A Khoirussalim Ikhs: Sukses dengan Modal Nekad dan Filsafat

Berbincang-bincang dengan A Khoirussalim Ikhs bisa menerbitkan dua kesan sekaligus yang saling bertentangan. Optimis, sekaligus pesimis. Optimis, karena segalanya seolah begitu mudah baginya. Pesimis, karena kemudian kesannya jadi serba tidak masuk akal. Misalnya, ketika ia mengatakan bahwa berbisnis tidak butuh modal. Tapi, itulah gambaran sosok di balik sukses PT Country Lestari, produsen Country Donuts. Tutur katanya serba lugas dan ditambah dengan nada suaranya yang keras, membuat orang yang mendengarkan dengan mudah membenarkan apa yang disampaikannya.

“Kalau Anda masih mengatakan bahwa bisnis harus menggunakan modal uang, Anda masih dengan otak kiri cara berpikirnya,” tegas dia ketika ditemui PortalHR.com di kantornya yang sederhana di tengah kampung di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. “Padahal saya yakin, diberi modal pun orang belum tentu bisa bisnis. Uang belum tentu selamat. Itu artinya, masalahnya bukan di modal, tapi di skill,” tegas dia.

Menurut Presiden Direktur Entrepreuneur College itu, kemampuan untuk menggunakan skill, dan bukan uang, dalam memulai bisnis tersebut menuntut penggunaan otak kanan dalam berpikir. “Dengan kata lain, mengharuskan terjun langsung ke lapangan,” tandas dia. Khoirussalim mengkritik sistem di negeri ini yang menurutnya sangat mengagungkan pendidikan berbasis otak kiri, sehingga gagal melahirkan generasi kreatif. “Hasilnya generasi penakut dan tak berani dengan risiko. Makanya, orang selalu bilang, bisnis itu sulit karena nggak ada modal,” kata dia.

“Coba Anda baca biografi orang hebat, nggak ada yang mengatakan modal itu sebagai penentu atau hal yang paling utama harus dimiliki. Semua pebisnis hebat mengatakan, modal utama bukan uang tapi kepercayaan. Itu sesuatu yang ada di dalam otak bawah sadar, ada dalam hati. Termasuk kemampuan ketawakalan, ketekunan itu ada di situ. Sehingga modalnya orang bisnis ya itu, tekun, rajin, disiplin, kerja keras, bukan modal uang.”

Khoerussalim tentu tak asal berteori. Ia sudah membuktikannya, dan hasilnya adalah Country Donuts yang dirintisnya 7 tahun lalu kini menjadi salah satu bisnis waralaba lokal yang sukses. Dan, jangan tanya soal modal. Dia akan tetap bersikukuh dengan teorinya. “Nggak ada. Saya berbisnis modal dengkul, modal nekad. Artinya, dari sisi finansial saya nggak menyiapkan uang, yang menyiapkan uang orang lain, mereka suruh beli produk kita,” tandas Sekjen Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia itu.

“Yang jelas ini bisnis saya sendiri, yang saya create karena saya pengalaman di jualan donat, sebelumnya ikut jualan donat orang, lalu bikin sendiri, dengan bendera sendiri,” kenang pengusaha yang kini memiliki dua pabrik donat sendiri di Jakarta dan 10 franchise lainnya di berbagai kota itu. Khoirussalim mengaku gembira bahwa kini donat sudah semakin populer di masyarakat, lebih-lebih setelah hadirnya sejumlah produsen donat asing yang membuka gerai franchise-nya di Jakarta. Dia merasa, donat-donat asing itu bukan saingannya.

“Bisnis saya ini di level menengah, sedangkan mereka kan kelas atas,” kata dia. Di samping itu, modus bisnis yang diterapkan Khoirussalim pun berbeda. Country Donuts tidak membuka gerai, melainkan memasarkan produknya dengan sistem direct selling. Kendati demikian, Khoirusalim tak mau melewatkan momen kehadiran donat-donat asing itu sebagai pendorong untuk meningkatkan mutu produknya sendiri. “Kita juga jadi mikir, J-Co kayak apa, bisakah nggak kita bikin (seperti yang mereka bikin),” ujar dia menyebut salah satu contoh merk donat asing yang belum lama ini hadir di Jakarta.

Kalau menilik latar belakang pendidikannya, barangkali sulit bagi orang membayangkan bahwa kini Khoirussalim bisa menjadi pengusaha donat. Tapi, sarjana filsafat UGM tersebut tak kesulitan ketika diminta menyambungkan antara basis keilmuannya dengan core bisnisnya saat ini. “Donat kan ada filsafatnya. Donat itu kue yang bolotengahe, yang bolong di tengahnya itu enak rasanya, itu yang dicari orang,” ujarnya setengah berkelakar.

Sukses sebagai pengusaha tak lantas membuat pria kelahiran Kebumen 24 September 1965 ini ongkang-ongkang kaki di rumah. Pada 2005 suami dari Siti Arofah itu mendirikan Entrepreneur College. Lewat lembaga ini, dengan sistem short course, Khoirussalim ingin menginspirasi dan motivasi siapa pun untuk berbinis. Naluri ayah lima anak itu memang tak pernah lepas dari usaha untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat. Tahun ini, ia menggagas Country Baking School, sebuah lembaga kursus untuk kaum ibu.

“Banyak ibu-ibu yang pinter bikin kue, mungkin lebih enak, kenapa nggak dijadikan bisnis? Setelah orang punya kemapuan, kita ubah mind set, dimotivasi, diberi semangat, diyakinkan kalau dia mampu (berbisnis).” Lewat lembaga yang sama, Khoirussalim juga berniat mengundang anak-anak TK untuk melakukan kunjungan edukatif. “Biar mereka belajar bikin donat, habis itu makan hasil bikinin sendiri dan pulang bawa donat. Selain fun, ini dalam rangka membantu program kurikulum berbasis kompetensi.”

Semangat Khoirussalim untuk terus menularkan jiwa kewirausahaan tidak berhenti sampai di situ. Ia juga tergolong rajin menulis buku untuk memacu orang berani memulai bisnis sendiri. Tak kurang dari 3 buku telah dilahirkannya, salah satunya menjadi best seller, yakni Kiat Sukses Memulai Bisnis “Prinsipnya, hanya ada dua kalau orang mau berbisnis. Pertama, ubah mind set yang selalu mengatakan bisnis itu sulit, harus tersedia modal banyak dulu. Kedua, action, berani memulai, sudah itu saja, selebihnya kerja keras,” tegas dia.