Alexandra A Aprilina: HR Bukan Politisi Kantor

Sebuah email datang kepadanya dengan isi yang membuat dia tersentak. Mengaku sebagai “bekas karyawan yang tertindas”, pengirim email itu antara lain menuding, “Sejak ada Ibu di sini, semua jadi berantakan.” Lebih gawat lagi, dia juga dianggap telah “mematikan penghidupan orang”. Waktu itu, Alexandra A Aprilina memang baru saja bergabung dengan Anugerah Corporation sebagai VP Human Capital Development dan diberi wewenang penuh untuk membangun sistem ke-HRD-an di holding company yang juga baru didirikan untuk mengelola sejumlah perusahaan milik generasi kedua keluarga Wanandi itu. Namun, Xandra, demikian panggilan akrab ibu dari seorang putri berusia 5 tahun itu, menghadapinya dengan tenang. Karena email itu juga ditembuskan ke jajaran direktur, justru atasannyalah yang khawatir surat itu akan membebani pikiran Xandra dan menurunkan semangat kerjanya.

“Saya bilang itu biasa. Kalau kita bener, ngapain dipikirin. Hal seperti itu bagi orang HRD biasa. Yang nggak suka biasanya yang bermasalah, nggak berprestasi…Dulu di tempat lain saya bahkan pernah mengalami ancaman yang lebih frontal, sampaiu ada sabotase ban mobil digembosi…” kenang profesional yang dibesarkan di Grup Astra tersebut.

Diakui, kejadian semacam itu pada awalnya sudah barang tentu membuat Xandra shock. “Untungnya saya selalu bisa mengendalikan diri untuk senantiasa menjadi orang yang tidak reaktif. Misalnya ketika mendapat surat itu, saya renungi per kalimat, bener ndak tho saya seperti itu? Yang jelas saya selalu bertindak bukan atas dasar keputusan personal, tapi organisasi dan tidak memihak. Posisi HR yang netral itu penting. Artinya, harus memihak pada kebeneran dan keadilan,” tandas dia. Di samping itu, dari hasil renungannya, Xandra sampai pada pemahaman bahwa setiap pekerjaan punya risiko. “Di bagian sales misalnya, ada lah risiko diomeli customer dan lain-lain. Jadi, saya menikmati pekerjaan ini. Saya sudah melakukan sesuatu berdasarkan fungsi pekerjaan saya, nanti orang akan menilai pribadi kita sehari-hari, bukan dari satu email.”

Xandra menekankan soal menyenangi pekerjaan. Bagi dia, itu merupakan salah satu faktor penentu sukses. Di luar itu, orang harus punya apa yang dia sebut sebagai “pelampiasan lain”. Yang dia maksud dalam hal ini adalah wadah atau forum-forum yang memungkinkan orang-orang dalam satu profesi bertemu untuk saling berbagi. “Makanya kalau ada seminar atau kumpul-kumpul saya selalu datang. Di situlah obatnya, ketemu sesama orang HR, bertukar pengalaman, eh ada juga ternyata yang mengalami masalah lebih berat. Dari situ kita belajar, saling menguatkan. Kalau ada yang bagus kita tiru.” Bagi komunitas profesional dan pemimpin HR di Jakarta, sosok Xandra barangkali memang sudah tak asing. Dia memang selalu ada di hampir setiap acara yang bertema HR. Sosoknya mudah dikenali, selain dari potongan rambutnya yang pendek, postur tubuhnya yang tinggi, juga dari keramahannya, menyapa setiap orang yang dikenalnya dan terbuka menyambut dengan akrab siapa pun yang memperkenalkan diri padanya. Begitulah, di balik sikapnya yang tegas dan nyaris tanpa kompromi secara profesional, Xandra sebagai pribadi tetaplah sosok seorang kawan dekat yang hangat.

“Kehadiran saya memang sempat membuat kaget. Dulu nggak ada, tiba-tiba ada, tegas, teratur…membuat saya sampai kadang jadi figur yang ditakuti. Saya coba mengimbanginya dengan hadir di acara-acara informal karyawan, membaur, ngobrol di waktu-waktu lain. Kita create kegiatan dansa dan lain-lain, biar karyawan tahu, figurnya nggak sengeri itu lho. Jadi sosok HR yang ditakuti itu nggak enak juga, kalau karyawan ada masalah nggak akan berani mendekat dan terbuka, malah akan ditutupi. Ada saat kita kenceng, tegas tapi tetap membaur, hangat, ngayomi, nrimo…peran tarik-ulur itu yang kita harus mainkan.”

