Betti Alisjahbana: Saya Ingin Menjadi Angel Investor

Betti Alisjahbana tertawa ketika ditanya perasaannya setelah lengser dari jabatan Presiden Direktur IBM Indonesia yang diembannya selama 8 tahun. Sore itu, tiga hari setelah resmi mengundurkan diri, ia duduk di kantor barunya di Jalan Antasari, Jakarta Selatan, anggun dan cantik dalam balutan blaser pink, ceria dan penuh semangat. Ia banyak tertawa. Seperti ada beban berat yang baru saja lepas dari pundaknya. “Selama 6 bulan saya berpikir keras, termasuk pergi ke Tanah Suci untuk salat di sana mohon petunjuk, dan ketika keputusan itu akhirnya diambil, saya senang dan bisa merasakan energi saya jadi banyak,” tutur dia.
Memang tidak mudah bagi Betti untuk meninggalkan perusahaan yang membesarkan namanya. “Saya sangat cinta dan mengangumi IBM. Setengah umur saya ada di sini, ini bagian dari hidup saya, Apalagi kesempatan yang diberikan kepada saya bagus.” Ia sebenarnya dipromosikan untuk jabatan tingkat regional. Tapi, Betti merasa, 23,5 tahun sudah cukup, dan saatnya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Dengan bekal pengalamannya berkarir di perusahaan terbaik di dunia, ia berkata pada dirinya sendiri, bahwa kini saatnya berbagi ke sebanyak mungkin orang. “Saya ingin menjadi angle investor, batu lompatan bagi para entrepreneur muda.”
QB Creative yang didirikannya akan menjadi kendaraan untuk mewujudkan misi mulia itu, berikut mimpi-mimpi lain yang tertunda. “Dulu waktu masuk IBM saya tidak ingin lama-lama, karena saya arsitek. Saya ingin belajar manajemennya saja sebentar. Tapi, karena tantangan demi tantangan, penugasan demi penugasan, pengembangan diri demi pengembangan diri diberikan, akhirnya sampai 23 tahun lebih,” kenang dia seraya menambahkan cerita, beberapa teman seangkatannya yang sudah berkarir di tempat lain sering meledeknya sebagai “murid yang tidak lulus-lulus.”
IBM memang ibarat sekolahan bagi para profesional, dan kini Betti akhirnya bisa menunjukkan bahwa dirinya bukanlah “mahasiswa abadi” di sekolah itu. Namun, setelah “lulus” pun ia tak lantas bersantai-santai. Selain karena memang tipenya yang pekerja keras, Betti juga percaya pada “momentum”. Oleh karenanya, tak terpikir olehnya untuk sekedar, misalnya, berlibur dulu barang sejenak. “Nanti momennya hilang,” kata dia. Maka, inilah yang terjadi: 1 April ia resmi keluar dari IBM, tanggal 2-nya sudah memimpin rapat di perusahaan baru yang dipimpinnya. Di bawah bendera PT Quantum Business Internasional, QB Creative direncanakan akan mewadahi beberapa bidang usaha, yang sesuai namanya, bertumpu pada modal intelektual dan kreativitas. “Saya melihat industri kreatif sangat potensial untuk Indonesia,” ujar dia.
Betti tahu benar bagaimana membangun bisnis di era sekarang ini. Ia memulainya dari media, dengan meluncurkan portal QB Headlines yang diharapkannya bisa menjadi titik awal untuk membangun komunitas. Lewat media online tersebut, Betti menulis artikel, menjawab pertanyaan dan memberikan tips serta gambaran umum mengenai masalah-masalah karir dan pasar dunia usaha. Selain itu, lewat media tersebut, Betti bermaksud mendorong anak-anak muda untuk menjadi pengusaha. “Saya sendiri sudah cukup lama aktif berinvestasi dan mempengaruhi anak-anak muda untuk tak menghabiskan gaji mereka, melainkan mengalokasikannya 30% untuk investasi.” Anak-anak muda seperti itulah, yang dalam bahasa Betti “progresif dan dinamis”, yang diharapkan akan membaca QB Headlines, hingga pada gilirannya membentuk satu komunitas yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. “Saya akan memberi dukungan kepada mereka berupa modal, coaching dari segi penajaman business plan serta marketing dan operasional,” ujar Betti yang tidak hanya terdengar sebagai janji, namun juga undangan.
