Adriani Sukmoro : Memberi Jawaban pada Tantangan

Mungkin hanya sedikit yang tahu kalau paruh akhir 1986 Diani, demikian ia biasa disapa, sempat menjadi penyiar sebuah radio swasta di Jakarta. “Di situlah saya mengenal dunia perkantoran, seperti disiplin, ketepatan waktu, tenggang rasa dan bekerja dalam tim,” ujar wanita langsing kelahiran Sei Karang, Sumatera Utara yang berhobi traveling, membaca, menulis, dan sempat menjadi salah satu pemenang lomba cerpen di majalah wanita terkemuka.

Kini, di tengah kesibukan kerja sebagai eksekutif papan atas yang banyak menyita waktu, ibu dua putri beranjak dewasa ini bersyukur bisa tetap dekat dengan anak-anaknya. “Dalam bekerja saya boleh jadi sangat independent, tetapi dengan keluarga saya justru dependen. Saya sangat dekat dengan keluarga dan tak bisa jauh dari suami dan anak-anak.” Bisa jadi nilai kebersamaan dalam keluarga itu diperoleh Diani sejak kecil. “Kami enam bersaudara sewaktu kecil selalu bersama meski pekerjaan ayah di bidang perkebunan menuntut kami berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain,” Diani tersenyum.

Selama 15 tahun pertama usianya, Diani tujuh kali berpindah tempat tinggal bersama keluarganya ! Tak urung dia dan saudara-saudaranya melewati masa kecil dengan gembira. “Kami puas bermain di alam bebas di kawasan perkebunan Sumatera Utara. Beda dengan anak saya sekarang yang sepanjang hidupnya tinggal di Jakarta,” demikian wanita yang senantiasa tampil rapi ini.

Diani hijrah ke Jakarta tahun 1981 saat ia diterima kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Meski awalnya ingin masuk Fakultas Kedokteran, ia bersyukur bisa terpilih menjadi mahasiswa psikologi di universitas yang menjadi dambaan banyak pelajar Indonesia itu. “Apalagi saya dari daerah. Dan kenyataan bahwa saya sering berpindah sekolah itu merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Malah pernah saya hampir di-down grade gara-gara saya didaftarkan ke suatu sekolah yang tidak yakin dengan standar kurikulum sekolah saya sebelumnya,” Diani tertawa.

Tapi Diani kecil selalu bisa membuktikan bahwa ia pantas diperhitungkan. “Sejak kecil saya terbiasa setting target. Saya harus ikut drum band, harus menang lomba mengarang sekolah, ikut vocal group. Pokoknya banyak maunya!” imbuh eksekutif yang pernah mengenyam HR Executive Program yang diselenggarakan Michigan Business School. Masa kuliahpun jadi target sasaran target bagi Diani. Ia mencanangkan selesai kuliah dalam lima tahun. Hasilnya? Ia menjadi lulusan pertama angkatannya. “Pada saat itu mahasiswa Psikologi UI paling cepat menyelesaikan kuliah dalam lima tahun. Saya menjadi satu-satunya sarjana dari angkatan saya yang diwisuda bersama kakak kelas.” Meski senang, Diani mengaku kesepian saat upacara wisuda berlangsung, “Saya mesti sok akrab dengan komunitas kakak kelas yang lulus bersama saya waktu itu sekadar untuk bisa berfoto bareng,” ia tergelak.

Lulus kuliah menjadi tantangan lain lagi bagi Diani. “Pada tahun 1986 itu mencari pekerjaan sudah sulit. Tapi syukurnya sejak masih kuliah saya sudah bekerja paruh waktu sebagai tester psikologi untuk calon pegawai Rumah Sakit Pondok Indah.” Karir ideal Diani sebenarnya di jalur akademisi. “Begitu lulus, dekan saya Ibu Melly Soewondo, menelepon ke rumah dan meminta saya menjadi pengajar di jurusan psikologi klinis.

Tetapi setelah berdiskusi dengan calon suami, yang sekarang menjadi bapaknya anak-anak, saya tidak mengambil kesempatan itu,” ungkap Diani. Jadilah dia kemudian bergabung dengan Radio Queen sejak masih dalam tahap persiapan operasional hingga mengudara di akhir 1986. Itu sebelum ia mengikuti suami yang dikirim oleh kantornya, Perusahaan Listrik Negara, training satu tahun lebih di New Orleans, USA.

Tahun 1988, sepulang dari USA, Diani mulai menjejakkan kaki di dunia sumber daya manusia, jalur karirnya kini. “Saya bekerja pada sebuah executive search, di mana saya mengasah keahlian interview serta mulai mengenal beragam industri dari klien yang berbeda-beda.” Setahun lebih bekerja di situ, sebuah executive search lain menawarkan kesempatan bekerja pada Diani di salah satu kliennya, sekaligus menghantarnya masuk dunia perbankan. “Juli 1990 saya masuk Citibank sebagai Recruitment officer.”

