Alexander Sriewijono: Sahabat untuk Hidup dan Kerja yang Lebih Bermakna

Seorang tukang kebun di sebuah hotel di Bali tergopoh-gopoh menghampiri Alexander Sriewijono yang sedang menginap di hotel itu. Lelaki itu ingin sekali bersalaman dan berbicara langsung dengannya, namun yang bersangkutan justru dengan rendah hati menepis. Bukan tidak mau, melainkan ia merasa bukan siapa-siapa untuk diperlakukan seperti itu. Ternyata, laki-laki ingin menyampaikan rasa terimakasihnya, karena anak perempuannya batal bercerai dengan suaminya setelah mendengarkan “nasihat” dari Alexander.

Tentu saja, Alexander sendiri sudah lupa, kapan dia bicara apa dan di mana. Yang jelas, lewat acara Friends n the City yang dibawakannya di O Channel, Cosmopolitan Cereer di Radio Cosmopolitan FM dan kolom-kolomnya di Majalah Cosmopolitan, pria kelahiran Waingapu, 7 Juli 1971 itu punya akses yang luas untuk “mempengaruhi” orang lain. “Kita tidak pernah tahu apa yang kita tulis atau kita ucapkan berakhirnya ke mana dan seperti apa,” begitu dia kerap mengingatkan kepada teman-teman dari media massa yang mewawancarainya, dan ia berpesan agar berhati-hati, agar pengaruh yang tersebar bersifat positif.

Sekarang, Alex –demikian sapaan akrab lulusan Fakultas Psikologi UI tahun 1995 itu– bisa berbuat lebih banyak lagi untuk “mempengaruhi” orang lain lewat Daily Meaning, organisasi yang didirikannya untuk memberikan seminar dan pelatihan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Berbeda dengan umumnya lembaga pengembangan SDM, Daily Meaning mencoba meluaskan program-programnya keluar dari isu-isu yang berkaitan dengan pekerjaan saja. “Saya ingin orang itu hidup tidak hanya make a living tapi sekaligus juga make a life, punya kehidupan saat bekerja. Bekerja tidak sekedar untuk mencari nafkah,” jelas Alex.

Dengan kata lain, Daily Meaning tidak hanya mengembangkan kompetensi, tapi juga berusaha membuat orang lebih bergairah dalam pekerjannya dan menyeimbangkan antara hidup dengan pekerjaan itu. Katakanlah itu ciri khas yang membedakan Daily Meaning dengan institusi-institusi yang bergerak dalam lapangan yang sama. Sedangkan wujud konkret dari program-programnya sebenarnya sudah tidak asing lagi, yakni seminar, workshop berikut siaran-siaran di televisi dan radio serta tulisan-rulisan untuk media cetak. “Semua itu menjadi satu kesatuan konsep untuk memberi inspirasi pada orang lain mengenai kerja total dengan passion itu seperti apa,” tandas dia.

Daily Meaning sendiri secara organisasi merupakan gabungan dari tiga unsur, yakni tim inti, subject matter expert untuk bidang-bidang khusus dan inspiring people. “Jadi, misalnya saya mau mengadakan workshop tentang stress management, saya sebagai psikologi bisa memberi sesi dari sudut pandang psikologinya, sementara saya punya subject matter expert untuk membawakan sesi misalnya mengenai pola makan yang berimbang. Sedangkan inspiring person adalah mereka-mereka yang bisa memberikan insight dari apa yang selama ini mereka kerjakan dan menjadi inspirasi untuk orang lain,” papar lulusan S-2 Human Resource Management pada University of Westminster, London (2005) tersebut, yang kesempatannya diperoleh dari pemerintah Inggris melalui Bristish Chevening Award.

Ide pendirian Daily Meaning berangkat dari kontemplasi Alex pada kehidupannya sendiri. “Saya selalu bertanya, apa perlunya saya berlari, berlari dan terus berlari. Kapan saya bisa berhenti untuk diam sejenak, pertama karena kelelahan diri. Saya pikir saya lelah, dan mungkin banyak orang yang punya kelelahan yang sama dalam menemukan makna untuk apa setiap hari bekerja, berlari.”