Selain QB Headlines, Betti juga menyiapkan QB Architec yang bergerak dalam jasa perancangan dan pengembangan perumahan unik yang simpel tapi kontemporer, indah tapi tetap ramah lingkungan. “Kalau ini sih lebih karena saya mencintai bidang itu. Ini mimpi lama saya sesui latar belakang pendidikan saya.”
Lahir di Bandung, 2 Agustus 1960, Betty Alisjahbana menyelesaikan pendidikan sarjannya di Jurusan Teknik Arsitektur ITB dan begitu lulus, ia langsung masuk IBM. Perjalanan karirnya menjadi salah satu kisah sukses yang banyak diliput media massa dan menjadi teladan bagi mereka yang ingin membangun kompetensi di jalur profesional. Lebih-lebih ketika pada 2000 ia diangkat sebagai presdir, banyak mata dari seluruh dunia tertuju padanya, karena dia merupakan perempuan pertama tidak hanya di Indonesia namun juga di level Asia Pasifik yang memimpin operasi IBM di suatu negara. “Saya inget waktu itu saya mendapat email dari banyak sekali wanita dari berbagai negara yang merasa lega karena,  akhirnya ada country chanell manajer (CGM) wanita. Saya berpikir, wah ini tanggung jawab besar. Saya harus membuktikan wanita juga bisa dipercaya untuk posisi penting, jangan sampai ini pertama dan terakhir.”
Tidak hanya berhasil membuktikan bahwa ia mampu, lebih dari itu Betti membukukan prestasi yang gemilang dengan keberhasilannya yang signifikan dalam mencapai pertumbuhan pendapatan, kepuasan pelanggan dan fokus yang tinggi pada peningkatan keahlian SDM langsung pada tahun pertama dia diangkat. Untuk itu ia mendapatkan anugerah Country General Manager Excellence Award yang diberikan pada 5 dari 160 CGM di seluruh dunia. Lebih dari itu, pengangkatan Betti kemudian menjadi preseden di tempat lain. “Setelah itu Singapura, Thailand dan Hongkong berturut-turut dipimpin perempuan,” kenang dia. Sebelum menduduki jabatan puncak, Betti telah mendapatkan serangkain promosi yang mengesankan, antara lain sebagai General Manager General Business untuk kawasan Asean dan Asia Pasifik (1996-1997) dan General Manager e-Business & Cross Industry Solutions untuk kawasan yang sama (1997- 1998).
Dari berbagai penugasan internasional tersebut, Betti banyak belajar terutama tentang kepemimpinan. Gaya leadership itu situasional, siapa yang kita pimpin butuh tipe kepemimpinan yang berbeda,” kata dia. Kini tantangan yang dihadapi Betti sudah tidak sama lagi. “Buat seorang yang biasa jadi pimpinan perusahaan besar, ketika tiba-tiba memulai dari kecil, tantangannya jadinya besar.” Betti mengaku excited. “Di IBM kerja keras, keluar saya pikir akan lebih santai, nggak tahunya malah lebih keras lagi. Karena ini baru, memulai dari awal dan mau tidur dipikirkan terus apa idenya.” Ada semacam perasaan gamang mungkin, menengok kembali masa gemilang yang telah tertinggal di belakang, dan gelisah, apakah masih bisa lebih hebat dari itu, atau setidaknya sama.
