Tidak Hanya Punya, CEO Mesti Paham Social Media

Prasetya m brata  - small

Kini semua orang bisa terhubung dengan jejaring sosial, termasuk karyawan. Membuka situs jejaring sosial terkadang bisa menyenangkan dan mengubah suasana hati kita. Namun ketika kita bekerja, sebaiknya kita menghindari social media karena akan menguras perhatian kita.

Apalagi untuk karyawan yang dituntut untuk bekerja dengan teliti dan membutuhkan fokus yang mendalam. Ketika ditanyakan perihal karyawan yang bermain social media, CCO AJB Bumiputera 1912, Prasetya M Brata akan melihat terlebih dahulu posisi pekerjaan staffnya. “Social media mungkin saja menjadi ‘gangguan’ pada bidang pekerjaan yang memerlukan konsentrasi dan penanganan penuh seperti customer service, administrasi pelaporan dan bidang yang sejenis,” ujar Prass.

Namun menurutnya keadaanya bisa berbeda jika karyawan tersebut ditempatkan di posisi yang dinamis. “Ada yang justru dengan social media bisa membantu tugas-tugasnya, misalnya di bagian corporate communication, marketing, ataupun innovation,” lanjut Prass.

Beberapa perusahaan telah menerapkan pengawasan ketat bagi karyawan yang ber-social media saat bekerja. Bahkan Prass mengakui pernah melarang karyawannya menghidupkan jejaring social karena dinilai menganggu pekerjaan. “Saya pernah melarang karyawan mengaktifkan yahoo messenger pada jam kerja setelah meyakini berdasarkan observasi bahwa pelaporan dan penyelesaian pekerjaan molor,” jelas Prass.

Prass meyampaikan setelah beberapa lama mengontrol aktifitas karyawan dalam ber-social media, hasilnya laporan dan penyelesaian pekerjaan kembali sesuai dengan harapan perusahaan. Namun Prass mengingatkan regulasi untuk melarang karyawan ber-social media bukan cara satu-satunya. Pengawasan memang penting tetapi kematangan karyawan yang bersangkutan juga menentukan seberapa siap ia bisa mengontrol penggunaan social media.

Oleh karena itu peran pemimpin menjadi penting untuk mengarahkan karyawan ber-social media dengan benar. “Kita bisa memberi contoh bagaimana social media bermanfaat mendukung produktivitas dan efektivitas kerja kita. Lalu sering berkomunikasi dengan karyawan melalui social media. Melibatkan karyawan pada kelompok social yang terbangun di social media,” terang Pras.

Seberapa bahaya dampak social media untuk kinerja karyawan bisa kita ketahui langsung jika kita masuk ke dalamnya. Prass menyarankan kepada praktisi HR juga C-level di sebuah corporate untuk melibatkan diri dalam aktifitas social media. “Social media bisa me-leverage antara C-level officer dengan perusahaanya, jadi kita perlu memiliki social media. Kebetulan followers twitter saya saat ini sudah lebih dari 20.500,” tandas Prass.

Social Media Policy Itu Wajib

Menurut Konsultan media social, Abang Edwin SA, pemimpin di sebuah perusahaan tidak hanya harus memiliki social media, namun mereka juga harus bisa menjadi panutan. “Sebagai pihak pemegang keputusan justru mereka harus paham benar tentang social media, tidak hanya memiliki saja,” ujar Edwin.

Bagaimana mereka mau mengatur karyawan dalam ber-social media dengan baik, jika tidak paham jejaring social itu apa dan bagaimana. Selain itu, Edwin menganjurkan kepada para eksekutif perusahaan untuk memberikan training yang tepat bagi karyawan dalam bersocial media. “Cara terbaik membuat karyawan pandai bersocial media adalah dengan training dan sharing session secara reguler,” ujar Edwin.

Meski semua karyawan telah dibekali ilmu yang cukup, kebijakan social media untuk karyawan tetap diperlukan. “Social media policy dan social media guidelines itu menurut saya hukumnya wajib bagi perusahaan. Bukan untuk aktivitas karyawannya tetapi memberikan panduan agar hubungan kerja karyawan dan perusahaan bisa lebih harmonis, kondusif dan mutual,” jelas Edwin.

Pengawasan suatu hal yang harus dijalankan, keberadaan social media policy juga diperlukan untuk memberikan arahan kepada karyawan. Namun jangan melulu menyalahkan social media, ia bisa berguna bagi siapa saja yang pandai menggunakannya. “Tidak selalu menganggu, jika karyawan bisa mengontrol diri dan bisa memanfaatkan social media dengan baik, ya social media akan jadi tools pembantu kerja yang efektif,” tandas Edwin. (*/@nurulmelisa)

 

Tags: , ,