Tiga Dunia Sumber Daya Manusia di Masa Depan

PriceWaterhouse Cooper (PWC) melakukan penelitian yang melibatkan 10,000 orang di Amerika, Eropa dan Asia untuk mengetahui aspek apa saja yang akan mengubah pola kerja manusia untuk 5 hingga 10 tahun ke depan.

Selain 10,000 talent di dunia, penelitian yang bertajuk “The Future of Work : A Journey to 2022” ini juga mengambil sample dari kalangan professional HR sebanyak 500 orang untuk memberi nasihat mengenai tren Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan muncul di masa depan.

Dari penelitian yang mulai dilakukan pada 2007 tersebut, didapatkan kesimpulan bahwa setidaknya ada lima faktor yang akan menjadi penentu perubahan tren dalam pola kerja masyarakat dunia. Kelima tren tersebut adalah, gebrakan teknologi yang dipilih oleh sebanyak 53% responden, kelangkaan sumber daya dan perubahan iklim (39% responden), pergeseran penguasa ekonomi global (36% responden), pergeseran Demografi (33% responden) dan urbanisasi yang massif (13% responden).

Baca juga: Perusahaan Perlu Talent yang Mampu Berkolaborasi

Selain lima mega trend tersebut, didapatkan pula kesimpulan bahwa jenis pola kerja perusahaan akan terbagi menjadi 3 dunia kerja, antara lain dunia biru (blue world), dunia hijau (green world) dan dunia jingga (orange world). Dunia biru merepresentasikan kondisi kerja di mana korporasi adalah fokus utama dalam bekerja. Implikasinya adalah perusahaan mempunyai harapan yang tinggi kepada karyawannya untuk bertanggung jawab memajukan kekayaan perusahaan. Sedangkan dunia hijau berisi perusahaan yang mengagendakan banyak sekali kegiatan yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dunia Jingga mengedepankan small is beautiful, yang artinya perusahaan melakukan optimalisasi teknologi dan merampingkan pekerjanya. Ciri bisnis ini adalah meminimalkan fixed cost dan memaksimalkan fleksibilitas, merekrut beragam tipe pekerja dengan budget yang terjangkau dan mementingkan portfolio.

Penting bagi departemen SDM di sebuah perusahaan untuk tahu betul di mana perusahaan mereka bergerak. Pasalnya, dalam report yang diterbitkan oleh PWC tersebut, ditemukan fakta bahwa terdapat gap antara prediksi praktisi SDM dengan talent yang tersedia di pasar tenaga kerja. Menurut para professional SDM, jumlah talent yang ingin bekerja di ketiga tipe bisnis tersebut jumlahnya seimbang. Namun, ketika diriset langsung kepada para talent yang menjadi responden, lebih dari separuh atau sebesar 53% memilih bekerja di green world, 37 % menginginkan lingkungan kerja orange world dan ternyata hanya 10% yang memilih bekerja pada dunia biru.

Adanya transformasi dunia kerja oleh beberapa faktor, membuat perusahaan, khususnya divisi HR, mengubah cara mereka menjalankan perannya dalam perusahaan.

“Untuk menghadapi itu, perusahaan harus menyesuaikan strategi dan kebijakan serta mempertimbangkan untuk mengembangkan best talent. Menumbuhkan talent bukan hanya bagi internal perusahaan melainkan lebih berpikir secara makro untuk menciptakan talent unggulan bagi Indonesia,” ungkap Marina Tusin, Partner bidang People and Change dari PWC.

Selain itu, Malcolm Foo , Direktur dari PWC menyarankan agar perusahaan mulai siap-siap dengan kemunculan Gen Y sebagai generasi baru yang paling dominan di perusahaan.

“Untuk menarik mereka, perusahaan perlu membangun Employee Choice Preposition (ECP), yakni sebuah brand yang membuat talent terbaik berminat masuk ke perusahaan. Sedangkan untuk me-retain, sangat penting bagi perusahaan untuk mengerti kebutuhan generasi milenial tersebut, understanding what they want”.

Baca juga: ATD (ASTD) Conference 2015 Orlando

Tags: , ,