Budi Sulistyo: Menuju Kepemimpinan HR yang Mumpuni

Kalau Anda masih berkeyakinan bahwa seorang pemimpin HR harus membangun kewibawaan dari sikap formal, kaku dan bahkan galak, maaf, lebih baik Anda tak usah kenal dengan Budi Sulistyo. Direktur HR PT Pluit Propertindo ini barangkali lebih cocok menjadi seniman ketimbang orang yang duduk di belakang meja untuk mengelola karyawan di sebuah perusahaan. Tapi, siapa bilang manajemen HR itu bukan seni? Dan pria kelahiran Yogyakarta, 15 Agustus ini menunjukkan bahwa menduduki jabatan pimpinan HR bukanlah sekedar berurusan dengan rekrut-merekrut orang, mengembangkannya serta kapan dan bagaimana menaikkan gaji karyawan. Melainkan, lebih dari itu, harus bisa menjadi teladan, dan siap menjadi tempat bagi karyawan untuk “mengadu”.
“Saya datang paling pagi, menyiapkan semua sendiri tanpa sekretaris, semua saya kerjakan sendiri. Pintu ruangan saya selalu terbuka untuk masalah-masalah non kantor. Ada yang datang mengeluh kesulitan soal uang, saya nggak akan kasih dia uang tapi saya kasih pemecahannya. Ada lagi yang mau kawin, bingung gimana caranya ngelamar, ya udah saya lamarin, gampang kok.”
Ditemui di kantornya di Kawasan CDB Pluit, Jakarta Utara pada suatu pagi, Budi tampak kasual dan santai dengan kemeja putih garis-garis yang digulung lengannya. Sambil ngobrol, ia bisa tidak sadar terus mengulung lengan bajunya sampai ke atas siku. Gaya bicaranya blak-blakan, setiap pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dikomentari dulu dengan satu-dua kalimat bernada canda, baru kemudian mulai serius menjawab. Kadang, ia tertawa geli mendengar pertanyaan yang diajukan, dan secara spontan mengeluarkan celetukan, misalnya “pertanyaannya serem amat!” Namun, tiba-tiba ia bisa menjadi sangat tertutup ketika disinggung hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya. Ketika ditanya soal latar belakang pendidikan misalnya, ia menyahut cepat, “Nggak usah deh.”
Tertutup mungkin bukan kata yang tepat untuk menilai pria berambut agak gondrong tersebut. Kerendahan hati yang dijaganya, agaknya telah membuat ia tak ingin terkesan pamer atau arogan di mata orang lain. “Kuliah saya banyak soalnya, malu saya. S-1 ada beberapa, S-2 juga beberapa, yang jelas semuanya selesai dan saya kuasai dengan manis dan saya tempuh di universitas yang nggak jelek.”
Lalu, dia bercerita. “Dulu, saya sekolah engineering, dimarahi terus karena kalau bikin laporan keuangan salah memulu. Ya sudah, saya sekolah keuangan. Selesai, saya justru disuruh menggantikan orang keuangan. Dari situ, lalu ada tuntutan untuk mengambil S-2 Keuangan Internasional, lalu ada kesempatan lagi sekolah tentang perkotaan…yang jelas dari semua ilmu yang saya dapat, intinya ada tiga, pertama orang itu harus berjalan lurus, kedua, dapatkan atau cari informasi yang benar, ketiga, jangan lupa ibadah.”
***
Budi mengawali kariernya di bidang properti, dan telah berpindah-pindah di beberapa perusahaan dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Keuangan, sebelum kemudian bergabung dengan perusahaan yang sekarang sebagai Direktur HR dua tahun lalu. “Ini untuk pertama kalinya saya full di HR, dan awalnya saya merasa kiamat, buangan.Tapi setelah saya masuk, lho kok semua bisa saya pahami dengan baik. Saya jadi berubah pikiran, merasa sudah masuk surga. Saya kira saya di neraka.”
