisa saya lalui dengan smooth. Walau tadinya cukup khawatir dengan union-nya, ternyata mereka kooperatif walau ada dinamika, itu tak terhindarkan, yang penting komunikasi,” ujar dia.
Menurut Rully, tuntutan terbesar karyawan industri teknologi macam LG tak jauh beda dengan karyawan umumnya, yang tak luput dari isu kesejahteraan. Tapi, lebih dari itu, hal-hal seperti pengembangan diri juga penting untuk diperhatikan. Sejauh ini, kalau angka turn over menjadi ukurannya, maka Rully boleh bernafas lega sambil berkata, “Masih aman.”
Jadi, apalagi sekarang tantangannya? “Tentu perjalanan masih panjang, masih banyak yang perlu terus di-improve, termasuk kemampuan diri saya sendiri,” katanya seraya mengaku bahwa LG telah memberikan pengalaman yang luar biasa kepadanya sebagai seorang praktisi HR.
Sarjana Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran Bandung itu mengawali kariernya di Hay Management Consultants Indonesia. Setelah itu, kariernya terus melesat melewati berbagai posisi dan perusahaan, dari Human Resources & Corporate Affairs di Coca-cola (Januari 2005 – Maret 2006), Human Resources & General Affair General Head di New York Life (September 2001 – Juni 2003) hingga Corporate Compensation & Benefit Manager (September 2000 – September 2001) di Susu Bendera.
Ditanya mengenai rencana ke depan, Rully memaparkan, “Menunggu kesempatan kalau ada BUMN…saya ngerasa dengan beberapa perusahaan yang saya lewati kemarin, saya punya bekal banyak untuk membangun SDM Indonesia, meningkatkan kemampuan atau daya saing SDM di BUMN.”
Disinggung mengenai rahasia suksesnya sebagai praktisi HR, menurut Rully, seorang pimpinan HR harus memiliki pemahaman terhadap apa yang menjadi kekuatan SDM di suatu perusahaan. “Dari situ kita bisa memetakan area-area yang perlu di-improve. Untuk bisa melakukan itu, kita perlu bekal knowledge, kemampuan mengalisisi kebutuhan, lalu eksekusi. Dan, semua itu butuh leadership, tanpa itu nggak bisa jalan,” tandas dia.