Budi Putra: Manuver Seorang Blogger

Yang akan berhasil bukan orang yang besar, tapi yang cepat. Harus mulai dari sekarang.

Pernahkah terbayangkan sebelumnya bahwa pada tahun 2007 ini di Indonesia yang terkenal dengan angka penganggurannya yang tinggi, muncul sebuah profesi baru bernama fulltime blogger? Dan, pria kelahiran Payakumbuh, 12 September 1972 ini bolehlah dianggap sebagai pioner. “Sejauh yang bisa diamati dan mendapat coverage media di mana-mana, itu saya (yang pertama). Nggak tahu kalau ada yang nggak mengungkapkan diri,” ujar dia merendah.

Bagaimana rasanya memilih sebuah profesi yang belum ada contohnya sebelumnya, ditambah lagi dalam situasi ketika blog masih dianggap sebagai “barang mainan”? Orang bilang, batas antara berani dan nekad itu tipis. Namun, tampaknya, pada sisi ini, Budi Putra memang patut diacungi jempol karena langkah yang diambilnya tidak hanya telah membuka jalan, namun juga memberi inspirasi bagi banyak orang.

Atau, dalam bahasa Budi sendiri, “Saya sudah memberikan sebuah manuver bahwa ini bisa digarap serius dan menghasilkan uang.” Dan, itu jauh lebih bermakna sekaligus melampaui segala hal yang bisa dicakup oleh kata ‘berani’, atau ‘nekad’ atau apapun tadi. Sebab, betapa pun, Budi telah mempertaruhkan banyak hal untuk pilihannya itu, terutama tentu saja karir dia sebelumnya yang sudah mapan sebagai redaktur desk IT di Koran Tempo.

“Saya sudah punya perhitungan. Saya tak mau bunuh diri mengorbankan pekerjaan yang sudah sangat mapan untuk masuk ke suatu bidang yang belum jelas. Saya sudah berhitung dan dalam hitung-hitungan saya (menjadi fulltime blogger) lebih baik.”

“Di Eropa atau Amerika, blogger sudah jadi profesi, tidak sekedar sambilan. Artinya, ini sebuah peluang, kesempatan, media baru yang bisa berkembang serius dan cepat, tinggal kita mengantisipasinya. Di Asia, sudah jalan tapi masih sangat sedikit. Saya sudah melakoni blogger sambilan pada 2001, dan sejak 2004 serius dan memutuskan untuk benar-benar memastikan jadi blogger, dalam arti bersedia mengorbankan pekerjaan tetap.”

Menurut Budi, untuk mengelola blog dengan serius, dibutuhkan waktu yang banyak untuk riset, jalan-jalan, ketemu orang, agar isi atau tulisan yang disajikan bagus. Sehingga, tak bisa hanya dilakukan sebagai sambilan. “Di tempat kerja saya betul-betul sibuk, jadi lebih baik mundur dan memulai profesi baru sebagai fulltime blogger.”

Bagaimana tanggapan orang sejauh ini? “Banyak yang tertarik. Sudah banyak yang bertanya-tanya…mungkin mereka harus mencari momentum yang tepat.”

Namun, kalau Anda tertarik, sebelum menemukan momentum tersebut, sebaiknya kenali dulu teorinya. Dalam menjalankan “bisnis” blog, papar Budi, ada setidaknya tiga model yang bisa dipakai. Pertama, mencari pemasang iklan. (“Ini baru akan efektif kalau konten kita bagus.”) Kedua, menulis untuk blog-(blog) luar negeri. (“Honornya besar sekali.”) Ketiga, memberikan konsultasi kepada orang atau perusahaan untuk mengembangkan dan mengelola blog mereka.

“Saya ambil model yang kedua, karena core saya penulis,” terang lulusan Jurusan Sejarah Universitas Andalas Padang yang kini antara lain menulis untuk The Jakarta Post itu. Selain menjadi kontributor untuk media lain, sebagai –katakanlah– personal blogger, Budi Putra kini mengelola sejumlah blog, yakni Tukang IT – CNET Asia, The Asia Tech, 3GWeek dan theGadget. Dari nama-namanya, bisa ditebak, semuanya tentang teknologi informasi. Di luar yang personal itu?

“Saya mendirikan Asia Blogging Network,” ujar dia menyebutkan perusahaan tempat dia kini menduduki kursi CEO. Ini merupakan sebuah jaringan media global, yang mengumpulkan para blogger, utamanya dari Asia, untuk menulis beragam topik dari film, musik, kuliner hingga teknologi. “Ini merupakan langkah awal untuk mengumpulkan komunitas. Sekarang ada 70 blog, satu blog sehari rata-rata dibuka 1000 orang.”

Anda suka ngeblog dan tertarik bergabung? “Syaratnya hobi nulis dan mau ngeblog dalam tema khusus. Saya ingin orang ngeblog by passion, dengan penuh cinta, dengan topik yang dia sukai.”

Untuk bergabung dengan Asia Blogging Network, Anda tak harus seorang fulltime blogger. Tapi, “Tiga kali seminggu harus posting, kontrak tiga bulan, harus produktif.” Imbalannya? “Ada honor bulanan, dan yang sudah bergabung selama setahun mendapat opsi bagi hasil dari laba usaha. Ini serius, bukan ecek-ecek.”