Lahir di Yogyakarta, 23 April 1964, sarjana Peternakan lulusan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto ini tumbuh dalam tradisi keluarga guru. Profesi ayahnya itu membuat dia sejak semasa sekolah sudah punya pemikiran bahwa kelak dia juga akan menjadi seorang pengajar. Semua itu menjadi kenyataan begitu dia lulus dari program Magister Manajemen UGM jurusan Agribisnis dan diterima sebagai dosen sebuah sekolah tinggi di Malang. Selain mengajar, dia juga sudah dipastikan akan dikirim ke Amerika untuk program S-3. Namun, baru satu semester berjalan, Xandra merasakan bahwa dari segi perkembangan karier, profesi sebagai dosen tidaknya sedinamis yang dia inginkan. “Saya ingin cari pekerjaan lain tapi tetap tidak kehilangan kesenangan mengajar,” kenang dia. Maka, pilihan pun tertuju pada perusahaan yang memiliki training center yang bagus. “Saya kejar itu. Sambil ngajar saya mengirimkan lamaran ke tiga tempat di Jakarta, Astra, IBM dan Salim Group. Agak dilema juga karena saya kan juga sedang menunggu untuk dikirim sekolah lagi ke Amerika. Akhirnya saya berpikir, mana yang lebih cepat panggilannya, itulah yang saya jalani.”

Tahun 1990 merupakan titik balik karier Xandra, ketika akhirnya dia mendapatkan panggilan dari Astra. Di perusahaan otomotif yang menjadi impian banyak kalangan pencari kerja tersebut, Xandra mendapatkan apa yang diinginkannya: dinamika karier sekaligus penyaluran hobinya mengajar. “Saya masuk di training center, bikin materi, ngajar…ini menjadi awal karier saya di bidang HR sebelum akhirnya melebar ke fungsi HR yang lebih luas ketika pada tahun kedua saya dipindah ke Astra Agro Lestari sebagai personalia pengajian.” Total selama 17 tahun di Astra, Xandra terus berpindah-pindah ke berbagai anak perusahaan seiring kemajuan profesionalnya. Antara lain ia pernah menjabat sebagai Direktur HR&GA Auto 2000.

***

Pada Maret 2007, Xandra bergabung dengan Anugerah Corporation yang waktu itu juga belum lama berdiri. Banyak teman-temannya membuat taruhan, apakah Xandra akan survive bersusah-susah dari nol lagi. “Banyak orang Astra yang keluar, beberapa bulan balik lagi atau pindah lagi ke tempat lain. Sampai ada mitos, orang yang keluar dari Astra nggak akan tahan lama karena di Astra itu sudah demikian enaknya,” ujar dia. Namun, kecenderungan hasrat profesionalnya yang senantiasa mencari dinamika mendorong Xandra untuk tak menyerah pada mitos-mitos semacam itu. “Memang nggak gampang kalai kita nggak punya kesiapan mental. Prinsip saya sih, jangan membandingkan,” tegas Xandra seperti menasihati dirinya sendiri.

Salah satu faktor yang membuat Xandra tertarik dan tertantang untuk bergabung dengan holding company yang terbilang masih bayi itu antara lain karena komitmen top management yang sangat besar terhadap HR. “Mereka ini generasi kedua dari sebuah keluarga bisnis yang usianya masih muda-muda, jadi memberikan kebebasan yang sangat besar. Maka, saya juga enak sekali, tinggal bikin program, presentasi, oke. Nggak ada yang sulit karena memang sudah percaya. Mereka sadar setelah sebelumnya ngembangin bisnis, ini saatnya membenahi orang. Nggak ada kata terlambat. Maka jangan heran kalau investasi di HR paling besar pada tahun-tahun sekarang ini,” ungkap Xandra.

Menarik mencermati apa yang dilakukan oleh Xandra atas kepercayaan penuh yang telah diberikan top management kepadanya. “Pertama saya masuk, karena bisnisnya bervariasi, dari obat batuk hingga pusat kebugaran, saya pikir akan sulit kalau saya harus melakukan kunjungan satu per satu,” kata dia. “Maka, pada tiga bulan pertama saya bikin Human Capital Develpoment Manual, isinya stadarisasi HR dari cara merekrut orang bagaimana, prosedur, form dan templete-nya seperti apa, lalu bikin workshop untuk para manajer HRD atau siapapun yang bertanggung jawab pada urusan ke-HRD-an yang mungkin ada yang masih gabung sama finance, atau pimpinan unitnya kalau memang nggak ada sama sekali…kita bikin forum pertemuan rutin untuk sharing, diskusi kasus-kasus yang terjadi dan sebagainya.”

