Aan Suryana: Dari Wartawan ke HR

Memiliki jajaran CEO dan direksi yang berwawasan HR tentu dambaan semua karyawan. Lebih-lebih jika perusahaan yang bersangkutan bergerak dalam industri yang memang memerlukan pemahaman khusus terhadap aspek-aspek HR-nya. Misalnya, perusahaan media (massa) dimana di dalamnya sebagian besar karyawannya adalah wartawan, sebuah profesi yang memiliki tingkat keunikan dan karakteristik yang relatif berbeda dengan profesi lainnya.

Wartawan koran besar berbahasa Inggris yang terbit di Indonesia, The Jakarta Post bolehlah berbahagia karena memiliki petinggi-petinggi bisnis yang peduli terhadap peran HR. Hal itu dibuktikan dengan mengangkat Manajer HR dari kalangan wartawan sendiri. Adalah Aan Suryana, Deputy Editor Features Desk yang setahun lalu ditawari jabatan yang tak pernah dibayangkan akan didudukinya itu. Dari redaksi ke HRD?

“Saya sampai lama mikirnya,” kenang Aan yang ditemui di kantornya di Palmerah Selatan. “Waktu itu posisi HR Manager sedang lowong dan rapat redaksi membicarakan adanya dua kemungkinan, meng-hire orang dari luar atau dari Jakarta Post sendiri. Diputuskan, kemungkinan yang kedua yang dipilih, dan nggak tahu kenapa pilihan itu jatuh ke saya. Pemimpin redaksi memanggil saya dan menawari posisi itu,” lanjut dia menjelaskan.

Setelah lima hari berpikir, saya ambil posisi itu karena saya merasa perlu untuk belajar manajemen. “Selama menjadi editor, saya disibukkan dengan persoalan teknis mengedit tulisan dan me-lay out. Di sini bisa menambah wawasan bagaimana mengelola perusahaan dan orang,” ujar dia. Di samping itu, Aan juga merasa punya cukup bekal untuk terjun ke area baru tersebut. “Saya aktif di kegiatan-kegiatan perusahaan, sempat jadi panitia family outing dan kedua dewan karyawan 2004-2005,” ungkap dia.

Salah satu faktor yang sempat memperbesar keraguan Aan untuk menduduki tugas baru itu adalah citra HR yang di mata wartawan terlalu banyak mengatur. Tapi, di sisi lain, keraguan itu luntur karena Aan sadar kenyataannya tidak sepenuhnya seperti itu. “Saya melihat posisi HR tidak hanya menyelesaikan persoalan hubungan industrial dengan karyawan, tapi bagaimana memotivasi orang dan sebagianya, banyak sekali aspeknya dan itu yang membuat saya tertantang,” tandas dia.

Lebih jauh Aan melihat, ditariknya dirinya untuk memimpin departemen HR merupakan usaha perusahaan untuk lebih memahami wartawan. “Misalnya yang masuk ke sini bukan dari wartawan nantinya akan mengalami kesulitan karena profesi ini membutuhkan penanganan khusus. Mereka bekerja dengan waktu yang panjang, ditekan deadline, bekerja dengan speed yang tinggi, jadi memang perlu ada orang yang paham tentang profesi ini sehingga bisa membuat mereka betah di sini.”

Berkaitan dengan hal itu, Aan pun gencar mendekati direksi untuk berdiskusi tentang sistem kompensasi yang layak. “Mereka akan betah, dan (kompensasi yang layak itu) bisa memberi kita semacam justifikasi untuk meminta mereka harus bekerja lebih profesional sehingga meningkatkan produktivitas. Tentu saja, kompensasi hanyalah salah satu saja dari isu yang segera muncul begitu Aan menyusun visi dan misi begitu menduduki kursi Manajer HR sejak Mei 2006.

