Babak Baru Karir Rully

Pastilah agak sulit mencari kaitan antara ilmu perikanan dengan jabatan Vice President (VP) – Head of Resourcing and Talent Management (HRTM) sebuah bank. Tapi, bagi Chairul Hamdani kedua hal itu tidaklah mustahil untuk bertemu. Sarjana Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran Bandung inilah yang sekarang menduduki kursi VP-HRTM Bank Permata. Sebagai satu di antara 9 VP di HRD, di pundaknyalah tanggung jawab pengelolaan atas 6000-an karyawan tetap dan 2000 karyawan outsource bank tersebut.

“Di perusahaan lain mungkin disebutnya rekrutmen,” kata dia. Posisi tersebut sejajar dengan CEO dan bertanggung jawab langsung kepada seorang direktur yang diangkat oleh RUPS.

Lalu, apa kesibukan sehari-hari seorang VP bidang rekrutmen di sebuah bank besar seperti Rully –demikian sapaan akrabnya?

“Untuk day to day activityIa, misalnya kebutuhan appoval untuk penambahan orang, perpanjangan kontrak outsource dan proses pencarian kandidat. Di luar yang harian itu, ya bikin laporan, pembuatan policy memberikan arahan-arahan,” papar dia.

Bagi Rully, bidang HR bukanlah area yang asing. Namun, ia mengakui, bidang rekrutmen merupakan “journey pertama saya”. Sebelumnya, ia telah menjabat sebagai Human Resources & Corporate Affairs di Coca-cola (Januari 2005 – Maret 2006), National Remuneration & Policy Manager di perusahaan yang sama (Juni 2003 – Januari 2005), Human Resources & General Affair General Head di New York Life (September 2001 – Juni 2003) dan Corporate Compensation & Benefit Manager (September 2000 – September 2001) di Susu Bendera.

Melihat perjalanan karir tersebut, tak diragukan bahwa Rully memang tak hanya bisa dibilang telah banyak berpengalaman, tapi juga memiliki kompetensi yang dibutuhkan di bidang manajemen SDM. Di samping, tak terhindarkan pula, pada saat yang bersamaan hal tersebut akan mudah mendatangkan kesan bahwa Rully seorang profesional kutu loncat.

“Saya memang belum menemukan tujuan akhir,” akunya. “Pengennya sih menjadi generalis di perusahaan gede,” sambung dia blak-blakan. Usianya yang masih tergolong relatif sangat muda untuk prestasi yang telah diraihnya sekarang, agaknya memang menjadi faktor yang paling memungkinkannya untuk terus bertualang. Hal itu didukung dengan kedekatannya pada kalangan headhunter.

“Saya pindah-pindah kerja selalu melalui jasa headhunter,” ungkap dia. Rully pun tak segan berbagi tips, bagaimana agar seorang profesional selalu dilirik oleh headhunter. “Intinya sih, bagaimana membuat diri kita visible, caranya bisa dengan menelpon mereka pihak headhunter secara reguler, atau menelpon rekan-rekan lama di HR. Yang terakhir ini penting untuk menjaga networking.”

****

Ketertarikan pria kelahiran Jakarta, 21 Juni 1969 ini pada dunia HR memang bukan datang secara tiba-tiba. Tempat kerja pertamanya, yang ia masuki setelah membawa pulang gelar MBA dari Southeastern Louisiana University, Hammond, AS (1996), yakni Hay Management Consultants Indonesia, merupakan pintu pertamanya. Di sinilah, sebagai konsultan (May 1997 – September 2000), ia mengawali perjumpaannya dengan isu-isu HR.

Kini, Rully sudah bisa mengatakan, bahwa berkarir di bidang HR sungguh menarik. “Berkecimpung dengan orang, bertemu pribadi-pribadi dengan karakter yang bermacam-macam, itu menarik sekali,” dia memperjelas. Tentu saja, di samping “sekedar” menarik, ada semacam idealisme yang menuntunnya untuk sampai pada keputusan, “Saya akan terus di SDM.”

