Arbania Fitriani: Yuk Hilangkan Label Generasi di Perusahaan

Arbania Fitriani_3

Jika disandingkan antara nama dan gelarnya memang menjadi panjang. Lihat saja deretannya, Arbania Fitriani, S.Psi, M.PSi, C.Ht, Psy-Met. Beruntung, ia adalah pribadi yang sangat ramah dan murah senyum, sekalipun hanya dipanggil Arfi saja.

Arfi kurang lebih memiliki jam terbang sekitar 12 tahun sebagai praktisi HR, jika ini dihitung dari sejak ia lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pada 2003. Ya, Arfi memang berkecimpung di dunia HR sejak masih kuliah. “Karena jurusan saya psikologi, saya sering diajak untuk ikut proyek oleh beberapa consultant independen. Saya ingat proyek pertama yang saya kerjakan sewaktu kuliah adalah job analysis di BP Migas. Setelah saya lulus kuliah S1 dari Psi UI, langsung mendapat tawaran pekerjaan sebagai kepala personalia di Rumah Sakit Karya Husada Cikampek. Lalu saya melanjutkan kuliah S2 saya di Psikometri UI. Saat itu saya rehat sebentar dari dunia organisasi industri dan menerima tawaran untuk menjadi dosen luar biasa di UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Gunadarma,” paparnya kepada PortalHR.

Arbania Fitriani_1

Bakat Arfi di dunia HR memang terlihat sejak awal. Ia mengingat saat masih study S2, ia mendapat tawaran untuk mengembangkan alat tes yang dapat memetakan profil seorang sales per industri yang sekarang dikenal sebagai SPRINt (Sales Profile Instrument). Karena keberhasilan mengembangkan alat tes ini, Arfi langsung direkrut menjadi senior consultant di GML Performance Consulting, sebuah perusahaan Management dan HR consulting yang cukup ternama. Di sana, Arfi mengaku kemampuan HR dan management strategic-nya sangat diasah dengan melayani berbagai jenis industri besar baik sebagai anggota proyek maupun sebagai project manager. “Kami para consultant dituntut untuk terus menerus mengembangkan pengetahuan para consultant dengan terus membaca. Kami disiapkan perpustakaan beirisi buku-buku mengenai dunia HR dan Management Strategic. Saya ingat salah satu buku pavorit yang saya senangi adalah buku dari John P. Kotter yang membahas tentang Corporate Culture,” katanya bercerita.

Sebagai senior consultant, Arfi pun terlatih untuk membantu berbagai perusahaan besar dalam membangun sistem HR mereka seperti job analysis, assessment centre, training need analysis and curriculum, employee engagement survey, dan corporate culture. Dari pengalamannya sebagai konsultan membuat ia dipercaya untuk memimpin Human Capital Dept di Fortune PR. Berbagai program telah ia bangun bersama jajaran pimpinan di Fortune PR seperti Balanced Score Card, Performance Management System berdasarkan BSC, Management Trainee Program, Compensation and Benefit System, Leader’s Assesment, Career Plan, Training Curriculum, Leadership and Managerial Development Program, Internal Communication, Monthly Behavior and Performance Appraisal, token of appreciation, FUNcation Campaign, dan lain sebagainya.

“Di perusahaan tersebut, salah satu success story yang membanggakan adalah bagaimana corporate culture yang kami bangun bersama terbukti dapat meningkatan engagement karyawannya dan di akhir tahun 2014 kita berhasil membukukan keuntungan bersih sebelum pajak sebesar hampir 400%. Dari sini terbukti bahwa HR bukanlah sekedar supporting, fungsinya sangat penting sebagai mitra bisnis karena bisnis itu dijalankan oleh manusia. Apapun permasalahan di perusahaan itu pasti ada di people sehingga perilaku people yang terlibat di dalamnya perlu dikelola dalam sistem Budaya Perusahaan,” imbuh Arfi.

Arbania Fitriani_2Dari berbagai pengalamannya di dunia HR, belum lama ini Arfi mendapat kepercayaan untuk memimpin bisnis HR Consulting sebagai salah satu jajaran Direksi di PT Premysis Consulting. Premysis sendiri banyak dikenal sebagai salah satu consultant strategic business dan ISO terbesar di Indonesia yang juga memberikan pelayanan di bidang leadership dan sudah melayani berbabagi jenis industri dan multinational company selama lebih dari seperempat abad.