Betti menyeruput tehnya, terdiam sejenak, seolah merasakan harum cat baru ruang kerjanya. Foto kenang-kenangan semasa di IBM terpajang di atas meja, dan membuat bayangan masa silam makin menebal. “Harusnya bisa, tentu dalam kapasitas yang berbeda. Motivasi saya bukan hanya bisnis, yang saya lakukan sekarang ini, saya berprinsip harus ada unsur inovasinya, memanfaatkan teknologi maksimal dan bekerja sama dengan yang muda-muda. Saya ingin dalam prosesnya, membantu anak muda lebih sukses di kancah global. Perusahaannya nggak akan sebesar IBM, tapi kalau tiga prinsip tadi berhasil itu pencapaian yang lain.”
Di ujung kalimatnya, Betti kembali menyandarkan punggungnya ke belakang, dan menarik nafas lega. Lalu suasana menjadi semakin lebih santai ketika ia mulai bercerita tentang keluarganya. Ia mengaku merasa beruntung memiliki suami yang menganggap bahwa karir seorang perempuan yang berstatus istri sama pentingnya dengan karir laki-laki yang merupakan kepala rumah tangga. “Ini jauh lebih ringan dibandingkan kalau suami tradisional, kamu boleh berkarir tapi urusan rumah tangga kamu semua. Kami berbagi dalam hal pendidikan anak dan urusan rumah tangga.” Selain dukungan dari suami, Betti juga merasakan peran anak-anak sangat penting dalam mendorong sukses karirnya selama ini. “Kadang-kadang saya kagum sendiri anak-anak saya sudah tidak kecil lagi, pemikiran mereka dewasa, melihat banyak hal tidak dari kepentingan mereka sendiri, melainkan kepentingan bersama,” ungkap ibu dari dua orang anak tersebut (satu hampir lulus dari Monash University, Australia satu lagi masih SMU).
Sebagai, katakanlah, <role model yang mendapat banyak sorotan dari masyarakat maupun media massa, wanita yang gemar menyanyi, main piano, dan mendesain ini kerap mendapat godaan untuk masuk ke politik. Tapi, ia mengaku “sementara ini belum sreg”. “Setelah mempertimbangkan banyak hal saya merasa ingin tetap di jalur profesional, dan saya berusaha mempengaruhi dan berbagi pengalaman kepada sebantak mungkin orang, terutama yang muda-muda. Saya ingin memajukan Indonesia tidak lewat jalur politik, tapi profesional dan kegiatan-kegiatan sosial.” Salah satu yayasan yang ia pimpin, Yayasan ITB 79 antara lain mengurusi pendidikan anak jalanan. Betti juga duduk di Majelis Wali Amanah ITB dan Board of Trustees United States–Indonesia Societies (Usindo).
Dengan menekankan kualitas, menjunjung tinggi integritas dan menilai bahwa alokasi untuk pengembangan diri SDM itu wajib, Betti kini siap menjalankan roda bisnisnya sendiri. Semua sudah ia miliki, dari reputasi positif, rekam jejak yang baik, pengalaman hingga motivasi. Ia menghindari menghalalkan segala cara untuk berhasil, dan percaya pada nilai tambah, komitmen dan perbedaan individu. “Jabatan bisa sama, tapi siapa yang memegang hasilnya pasti ada bedanya bahwkan cakupan pekerjaan itu bisa berbeda.” Dan, satu lagi, motivasi. “Kepandaian dan keahlian bisa sama, tapi motivasi beda hasilnya akan beda.”
Menurut Betti, motivasi yang tinggi bisa dibangun dari kecintaan terhadap pekerjaan. “Cari cara agar pekerjaan kita bukan hanya pekerjaan. Saya sendiri selalu melihat big picture, punya mimpi, menaruh pekerjaan dalam konteks mimpi yang ingin saya capai.” Ibaratnya, sama-sama begadang, yang satu punya mimpi yang satu tidak, hasilnya akan berbeda. “Kalau hanya melihat itu semata pekerjaan, begadang hanya mendapat capek. Tapi, kalau punya mimpi, akan ada energi yang berlimpah-limpah.”