Dari officer hingga manajer di rekrutmen, Diani sempat mengecap pengalaman non-HR di Citibank. “Saat itu HR consumer dan Corporate Banking Citibank disatukan sehingga ada pengecilan organisasi. Saya termasuk yang dipertahankan dan ditempatkan di bagian kredit menjadi Head of Shelter Financing Collection Unit. Kemampuan saya melakukan interview dan analisa profil ternyata sangat membantu saya mengenali debitur yang tagihannya harus dikumpulkan oleh tim saya saat itu.” Alhasil, Diani mendapatkan CitiStar Award, penghargaan bagi karyawan Citibank yang melampaui target dengan baik. Tapi itu tidak mengurungkan niatnya terus berkarir di jalur HR.

Diani lalu pindah bagian menjadi Head of Training & Development, di mana ia mencapai tingkat Assistant Vice President. “Terus terang, Citibank memberikan saya kesempatan berkarir di bank papan atas, tempat saya bisa membentuk professional excellence dan menemukan pola kerja yang sesuai dengan personality saya, di antaranya taat pada tenggat waktu. Di situ saya juga belajar berfokus pada masalah, berkolaborasi dengan banyak pihak dan mencapai target dengan bekerjasama dengan orang lain.”

September 1997 Diani hijrah ke ABN AMRO Bank menjadi Head of HR. “Meski sama-sama bank asing, kultur ABN AMRO sebagai European bank berbeda dari Citibank yang berasal dari Amerika. Di situ saya belajar menyesuaikan diri dalam kultur dan lingkungan berbeda,” katanya. ABN AMRO yang saat itu sedang melebarkan sayap dengan membuka beberapa cabang, menjadikan Diani sibuk roadshow ke berbagai kota di Indonesia. “Saya juga membuat policy HR berkenaan dengan cabang-cabang,” ujar Diani yang saat itu juga terlibat dalam perubahan job grading yang dilakukan ABN AMRO regional.

Awal tahun 2000 Diani pindah ke American Express Bank (Amex) menempati posisi Direktur HR hingga saat ini. “American Express menerapkan konsep HR modern. HR berperan sebagai business leader di perusahaan. HR tidak dibebani oleh berbagai kegiatan administrasi seperti payroll, staff loan, urusan cuti dan lain-lain. Saya dan anak buah bertindak sebagai mitra sekaligus juga konsultan HR yang bersama dengan business leader melakukan proses pencapaian strategi dan tujuan bisnis. Tentu saja untuk dapat melakukan peran itu dengan baik, kami harus memahami kondisi bisnis yang didukung. Saya juga menyusun HR policy yang jelas untuk membantu para leader menjalankan perannya sebagai “HR Manajer” demi kemajuan organisasinya,” demikian ungkap Diani yang di Amex juga berkesempatan menggelar Employee survey tiap tahun.

“Melalui angket dan feedback dari karyawan yang dijaga kerahasiaannya, perusahaan dapat mengukur efektivitas para pemimpin ditinjau dari berbagai dimensi. Employee survey membantu business leaders menjaga keseimbangan dan menciptakan iklim kerja yang positif,” Diani menambahkan.

Mengenai pemahaman sumber daya manusia di Indonesia, misalnya seperti konsep manajemen HR berbasis kompetensi yang mulai merebak di negeri ini, Diani meyakini adanya perkembangan cukup pesat. “Pengalaman saya memang di perbankan. Tetapi saya mengikuti saat ini banyak praktisi, konsultan dan akademisi Indonesia sudah mengacu kepada konsep-konsep HR baru, setidaknya di Jakarta,” ujar anggota paduan suara alumni UI yang aktif berlatih ini.

Apapun konsepnya, Diani menyebutkan bahwa itu bisa diterapkan dengan komitmen yang tinggi dari manajemen. “Bila ingin bertahan, organisasi harus mau berubah sesuai situasi,” imbuhnya. Di Amex sendiri, ujar Diani, ada acuan leadership competencies yang berlaku global dan diaplikasikan baik dalam rekrutmen maupun penilaian kinerja. Pelajaran berharga apakah yang diperolehnya di Amex? “Selama lima tahun lebih bekerja di perusahaan ini, saya belajar banyak mengaplikasikan change management. Sangat sulit menerima perubahan bila seseorang sudah berada di comfort zone. Apalagi bila dihadapkan pada ketidakpastian, job insecurity. Di situlah letak tantangannya. Saya terus belajar memperkaya expertise dalam change management,” Diani menjelaskan.

Diani mungkin sudah mencapai target-target profesional yang ia tetapkan. “Ke depan saya tetap ingin menekuni dunia profesionalisme saya hingga tuntas. Tapi saat ini saya punya keinginan plus, yaitu berkontribusi pada lingkungan yang lebih luas, seperti berbagi ilmu pada yang membutuhkan. Saya ingin menulis buku panduan atau berkontribusi pada universitas untuk menjembatani mahasiswa yang mempelajari teori-teori dengan dunia kerja,” ungkap wanita yang pernah diberi penghargaan oleh Amex berkat upayanya menyelesaikan short assignment di Malaysia menjelang akhir 2003.

Diani menangani HR Amex di Malaysia selama tiga bulan sehingga pada masa itu tiap minggu ia harus terbang bolak balik Jakarta – Kuala Lumpur. Kini Diani mengaku lebih meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan keluarga. “Kebahagiaan saya jika anak saya bisa menjadi lebih dari saya dan memiliki kesan yang baik mengenai ibunya,” ia menutup wawancara seolah menjawab tantangan lain ke depan.