“Intinya, kita bikin road map, apa yang harus dilakukan HRD. Kita lihat lagi organisasi masing-masing, apakah sudah produktif atau belum. Jadi, mulai dilakukan analisis produktivitas organisasi. Kita petakan dan kita review organisasi, kita bongkar sehingga kelihatan orang yang nggak perform. Kita nggak toleran lagi soal integritas, kerja semaunya….makanya pada tahap ini kita banyak melepas orang yang nggak bagus dan mbanyak merekrut orang yang bagus. Setelah itu kita revier mengenai HR system. Kita jalan dalam bentuk profect-project dan masing-masing diberi nama. Harapannya, Januari 2008 sudah on semua, dan mulai bisa menerapkan reward and punishment…lhi sudah tahu kok ukurannya. Dan pada 2010 kita sudha bisa menentukan the best employee, winning team dan semacam itu,” papar Xandra lebih jauh.

Xandra menyadari berbagai tahapan yang telah dengan rapi dirancangnya itu tak akan berjalan semudah ketika memaparkannya. Tantangan pasti ada dan selalu ada. Namun, Xandra percaya pada mekanisme sosuialisasi dan kekuatan komunikasi. “Pada dasarnya, secara naluri orang yang sudah enak, nyaman diutak-atik nggak mau. Logikanya, yang merasa terusik adalah mereka yang nggak beres sebab kita yakin program ini bagus. Soal produktivitas misalnya, dulu ada toleransi keterlambatan, maka sekarang kalau terlambat kehilangan uang transport…awalnya memang harus sedikit memaksa supaya mereka tahu, kalau semua orang disiplin, produktif, perusahaan maju, uangnya akan kembali ke Anda. Apa Anda rela di perusahan ada yang malas-malasan sementara Anda kerja keras?”

Selain dengan sedikit memaksa pada awalnya, Xandra juga tak segan untuk memberikan semacam shock teraphy, misalnya kepada karyawan yang memalsukan surat dokter agar bisa masuk kerja padahal sebenarnya tidak sakit. “Kita tindak saja sekalian, biar mereka sadar, ini serius tho? Sehinga nggak berani lagi.” Dengan semua itu, Xandra sama sekali tak hendak berniat keras terhadap karyawan, melainkan sebaliknya, dengan eksekusi yang tegas dan konsisten, karyawan akan terhindar dari kebingungan dan program bisa berjalan dengan sukses. Itu baru muara kecilnya, kalau boleh diistilahkan begitu. Sedangkan, muara besarnya, langkah-langkah tersebut merupakan upaya memberdayakan fungsi HR agar tak sekedar ada dan berjalan, melainkan juga memberi dampak pada bisnis perusahaan.

“Orang HR kalau mengandalkan pinter ngomong tok nggak cukup, harss ngerti business prosess, strategi perusahaan, supaya nggak sekedar menjalankan fungsi tapi nggak ber-impact apa-apa pada bisnisnya. Itu yang sulit. Selama ini berbenturan sama value, reputasi, nilai. HR harus konsisten, tidak boleh jadi politician, atau oportunis, atau ABS alias asal bos senang sehingga nggak punya pendirian. HR yang bagus posisinya harus sangat netral, sangat independen, smart, wawasan mesti luas dan di benaknya selalu tertanam soal fairness, membela kebenaran. Misalnya ada karyawan yang benar tapi selalu kalah, yang belaian siapa kalau bukan orang HR?” ujar penggemar olah raga tenis meja, dansa dan menulis puisi ini.

Kepada para profesional muda yang tengah meniti karier di bidang HR, Xandra pun berpesan, “Jangan memutar balik dan melintir kata-kata dan mencari celah dari kelemahan-kelemahan tertentu. Ketulusan seperti itu tak banyak dimiliki orang, tapi sandungannya di situ. Bukan soal kamu harus pinter. S-2 sih S-2, tapi benturannya itu di prinsip. Untuk orangh HR tuntutannya lebih ke karakter, personality. Jadi, warnailah fungsi profesi HR dengan ketulusan untuk selalu melihat kepentingan yang lebih besar, bukan yang lebih kuat atau yang bayar. Soalnya yang kuat belum tentu benar.”