Menjawab latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang sekarang ia pegang, Arfi mengatakan, “Alhamdulillah, latar belakang kuliah saya sangat berhubungan dengan pekerjaan saya saat ini dan sangat membantu dalam kelancaran pelaksanaan tugas saya. Misalnya sebagai psikolog klinis, saya memiliki banyak alat tes yang berguna untuk proses rekrutment, seleksi, dan asesmen. Alat tes ini sangat bermanfaat dalam melihat kesesuaian kepribadian talent dengan perilaku budaya perusahaan sehingga talent yang direkrut dapat dipastikan bisa memenuhi target yang diberikan perusahaan kepadanya.”

Selain itu, lanjut Arfi, pengalamannya sebagai seorang lulusan magister Psikometri dan dosen yang mengajarkan Ilmu Psikometri membuatnya mampu melakukan berbagai jenis survey dengan metodologi penelitian ilmiah yang terpercaya dengan menggunakan tools statistic seperti SPSS dan Lisrel dalam menganalisa hasil survey. Survey yang pernah ia conduct sendiri seperti survey Organizational Culture Assessment Inventory (OCAI) yang berfungsi untuk melihat gap persepsi antara karyawan dan pimpinan serta strategi internal communication yang tepat untuk internalisasi strategi perusahaan dalam mencapai target.

Survey lain yang juga sering ia lakukan adalah employee engagement index untuk melihat seberapa engage karyawan dengan perusahaan. Banyak penelitian membuktikan bahwa engagement karyawan sangat berpengaruh terhadap performa sebuah perusahaan dalam meningkatkan revenue-nya. Ia pun mengutip Watson Wyat yang pada tahun 2000 menemukan bahwa organisasi dengan komitmen yang tinggi memiliki performa yang lebih baik sebesar 47% dibandingkan perusahaan yang memiliki komitmen rendah dan pada tahun 2002 meningkat sebesar 200%.

Arfi mengaku sangat menyenangi profesi di bidang HR ini. Di samping memang sesuai dengan latar belakang sebagai psikolog, ia juga memang tertarik untuk mendalami segala hal yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Ia pun tak sungkan menceritaka suka-dukanya selama menjalani profesi HR.

“Sukanya adalah ketika saya berhasil membangun satu program yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan karyawan. Ketika melihat senyum karyawan yang mengembang di wajah mereka sewaktu saya memberitahukan bahwa ia bisa kita naikkan gajinya, itu kebahagiaan yang tidak terbayarkan. Sebaliknya, dukanya adalah ketika saya harus terminate orang karena kinerjanya tidak sesuai dengan tuntutan perusahaan. Saya paling tidak tahan melihat orang sedih, saya bisa menangis duluan. Makanya, saya biasa mendelegasikan ke HCD manager saya untuk satu pekerjaan ini. Selain itu, untuk mencegah involuntary resign tersebut, saya sangat giat membangun program yang dapat meningkatkan kinerja setiap karyawan yang tergabung di perusahaan saya,” tuturnya.

Arbania Fitriani_3Dengan berbagai pengalamannya, menjawab passion terbesarnya di dunia HR, Arfi mantab menjawab ingin membantu di banyak perusahaan untuk menjadikan HR sebagai partner bisnis. “Banyak professional HR yang dulunya adalah konsultan lalu kemudian bekerja di dunia korporat kebanyakan sudah enggan untuk balik ke dunia konsultan karena memang dari pengalaman saya dunia korporat, rasanya cukup nyaman apalagi sebagai seorang perempuan yang nantinya pasti memiliki tanggung jawab terhadap anak dan suami. Namun, saya ingin berbagi apa yang telah saya bangun di korporat tempat saya sebelumnya. Oleh sebab itu saya mau mengambil resiko meninggalkan zona nyaman saya untuk kembali menggeluti dunia konsultan,” terang Arfi lagi.