“Saya langsung membuat road map untuk tiga tahun ke depan, kita ingin meningkatlkan skill dan kualitas wartawan dengan membenahi training yang selama ini belum terlembagakan, selain juga akan dipertinggi intensitasnya dan diseimbangkan antara orang redaksi, support dan bisnis,” rinci dia. Pendek kata, dengan bahasa yang kini lazim digunakan oleh orang HR, Aan ingin HR di bawah kepemimpinannya mampu menjadi partner strategis bagi CEO.

Lahir di Kendal, 19 februari 1974, lulusan jurusan Hubungan Internasional UGM pada 1997 yang hingga kini masih melajang ini merupakan tipikal khas pria Jawa yang berbicara lirih, dengan intonasi yang pelan. Namun, semangatnya sebagai seorang profesional yang senantiasa merindukan tantangan baru tak bisa disembunyikan di balik kelembutan pembawaannya. Dan, jika memang itu yang dicari, maka Aan tidak salah ketika memutuskan untuk menerima jabatan sebagai Manajer HR.

“Di sini menarik, banyak sekali yang perlu dibenahi jadi banyak sekali tantangan. Saya ingin punya sistem yang bagus dalam pelatihan, juga dalam me-link antara promosi dan training. Selama ini orang dipromosikan berdasarkan semacam judgment dari para atasan. Suatu ketika saya ingin, kalau orang mau di-promote harus lulus pelatihan-pelatihan tertentu yang bersifat wajib, sesuai bidang masing-masing. Kita juga ingin punya assesment center. Untuk kompensasi pelan-pelan kita perbaiki sistemnya, menuju berbasis web,” papar dia.

Tak ketinggalan, rekrutmen juga menjadi perhatian Aan dan salah satu langkah awal yang dilakukannya adalah mengoptimalkan “intensif program”. Apa itu? “Selama ini kalau ada orang mau magang, langsung masuk aja nggak dilihat dulu. Sekarang ada program ini, kita seleksi dulu, tujuannya agar bisa menjadi pool potential talent, sekalian juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kita,” jelas dia.

Bagaimana pun, HR merupakan bidang baru bagi pemegang gelar master bidang Kebijakan Publik dari The Australian National University, Canberra tersebut. Namun, mengaku sebagai orang yang “going with the flow”, tugas baru tersebut diterimanya dengan penuh tanggung jawab dan terkad untuk bekerja sebaik-baiknya. Ia pun memperdalam pengetahuan HR-nya dengan mengikuti berbagai seminar, pelatihan dan lokakarya HR baik di dalam maupun luar negeri.

“Kebetulan sebelum pindah ke HR, saya mengajukan beasiswa untuk Fullbright Fellowship Program di Universitas Maryland, dan diterima ketika saya sudah pindah ke HR. Saya tetap berangkat dan di sana saya sempat mengambil kelas-kelas HR selain tentu saja kelas menulis,” ujar Aan.

Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan memang salah satu benefit yang diberikan oleh Jakarta Post kepada karyawannya. “Direksi kita concern dengan pendidikan dan selalu berusaha menghubungi organisasi dimana talent di sini bisa sekolah di sana,” terang Aan seraya menambahkan, kesempatan untuk berkembang semacam itu membuat orang betah di Jakarta Post. “Jadi, hal itu terus kita tingkatkan, bersama-sama dengan peningkatan remunerasi untuk menekan angka turn over yang dulu memang cukup tinggi.”

Aan menuturkan, Jakarta Post sebagai institusi media massa berbahasa Inggris banyak diincar terutama oleh kantor-kantor perwakilan lembaga internasional di Jakarta yang membutuhkan tenaga profesional. “Di sini dianggap sekolahan tempat berkumpulnya orang-orang dengan skill bahasa Inggris yang tinggi, dan seperti kantor PBB itu memang menawari gaji yang tinggi sehingga banyak yang pindah,” kenang Aan. Namun, lanjut dia, sejak 2006, angka turnover di Jakarta Post bisa ditekan hingga di bawah 10%.