Budi W Soetjipto: Pelopor Benchmarking HR di Indonesia

Kelak, masyarakat HR di Indonesia akan berterima kasih pada Budi W Soetjipto. Berkat inisiatif dialah, dunia bisnis kini memiliki benchmarking untuk praktik manajemen SDM yang bagus. Lewat ajang bernama HR Excellence yang digagasnya, kini masyarkat jadi punya cermin ketika ingin mengetahui, perusahaan manakah di negeri ini yang pengelolaan SDM-nya bisa dijadikan contoh dan patut untuk ditiru.

Sehari-hari, Pak Budi –demikian sapaan akrab pria yang lahir 3 Agustus 1966 ini berkantor di Kampus Fakultas Ekonomi UI Salemba, tempat dia menjabat sebagai Direktur Pengelola Lembaga Manajemen (LM). Dengan posisinya sebagai orang nomor satu di lembaga tersebut, ia leluasa membuat banyak “gerakan” yang beorientasi pada peningkatan kualitas SDM.
HR Excellence hanyalah salah satu dari wujud kepedulian Pak Budi yang tinggi pada dunia HR. Lainnya, berupa learning forum yang digelar sebulan sekali, dengan mengundang praktisi-praktisi HR yang tangguh sebagai narasumber. Maklum, Pak Budi termasuk salah satu pendiri Human Resource Indonesia (HRI), lembaga di balik forum tersebut. Bulan ini jatuh pada 24 Maret HRI Learning Forum akan menampilkan manajemen PT Dirgantara Indonesia untuk sharing tentang “manajemen PHK”.
Di ajang tersebut, Pak Budi tak segan “turun tangan” sendiri, mengurusi segala tetek-bengek operasional, menyapa para peserta sekaligus menjadi moderator. Dan, mulai bulan ini, kesibukannya akan makin bertambah karena HR Excellence 2007 akan segera bergulir kembali. “Kita jadwalkan, awal April ini formulirnya sudah muncul di SWA,” jelas dia menyebut majalah ekonomi dan bisnis yang menjadi media partner HR Excellence.
Diungkapkan, pada pergelaran perdana tahun lalu, HR Excellence langsung berhasil menarik perhatian 50 perusahaan. Tentu, Pak Budi tak lantas langsung bangga dan membusungkan dada. “Bank-bank besar banyak yang belum ikut, juga perusahaan farmasi dan rokok,” kata dia. Namun, dia tetap punya cukup alasan untuk optimis karena keikutsertaan perusahaan besar dalam HR Excellence 2006 bukannya kosong sama sekali. Pak Budi menyebut sejumlah nama, seperti BCA, Sampoerna, Multi Bintang dan Bakri.
Diakui, sebagai ajang yang baru pertama digelar, HR Excellence masih banyak mengandung kekurangan. “Dalam rapat awal tempo hari, kita sepakat untuk melakukan perbaikan-perbaikan dari feedback yang lalu,” ungkap Pak Budi seraya menyebut, kekurangan utama penyelenggaraan tahun lalu berkaitan dengan sistemnya.
“Perusahaan peserta mengisi sendiri kuesioner yang kita berikan, lalu kita verifikasi untuk memilih 15 yang terbaik untuk kita kunjungi. Dalam kunjungan itu, kita bagikan kuesioner lagi, kali ini yang mengisi kalangan non-HR. Kita minta 10 orang level manajer dan 10 level staf. Nah, untuk tahun ini kita pertimbangkan, apa nggak kurang tuh 10-10, gimana kalau 15-15. Itu perbaikan pertama, di samping perlunya perbaikan administrasi, pendanaan,” papar Pak Budi.
***
Senang berorganisasi sejak kuliah di Fakultas Ekonomi UI merupakan awal ketertarikannya pada isu-isu SDM. Sejak S-1 itu pula, Budi langsung mengambil spesialisasi studi tentang manajemen SDM. Demikian juga ketika ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3 –keduanya di Cleveland State University, AS– Budi lagi-lagi memilih untuk menekuni bidang yang sama, tepatnya <I>Manajemen and Labor Relations.
Sebelum melanjutkan studi S2, Budi sempat mengajar di almamaternya selama dua tahun. Kini, selain masih tetap mengajar baik di S1, Magister Management, maupun S3, kedudukannya di LM FEUI memperluas cakupan profesionalnya ke wilayah praktis, yakni konsultan. “LM itu memang perusahaan, tepatnya perusahaan konsultasi, ini komersil dengan kedudukan tetap di bawah dekan,” jelas Pemimpin Umum Majalah Manajemen Usawahan Indonesia yang hobi traveling dan menulis itu.
Sebagai perusahaan konsultan, LM memberikan jasa konsultasi dalam cakupan bidang yang luas, dari pembenaan SDM, marketing, keuangan sampai manajemen strategis. Selain itu, LM juga melayani permintaan training dan assessment. “Mengajar, memberi konsultasi, semua itu kesenangan saya karena ketemu banyak orang, selain memberi banyak pengalaman,” ujar tenaga ahli Dewan Komisaris PLN yang telah membantu banyak perusahaan, baik swasta maupun pemerintah itu. Saat ini, Budi bersama LM-nya tengah membantu membenahi sistem SDM di lingkungan Polri.
Dari berbagai pengalaman di lapangan itu, Budi melihat bahwa masalah SDM paling umum yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia masih terfokus pada sistem. “Sampai sekarang saya melihat masih banyak perusahaan belum memiliki sistem yang mengatur SDM dengan baik. Sekarang sudah bergerak ke sistem penggajian, penilaian kinerja, sistem karir dan belakangan muncul juga competency-based HR kebanyakan arahnya ke sana, ke sistem.”
Budi juga melihat, fungsi departemen SDM itu sendiri, paradigmanya, selama ini masih ditempatkan sebagai personalia, dan belum difungsikan secara strategis. “Strategis itu artinya bahwa sebenarnya mereka itu HR leader.” Budi tahu benar bahwa belakangan ini, publik HR di Tanah Air ramai membicarakan mengenai peran strategis HR tersebut. Namun, dalam amatannya, kenyataan di lapangan masih belum “seramai” itu. “Implementasinya belum, kita masih bicara dalam tataran sistem,” tambah dia.
Menurut Budi, kondisi HR saat ini merupakan warisan lama, yang menganggap SDM sebagai alat, sehingga tidak dikembangkan. “SDM dilihat sebagai biaya, bukan investasi. Kalau ada yang mau ikut training, nggak usahlah kemahalan.” Dengan gambaran seperti itu, Pak Budi menyarankan agar orang HR memberi pengertian kepada pimpinan perusahaan. Tapi, diingatkan, “Supaya bisa meyakinkan CEO, (orang SDM-nya) harus berkualitas juga. Ini kayak telur sama ayam; SDM butuh pengakuan tapi untuk itu dia harus punya kemampuan.”