Nah, sampai di sini, Anda mungkin tidak hanya tertarik tapi sekaligus mulai mengangguk-anggukkan kepada sambil berkata dalam hati, “Hmmm…benar-benar sebuah (profesi) alternatif.” Dan, Anda benar. “Ini hanya…bedanya selama ini orang yang ingin jadi penulis ruangnya terbatas, belum kalau ditolak. Sekarang, tak ada lagi halangan, karena user generated content, banyak penulis muncul dari blog. Selama ini mereka nggak ada, atau males nulis di media mainstream, harus sesuai keinginan redaktur. Sekali lagi ini peluang, kesempatan dan potensi yang layak dikembangkan.”

Baiklah, ini memang tidak main-main. Tapi, ngomong-ngomong, berapa modalnya untuk mendirikan Asia Blogging Network tersebut? “Saya kira sama besarnya dengan orang bikin portal umumnya. Yang jelas, ini soal kredibilitas, soal trust…orang percaya saya. Saya mau bikin apa saja, sejauh terkait dengan blog, orang percaya (untuk menanamkan modalnya). Saya selalu yakin yang penting networking. Saya begitu launching, diberitakan di mana-mana, itu kenapa? Jaringan. Asian Blogging diririkan oleh Budi Putra, nah orang percaya Budi Putranya ini. Ketika saya berhenti dari Tempo, dalam hitungan menit saya bisa macem-macem, bikin apa saja orang support.”

Memang, tak ada yang samar-samar kalau bicara dengan mahasiswa S-2 Manajemen Komunikasi UI, penulis sejumlah buku dan peraih berbagai penghargaan menulis bidang teknologi ini. Rasa percaya dirinya yang tinggi, ditambah jiwa yang optimis, terpancar lewat pernyataan-pernyataannya yang lugas dan blak-blakan. Mengaku seumur hidup tak pernah mengirimkan lamaran pekerjaan, begitu lulus S-1 pada 1996 Budi langsung magang sebagai wartawan di Jepang. Di sinilah, ketertarikannya pada bidang IT tumbuh. Kala itu, internet sudah sangat berkembang di sana. Pada 2001, ia bergabung dengan Koran Tempo, menangani berita teknologi.

Sekarang, dia adalah seorang founder dan CEO dari sebuah perusahaan media baru. Apa kesibukannya? “Ketemu orang, sparing partner, memberi pelatihan blogging, ngantor tergantung kebutuhan saja.” Asian Blogging berkantor di Kebun Sirih. Sejauh ini, kata dia, berjalan bagus, setidaknya di atas prinsip yang dipegangnya, yakni “lebih baik mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil daripada melanjutkan sesuatu yang kita rasa gagal”. “Saya sih nggak merasa gagal di Tempo, tapi mentok aja. Actually senang di sana, kerja dengan standar tinggi dan banyak orang yang bagus. Tapi saya tak mungkin menghabiskan umur saya di situ karena saya tak merasa…antusias, excited.”

Sekarang, Budi Putra bisa bilang bahwa setiap hari adalah hari libur. Tentu saja. Ia kini lebih banyak jalan-jalan, bertemu para blogger, daripada pergi ke kantor. Kedengarannya sangat menyenangkan, tapi sebenarnya lebih dari itu, di baliknya tersimpan visi seorang pimpinan perusahaan mengenai manajemen HR. “Kita harus masuk ke zaman yang baru, setor muka sudah nggak relevan lagi, yang penting kerjaan selesai. Ke kantor buat nggosip aja, sekali seminggu, untuk ketemu teman aja, bukan untuk meeting. Bagaimana mungkin orang menghabiskan waktu dari Bekasi ke Kebun Sirih? Dua jam itu di rumah bisa sangat produktif, waktu terasa lebih efisien dan berharga.”

“Sekarang (di Asian Blogging) yang betul-betul organik baru finance dan staf kantor. Ke depan akan cari AE dan IT officer. Nanti akan saya berlakukan seperti itu, absen itu nggak penting, yang penting ouput-nya, saya sudah kesal melihat sistem orang harus gesek kartu, padahal bisa saja orang masuk kantor tapi tak mengerjakan apa-apa, chatting. Lebih baik dia maunya apa, output jelas, perform…dengan demikian kita juga tak perlu sewa kantor mahal-mahal, mending gaji karyawan digedein. Kerja di rumah lebih sehat karena tidak capek, bersama keluarga terus, jadi kinerja meningkat. Tinggal kita sepakati, kan ada itu KPI, semua bisa diukur, bukan absennya.”

Cukup jelas semuanya. Sekarang tinggal, apa tips buat blogger pemula yang ingin serius?

“Harus memilih track, positioning, Anda mau jadi penulis (bidang) apa? Itu yang saya bina dari awal. Jadi, orang tak kesulitan mengidentifikasi siapa kita. Lalu, banyaklah membaca. Seorang penulis, termasuk blogger, harus lebih banyak membaca daripada ngeblog-nya. Makin banyak membaca, kualitas posting kita di blog akan semakin bermutu. Dan, teruslah menulis. Mungkin teknologi user generated content masa depan tak hanya blog, tapi tetap saja yang dibutuhkan menulis. Belajarlah menulis sekarang, masa depan di tangan Anda. Soal tampilan atau desain, bisa (dipelajari) sambil jalan.”