Perenungan ke dalam diri itu kemudian bertemu dengan pengalamannya dalam membawakan acara di Radio Cosmopolitan setiap Kamis pagi. “Dari data yang saya kumpulkan, juga dari email yang masuk, saya melihat ada kesamaan pola di mana orang bisa menafkahi hidupnya tapi belum tentu merasa memiliki kehidupan. Buat saya ini jadi satu fenomena yang menarik, saya ingin melihat ada profesional yang sukses tapi juga happy, tidak hanya bangga ketika menunjukkan kartu nama tapi juga punya makna di kehidupannya.”

Passionate working life. Itulah yang menurut Alex sedang dicari oleh banyak orang saat ini, sejauh yang bisa ia amati lewat interaksinya dengan para kliennya. “Mereka merasa sebagai living zombie, zombi yang hidup di tempat kerja yang tak menemukan makna di tempat kerja itu. Cukup mengerikan bukan? Dan, kehadiran Daily Meaning sedikit-banyak telah ikut menyumbang pada tumbuhnya kesadaran orang untuk lebih memperhatikan hidupnya di sela kesibukan kerja yang rutin dan menekan. Sepanjang 2006 dan 2007, ia membawakan workshop bertema Life Enrichment di sejumlah organisasi maupun lewat seminar publik dan secara total telah diikuti oleh lebih dari 2500 peserta. Program tersebut terus bergulir, seiring dengan munculnya program baru di bawah tajuk Agile during Changes, yang hingga 2007 telah menarik minat lebih dari 1500 orang.

Lewat program-program tersebut, Alex menciptakan ruang baru bagi para professional dan publik pendengar acara radio dan penonton talkshow televisi yang dibawakannya, serta pembaca kolom-kolomnya di media cetak untuk tidak hanya bertemu, tapi juga berbagi concern. Sampai sejauh itu, Alex sadar dirinya bukanlah seorang motivator. “Setiap orang adalah motivator bagi dirinya sendiri. Saya ini sahabat diskusi yang membuat orang menemukan insight-nya sendiri, dan memotivasi itu nggak perlu dilakukan dengan teriak-teriak. Teriak-teriaknya itu terjadi di kepala masing-masing,” ujar pria yang terbuka untuk diajak bertukar pikiran setiap saat antara lain lewat email alexander@dailymeaning.com itu.

Gaya bicaranya yang lembut dan disampaikan dengan nada yang lirih, tak membuat setiap jawaban yang diberikannya kehilangan poin untuk ditangkap. Sebaliknya, terasa benar bahwa ia bicara dari lubuk hati yang paling dalam, dengan segenap kerendahan hati yang cukup menggetarkan pendengarnya. Itu dalam wawancara dengan PortalHR.com beberapa waktu lalu di penghujung Bulan Puasa. Namun, Alex di atas mimbar seminar, di hadapan ratusan pendengar, bisa berubah menjadi orator yang memikat, membuat semua mata dan telinga patuh, sekaligus penuh humor. Dan, bagi pemilik sejumlah keahlian, dari Performance Management, Change Management, Leadership, Learning and Development, hingga Communication Programs tersebut, hal itu tak selalu mudah.

Tantangannya lebih bersifat pertanyaan moral, “Setiap saya mengajak, yuk semangat yuk, timbul dalam diri saya, Lex lu sendiri gimana, sudah menemukan passion dalam setiap langkah lu belum? Saya nggak bisa ngomong kalau saya sendiri nggak menjalani. Saya tidak mau dan tidak boleh berjarak dengan apa yang saya sampaikan. Saya tidak mengambil dari buku yang teoritis tapi dari hal sederhana yang saya ekstrakkan dari kehidupan sehari-hari dan kemudian saya obrolkan, dan saya sendiri juga merasakan manfaatnya karena kita bicara hidup masing-masing kok.”