PT Pluit Propertindo didirikan oleh dua pemegang saham, masing-masing PT Griya Emas Sejati dan PT Jakarta Propertindo dengan tugas pertama membuat dan mengelola Emporium Pluit, sebuah mall yang kini tengah dikejar penyelesaiannya. Sebagai pemimpin HR di sebuah perusahaan baru, Budi harus memulai segalanya dari nol. Tanggung jawabnya tak lain menyiapkan orang-orang yang tepat agar proyek tersebut selesai tepat waktu. Apa yang dilakukannya pertama kali? “Saya tanya ke CEO, strateginya mau gimana. Dia menjelaskan soal batas waktu, target pengunjungnya dan kelas tenant-nya. Posisi kita di pintu gerbang Jakarta, kalau bisa orang-orang yang masuk dari Cengkareng dan Tanjung Priok pertama kali melihat mall kita. Jadi, saya perlu orang berkelas untuk mengerjakannya.”
Dalam idelalisasi Budi, orang berkelas yang dimaksud, pertama, punya dedikasi atas profesi, kedua, punya visi untuk mewujudkan yang terbaik yang bisa dia persembahkan, ketiga, mau bekerja all out dan keempat, harus selalu ingat Yang Maha Kuasa. Untuk mendapatkan kriteria tenaga kerja seperti yang diharapkan itu, diakuinya tidak gampang. Oleh karenanya Budi menempuh berbagai jalur, dari pasang iklan di koran dan lembaga rekrutmen online hingga pendekatan tertentu untuk level pemimpin. “Orang-orang yang saya dengar punya kemampuan dan jam terbang tinggi, saya dekati untuk diajak bergabung. Orang HR harus punya pendengaran yang bagus.” Intinya, sebagai pemimpin HR, Budi harus bisa meyakinkan CEO bahwa dirinya merekrut orang yang tepat.
Budi memang belum bisa mengklaim bahwa usahanya tersebut telah sampai pada satu kata akhir: sukses. Namun, setidaknya ia bisa mengatakan, “Sejauh ini, kita masih on track.” Semua itu didukung oleh latar belakang Budi yang memang seorang engineer, yang tak asing dengan seluk-beluk proyek bangunan. Dari pergulatannya selama dua tahun terakhir dengan masalah SDM, Budi sampai pada kesimpulan bahwa menjadi orang HR, terutama yang berasal dari non-HR, pertama kali bukanlah soal mengerti atau tidak ilmunya, melainkan, “Saya harus memberikan the best people untuk the best result, itu yang harus saya pahami. Bukan metode kerja untuk menyelesaikan proyek, tapi menyediakan orang yang punya metode kerja tepat dan hasilnya bagus.”
***
Budi memang punya segalanya yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin HR yang ideal. Kalau secara praktis sering dikatakan, bahwa orang HR harus mengerti bisnis dan keuangan, maka Budilah orangnya. Dari sisi ini, dia merasa bahwa HR selama ini telah banyak disalahpahami. “Saya lebih paham keuangan. Dengan memahami ilmu HR, saya melihat ada satu paradigma yang terbaik. Selama ini orang HR dianggap kelas tiga, tapi setelah saya pahami, ternyata 99,99 persen perusahaan itu sakit karena HR-nya, yang salah membuat keputusan, salah merekrut orang, salah membangun metode kerja dan sebagainya.”
Syukurlah, menurut Budi, sekarang banyak CEO yang sudah memahami dengan baik peran penting HR, termasuk CEO di perusahaan tempat dia bekerja saat ini, yang melibatkan dirinya sejak awal dalam berbagai proses pengambilan keputusan. “Persaingan dalam bisnis properti saat ini begitu sengit, sehingga perlu analisis tentang lokasi mana yang cocok untuk membangun apa. Membangun mall di tengah dan pinggir kota berbeda, dan itu berpengaruh pada orang-orang yang bagaimana yang harus mengerjakannya. HR harus dilibatkan sejak awal ide, kalau enggak repot, bisa salah policy.”
Bagi Budi, menjadi mitra-strategis saja tidak cukup. “Bagi saya, HR bukan sekedar mitra strategis, tapi pelaku agar perusahaan sampai pada visi dan misinya. Perusahaan kan kumpulan orang, bukan sekedar kumpulan saham, jadi apa pun strategi yang dibuat perusahaan, tanpa adanya HR yang kapabel untuk melaksanakan strategi itu, hasilnya nol, pasti salah.”