Meski begitu, keputusan Arfi sudah bulat dan dipertimbangkan masak-masak. Dalam plan yang ia susun, bahkan obsesi jangka pendek, di usia 40 tahun Arfi ingin memiliki perusahaan sendiri yang mandiri dan bisa dikelola oleh orang lain, sehingga ia bisa mewujudkan cita-cita terpendamnya, yakni jalan-jalan keliling Indonesia. “Namun, saya memiliki mimpi yang lebih besar lagi. Obsesi terbesar saya adalah memiliki satu komunitas HR Dunia yang menyatukan berbagai jenis profesi dengan visi  membangun SDM dan peradaban dunia dengan azas satu bumi, satu langit dan satu umat manusia. Dunia HR, selain dunia pendidikan, memiliki potensi besar untuk membangun satu peradaban manusia beradab tanpa sekat-sekat yang membuat kita terpisah oleh jurang perbedaan,” katanya yakin.

Ini pula yang menjelaskan kenapa Arfi sangat aktif membangun beberapa komunitas bersama rekan-rekan sejawat yang bertujuan untuk membangun SDM Indonesia seperti Forum Dokter dan Psikolog Bagi Ibu Pertiwi, Indonesian Women Association For Global Peace (IWAG-Peace), dan Inclusive Human Resource Indonesia (IHRI). Menurutnya, ketiga organisasi ini adalah sebuah embrio untuk membangun SDM yang berbudi pekerti luhur.

Urusan pekerjaan jika diturutin memang tidak ada habisnya. Arfi pun punya jurus untuk menyiasatinya. “Saya mengikuti latihan meditasi di Yayasan Anand Ashram yang berafiliasi dengan PBB. Di sana saya mengikuti latihan stress management dan Kundalini Yoga. Latihan ini sangat membantu saya dalam mengelola stress yang saya hadapi sehari-hari dan juga untuk menjaga daya tahan tubuh saya. Alhamdullillah, sejak ikut latihan ini, saya merasa badan saya sangat fit dan yang pasti berasa lebih kreatif dalam menghadapi tantangan kerja. Apalagi saya sebagai psikolog mengerti benar bahwa teknik yang diberikan di tempat ini memang bermanfaat untuk mengelola distress menjadi eustress sehingga stress ini dapat digunakan untuk daya kreatif dalam bekerja,” kata Arfi menjelaskan.

Selain itu, Arfi ternyata punya kegiatan lain menjaga kebugaran, yakni dengan naik gunung. Ia menyebut, “Saat mendaki gunung, banyak hal yang saya pelajari. Teamwork, kedisiplinan, kesabaran, persahabatan, dan strategi. Di gunung, kalau salah strategi dalam melangkah dan berpijak, bisa berdampak terhadap keselamatan jiwa. Saya juga merasa sangat fresh setelah berada di atas gunung karena udaranya yang masih bersih sehingga setelah kembali ke dunia kerja saya merasa kembali fit dan siap menghadapi tantangan.”

Dalam konteks pengembangan SDM dalam skala nasional, Arfi punya pendapat bahwa tantangan SDM yang ada di depan mata adalah persaingan dengan SDM asing terutama di era AFTA ini. “Ditambah, kita ini masih malas membaca dan budaya instan. Ini yang membuat kita tertinggal dari SDM luar,” katanya setengah mengingatkan.

Yang cukup menarik, Arfi punya pandangan tersendiri mengenai issue Gen Y di organisasi. “Saya dan kawan-kawan saat ini malah membuat movement untuk menghilangkan label Gen Y, Gen X, baby boomers, dinosaurus atau apalah itu karena dengan label ini justru kita semakin memperlebar jurang antara generasi pendahulu dan generasi new comer. Saya pribadi jujur masih Gen Y karena saya lahir di atas tahun 80-an. Justru dengan adanya isu ini, kita dituntut untuk terus menerus kreatif sebagai seorang HR. Kedewasaan bukanlah masalah usia, tapi kematangan emosional. Orang boleh berusia tua, tapi secara mental tidak dewasa. Sebaliknya orang boleh saja usianya muda, namun secara mental dia sudah bijak. Nah, sebagai seorang HR, perlu untuk terus berjiwa muda dan mengasah kreativitas kita sehingga kita bisa merangkul semua kalangan dan semua usia,” tukas Arfi. (*/@erkoes)

Tags: , , , , , , ,