Benar, ia memang tidak mengambil dari buku dan justru aktivitasnya menjadi “sahabat” bagi banyak orang itu telah melahirkan sejumlah buku yang membahas seputar karir dan perilaku. Di luar semua hal yang telah disebutkan di atas, kesibukan Alex masih ditambah dengan menjadi partner pada SRW&Co, people management consultant yang didirikannya bersama beberapa rekannya. Di tengah padatnya jadwal, ia dengan ramah dan terbuka melayani permintaan wawancara dari media. Pagi itu, usai siaran di stasiun radio yang berkantor di Gedung Sarinah Thamrin Jakarta Pusat, ia tampak lelah dan menolak difoto dengan alasan “lagi lusuh banget”.

Lalu, ia berjanji akan mengirimkan materi-materi tambahan yang diperlukan untuk melengkapi wawancara dan pada hari yang sama semua sudah terkirim dengan lengkap. Begitu sigap dan profesional, begitulah berhadapan dengan Alexander Sriewijono. Tak ada yang meleset sedikit pun dari apa yang sudah diomongkan. Tak heran, jika semua orang yang pernah bertemu langsung dengannya, atau menyimaknya lewat media massa, memiliki kesan yang mendalam.

Alex tak memungkiri bahwa dari sisi bisnis, apa yang dilakukannya lewat seminar dan lain-lain tentu tetap harus ada hitung-hitungan untung dan ruginya. Namun, di atas semua itu, yang membuat Alex terkesan adalah ketika pengaruh dari apa yang dia sampaikan menjadi realitas. Dan, dia punya banyak cerita seperti mengenai seorang perempuan yang ditemuinya di Bandara Soekarno-Hatta yang tidak jadi mengakhiri hidupnya atau seorang ibu yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk memilih menjadi ibu rumah tangga – akibat obrolan-obrolan praktisnya. Dari berbagai dampak yang tak terduga itu, Alex sampai pada kesimpulan, “Nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar, yang penting orang tahu apa yang terbaik untuk dilakukan dalam hidupnya. Hal-hal itulah yang menjadi bayaran buat saya dalam menjalani profesi ini.”

Sampai di sini, barangkali kesan orang jadi campur aduk. Bisa jadi iri, karena segalanya tampak begitu membahagiakan bagi Alex. Bisa jadi, penasaran. Apakah apa yang dilakukannya selama ini, betapa pun menyenangkanya, sudah sesuai dengan cita-citanya? Apakah dia tak merasa bosan? Alex mengerutkan keningnya dan semburat kelelahan makin tebal membayang di wajahnya. Tapi, ia menjawab dengan sama serius dan semangatnya dibandingkan sejak detik pertama wawancara dimulai.

Pertama, soal cita-cita. Sampai SMA, Alex masih menyimpan keinginan untuk menjadi arsitek. Tapi, hasil ujian masuk perguruan tinggi membelokkannya pada bidang Psikologi yang dikemudian hari dirasakannya tak kalah menarik. “Buat saya cita-cita itu berkembang, bahkan saat sekarang ditanya, saya masih punya cita-cita lain. Apa yang saya tekuni sekarang ini salah satu cita-cita saya yang lain lagi yang terus saya wujudkan.”

Sekarang soal bosan. “Bicara topik yang sama berulang-ulang, sebagai manusia, pasti munafik kalau bilang nggak bosan. Tapi, jujur topik yang sama di depan orang yang berbeda, ceritanya akan beda, saat saya melihat ekspresi orang yang beda, prosesnya akan beda. Kebosanan itu situasi yang kita buat sendiri. Kalau kita kembalikan bahwa tak ada yang sama setiap hari, sebetulnya kebosanan itu nggak terjadi. Saya nggak lips service atau berandai-andai karena yang saya hadapi memang berbeda-beda.” Dan, sebuah wawancara yang benar-benar berbeda telah terlewati pagi itu.