Rully memiliki keprihatinan pada masih langkanya perhatian, terutama dari pemerintah, terhadap SDM. “Persoalan utamanya, baik itu dari pemerintah maupun perusahaan, sering menganggap HR bukan bagian utama dalam pemecahan suatu masalah. Bukan meletakkan dasarnya dulu, yakni pembenahan SDM, tapi menentukan targetnya dulu. Kalau pun sudah dilakukan, (pembenahan) itu hanya parsial.”

Dicontohkan, banyak perusahaan yang jor-joran meng-hire tenaga profesional dari luar, sementara suksesi di dalam justru dilupakan. “Dan, masih lebih banyak lagi faktor-faktor peningkatan SDM yang dilupakan, misalnya training, rotasi,” tambah dia.

Khusus untuk pemerintah, Rully punya sorotan yang lebih tajam. “Pemerintah masih terlalu general, sehingga penerjemahannya ke bawah dalam bentuk policy sering berbeda interpretasi. Pemerintah dari tahun ke tahun selalu bilang, SDM harus ditingkatkan, tapi sering yang terlihat, misalnya dari kebijakan Menaker-nya, hanya bagaimana pemenuhan kesejahteraan buruhnya, tingkat pengawasan perburuhan…nggak ada yang langsung ke usaha meningkatkan SDM-nya sendiri.”

Secara konkret, Rully kemudian mencoba menarik garis ke industri yang ditekuninya saat ini. “Misalnya di perbankan, apa yang harus dipenuhi oleh seorang tenaga kerja untuk masuk ke bidang ini, kompetensinya, skill-nya dan ini harus diterjemahkan ke dalam kurikulum (pendidikan).” Dan, Rully berkali-kali menekankan perlunya peran pemerintah dalam hal ini. “Sayangnya, saya belum punya channel untuk memberi tahu pemerintah, eh masalahnya tuh bukan di sini.”

***

Suaranya yang lirih berkali-kali nyaris tenggelam oleh lengking vokal Agnes Monica yang mengalun di Kafe Ohlala di basement gedung Permata Bank, Jalan Sudirman, Jakarta, tempat kami berbincang-bincang Rabu (9/1/07) pagi itu. Namun, gelora semangat, obsesi, idealisme dan berbagai harapan yang menyala di dada dan benak pemilik nama lengkap Rully Chairul Hamdani Nawawi ini tak bisa dikalahkan hanya oleh rendahnya frekuensi nada suara.

Pembawaannya yang serba tenang, cenderung kalem, menjadi terasa agak mengherankan ketika ayah dari dua anak (masing-masing berusia 5 dan 6 tahun) ini mengungkapkan bahwa hobinya mengendarai motor besar. Bila hidup adalah perjalanan panjang, maka dinamika karirnya adalah penggalan demi penggalan kisah yang sambung menyambung mewarnai perjalanan itu. Dan, ia baru saja memulai sebuah babak baru ketika Maret 2006 lalu melenggang memasuki ruangan VP Head of Resourcing and Talent Management Bank Permata.

Sebagai “orang baru”, Rully memang tak mengalami masa bersejarah ketika 5 bank (Universal, Bali, Prima Ekspres, Artha Prima, Patriot) dilebur menjadi satu dan melahirkan Permata. “Sekarang sudah tak terasa lagi kalau ini gabungan dari perusahaan yang berbeda, berkat kepemimpinan HR Director yang baik,” kata dia.

Kalau dikembalikan pada Rully sendiri, sebagai orang luar yang “tiba-tiba” menduduki salah satu kursi VP, apakah itu tidak menimbulkan masalah, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan? “Masalah pasti ada, di mana pun ketika kita memasuki lingkungan yang baru. Bagi saya, kuncinya bagaimana kita menempatkan diri, beradaptasi dengan manajer-manajer senior yang sudah lama di situ.”

Ketika ditanya, apakah sudah menemukan kecocokan dengan budaya industri bank yang dinamis, Rully tertawa sebelum kemudian jujur mengakui, “Yang pasti saya ambil kesempatannya untuk belajar, untuk memenuhi kriteria kualifikasi saya untuk perjalanan (karir) saya selanjutnya. Apakah ini tujuan akhir, bukan sih.”