Alex Denni: Arsitek Transformasi Sistem Organisasi

Suatu kali, Alex Denni menantang dirinya sendiri untuk menguasai permainan lead gitar 10 lagu Led Zeppelin dalam waktu 7 bulan. Ia tidak sedang mengejar cita-cita untuk menjadi rocker. Melainkan, itulah cara Alex menerapkan sekaligus membuktikan keampuhan teori “4 Disciplines of Execution” (4Dx) yang dipelajarinya. Hasilnya? “Ternyata bisa. Kuncinya ada pada niat dan disiplin,” ujar Head of Consulting Group pada Dunamis Organization Services ini.
The 4Dx dikembangkan oleh Franklin Covey dari hasil riset yang dilakukan selama bertahun-tahun. Covey mempelajari, mengapa ada organisasi yang berhasil dengan rencana-rencananya tapi banyak juga yang gagal. Dari situ, ketemulah 4 penyebab kegagalan, dan sekaligus Covey menyarankan 4 hal untuk dikerjakan secara disiplin untuk mencapai kesuksesan.
“Pertama, biasanya orang atau organisasi gagal karena tidak tahu <I>goal</I>-nya sendiri. Tidak tahu itu bisa karena nggak jelas, bisa juga karena terlalu banyak atau sering berubah. Nah, disiplin yang disarankan Covey untuk mengatasi hal itu adalah disiplin untuk fokus pada prioritas,” papar Alex.
Penyebab kegagalan yang kedua, ketidaktahuan akan apa yang harus dikerjakan untuk mencapai goal tadi. “Bisa saja sebenarnya Anda tahu, tapi nggak mengerjakan yang Anda tahu. Dalam bahasa eksekusi, itu sama saja Anda tidak tahu,” kata Alex. Solusinya? Harus disiplin dalam bertindak; mengerjakan hal-hal yang diketahui untuk mencapai tujuan.
Ketiga, “Nggak keeping scores,” kata Alex. Artinya, tidak memantau prosesnya sudah sampai mana, dan masih berapa jauh lagi. “Yang dijagain bukan score akhirnya tapi score tiap-tiap aktivitas yang akan mempengaruhi hasil,” jelas dia. Jika Anda memiliki problem semacam ini, maka perlu disiplin dalam menjaga score aktivitas untuk mencapai tujuan.
Terakhir, kegagalan karier individu atau bisnis suatu perusahaan biasanya disebabkan oleh tidakadanya akuntabilitas atau rasa tanggung jawab pada pencapaian tujuan. “Jarang sebuah goal bisa dicapai sendirian, sehingga perlu adanya keterlibatan dari pihak-pihak terkait dan tanggung jawab sebagai anggota tim,” ujar Alex seraya menambahkan, bahwa pada masa krisis seperti sekarang ini, keempat disiplin tersebut semakin dibutuhkan.
***
Discipline of Execution merupakan satu dari tiga solusi yang ditawarkan oleh Dunamis sebagai perusahaan konsultan organisasi. Dua lainnya adalan Human Capital Management dan Knowledge Management. Dunamis sendiri sejak 1991 merupakan licence partner dari Franklin Covey, sebuah perusahaan publik di AS yang telah memiliki kantor di 140 negara.
“Intinya, kita perusahaan yang salah satu jasanya membantu membenahi organisasi. Misalnya, sekarang mulai banyak perusahaan yang mengubah organisasi Human Resource menjadi Human Capital, nah kita membantu transformasi sistemnya,” terang Alex.
Menurut Alex, dalam memperbaiki sistem organisasi, salah satu instrumen pentingnya adalah membentuk budaya yang solid. Dan, pembangunan budaya itu hendaknya ditempatkan dalam konteks pembangunan Human Capital (HC). “Yang berbudaya itu kan orang, bukan mesin,” ujar dia.
Namun, Alex melihat, banyak perusahaan masih terkesan latah dalam melakukan transformasi HR ke HC. “Sebagian kecil; menyadari kenapa pindah, apa konsekuensinya dan secara sistematis melakukan perbaikan. Tapi, sebagian besar latah saja,” ungkap dia. “Banyak perusahaan kartu namanya ganti, tapi coba tanya yang berubah apa? Business proccess-nya tetep sama, prosedur sama, form-nya sama,” sambung dia.
Alex mengingatkan, kebutuhan untuk pindah dari HR ke HC sama sekali tidak berkaitan dengan ukuran perusahaan, melainkan lebih pada bagaimana perusahaan yang bersangkutan melihat bisninya. “Itu mempengaruhi bagaimana melihat orang,” kata dia. Dicontohkan, pada masa krisis, banyak perusahaan memangkas jumlah karyawan. “Itu artinya kan melihat manusia sebagai beban. Tapi, kalau melihat manusia sebagai aset, apa yang bisa dicreate orang-orang kita supaya hasil lebih bagus, bukannya memangkas mereka.”
***
Lahir di Lintau, Sumatera Barat, 27 Desember 1968, ayah satu anak ini mengawali kariernya di Astra selepas mengantongi gelar sarjana S-1 Manajemen Agroindustri, IPB. Namun tak lama, ia pindah ke Sucofindo sebagai ISO 9000 Junior Consultant. “Sepuluh tahun saya di situ dan saya manfaatkan untuk belajar sebanyak-banyaknya dan ujung-ujungnya saya berharap bisa melanjutkan karier ke bidang konsultan tapi belum memilih fokusnya, sampai akhirnya saya lihat bahwa semua masalah berujung pada orang,” kenang Alex.
Berdasar pemikiran itu, ia pun pindah ke Parardhya Mitra Karti, sebuah perusahaan konsultan manajemen HR di Jakarta, dengan jabatan terakhir sebagai Managing Director, sebelum kemudian pada 2006 bergabung dengan Dunamis. Dari pengalamannya menangani banyak perusahaan, Alex melihat bahwa salah satu masalah HR yang paling banyak dijumpai adalah soal paradigma dan komunikasi. “Setiap orang punya paradigma sendiri-sendiri dan tak bisa berkomunikasi,” ujar dia.
Menurut Alex, itu berlaku bagi atasa dengan bawahan, sesama karyawan, perusahaan dengan customer dan sebagainya. “Oleh karenanya penting sekali perilaku-perilaku yang mencoba memahami orang lain, juga kemampuan untuk bertanya,” Alex mengingatkan. Dengan problem seperti itu, sebagai konsultan Alex tertantang untuk menyiapkan sistem yang bisa menjawab kebutuhan bisnis sekaligus membuat orang-orang yang menjalankan bisnis itu tetap “happy”.
“Bisnis suskes, tapi dengan itu orang-orangnya tuh happy, itu menariknya (berkarier di bidang konsultan HR). Dan, menariknya lagi, persoalannya itu nggak pernah habis, tantangan yang dihadapi tiap perusahaan berbeda. Bahkan di satu perusahaan pun masalah yang dihadapi tiap-tiap orang berbeda,” tutur Alex.
Dicontohkan, perusahaan yang menghadapi masalah berkaitan dengan keluhan karyawan yang merasa gajinya kecil, tidak serta merta bisa diatasi dengan menaikkan gaji. “Orang juga butuh dicintai, heart-nya sebagai karyawan, sebagai partner juga harus diperhatikan. “Intinya, orang HR harus bisa memahami orang dan bisnis,” simpul mahasiswa S-3 Manajemen Agroindustri IPB yang bercita-cita membantu membuat Indonesia dikenal dunia karena sumber daya manusianya, dan bukan karena sumber daya alamnya ini.