Dengan jumlah karyawan sekitar 75 orang, Budi mengedepankan konsep organisasi HR yang kecil, dengan out put yang besar. “Saya hanya memiliki tiga orang plus satu asisten. Di bawah saya ada manajer HR yang membawahi dua supervisor masing-masing untuk rekrutmen serta training&development.” Ia pernah diprotes gara-gara menaikkan gaji karyawan. Lho, kok bisa? Dia menaikkan gaji dengan syarat agar peraturan ditegakkan: harus datang tepat waktu, kerja dengan benar, tunduk pada aturan, menjalankan perintah atasan. “Rupanya itu sesuatu yang buruk buat mereka, lebih menakutkan daripada naik gaji ha ha ha.”
***
Mengaku hobi makan asal bukan di restauran, Budi punya cerita yang tak ada habisnya mengenai makanan-makanan enak di berbagai daerah di Nusantara. Ia baru saja pergi ke Madura dan menikmati apa yang dinamakan nasi serpang dan sate klopo ondomohen. Kalau Anda bertemu atau berkenalan dengannya, sebut saja nama daerah asal Anda dan dia akan membuat Anda malu karena jauh lebih tahu mengenai tempat-tempat makan yang enak di kota kelahiran Anda sendiri. Budi juga mengoleksi baju batik dari berbagai daerah. Sebagai orang Jawa, ia mengidolakan tokoh wayang, namun tidak seperti umumnya orang Jawa yang mengagumi para ksatria, ia justru lebih memilih untuk belajar dari kearifan Hanoman Sang Kera Putih. Dia bicara tentang begitu banyak hal, dari kualitas SDM Indonesia hingga sistem pendidikan yang tidak mendukung lahirnya tenaga-tenaga kerja terampil, dari falsafah hidup Jawa yang dia pelajari dari ibunya hingga mengapa Mahapahit dulu sukses membangun kejayaan dan kemakmuran rakyatnya.
Dan, tentu saja, tentang kegelisahan-kegelisahan kecilnya pada banyak hal yang secara umum melekat pada karakteristik sumber daya manusia Indonesia. “Saya nggak bisa ngomong banyak ya, tapi jujur saja, banyak yang munafik.” Lalu, dia membuat perbandingan dengan orang Jepang, dimana pimpinan dan bawahan bisa makan bersama-sama, di tempat yang sama, dengan porsi yang sama. “Kalau kita apa bisa? Belum tentu. Saya terbiasa kayak gitu. Saya terbiasa mengedepankan hati, bukan sekedar basa-basi, tidak hanya dalam soal tempat makan tadi, tapi juga dalam berpakaian. Misalnya harus pakai jas, safari, dasi…saya tak bisa pahami kalau ada orang membangun kewibawaan dari pakaian, ditambah ngomong Inggris yang sok tahu-sok tahu tapi kadang salah-salah, lagi! Intinya, orang HR itu harus membumi, kenal, bergaul dan bisa memecahkan semua masalah karyawan termasuk kalau ada yang mau cerai atau kawin lagi he he he…jadi bukan soal pakai dasi.”
Dengan segala pandangannya itu, bukan berarti Budi menolak mentah-mentah formalitas. “Saya hanya akan bersikap formal ketika harus membuat keputusan yang mengandung risiko hukum, misalnya memecat orang.maksud saya begini ya, yang ada di HR itu mesti orang yang mumpuni dan saya mengarah ke  itu. Saya ngerti keungan dan paham orang keuangan itu seperti apa. Saya ngerti proyek dan marketing sehingga paham orang-orang seperti apa yang dibutuhkan untuk itu. Saya legal, yang memerlukan orang-orang yang bisa menyimpan rahasia. Kalau dalam dunia sepak bola ada yang namanya pemain tengah atau gelandang. Itu orang HR. Dia harus tahu persisi semuanya, satu yang tidak boleh, yakni menjadi kiper. Orang HR tak boleh membuat laporan keuangan. Apa lagi, Mas? Aku ngomong udah nggak karu-karuan.”