Telecommuting: Alternatif Cara Bekerja

Majalah Human Capital di beberapa edisi sebelumnya, sempat membahas mengenai bagaimana pimpinan memantau dan berkomunikasi dengan anak buahnya yang bekerja secara remote. Memang saat ini, telecommuting atau opsi yang mengatur karyawan agar dapat bekerja dari luar kantor, semakin menarik dan banyak digemari. Di Amerika Serikat, tidak kurang dari 27 juta orang memilih untuk bekerja dari rumah. Perusahaan pun banyak yang mulai menerima hal ini sebagai salah satu bentuk kerja sama dengan karyawan. Kesadaran akan perlunya life balance, ditambah kombinasi komponen waktu, biaya, belum lagi kemacetan bagi para pekerja di kota besar membuat model bekerja ini menjadi tren. Sementara bagi perusahaan, alasan, persaingan mencari pekerja terbaik atau war for talent, menjadi alasan utama.

Perbaikan serta inovasi di area telekomunikasi juga mempercepat penyebaran tren ini. Mulai dari perangkat keras seperti notebook yang semakin ringan dan mudah dibawa, hingga PDA yang semakin pintar. Belum lagi menjamurnya tempat nongkrong dan area yang menawarkan akses internet bebas. Kalaupun dianggap kurang, dengan harga yang cukup bersaing, sebuah modem internet lengkap beserta aksesnya dapat di peroleh. Berikutnya, atasan pegawai tersebut hanya perlu memonitor pekerjaan serta memastikan hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan.

Di Indonesia sendiri, meskipun belum tersedia hasil data survey, menurut pengamatan Majalah Human Capital, beberapa perusahaan mulai menerapkan hal ini, untuk berbagai posisi dan pekerjaan. Mulai dari industri media kreatif, teknologi, bahkan industri yang relatif lebih konfensional seperti perbankan. Memang sebagian perusahaan itu memiliki kantor pusat di luar negeri, sehingga praktek ini sudah dianggap biasa.

Bagi Anda yang berminat mencoba hal ini, silahkan saja. Hal mendasar yang perlu diingat adalah bahwa pekerjaan ini terjalin dan di dasari oleh kepercayaan tinggi dari pihak perusahaan maupun karyawan.

Namun ternyata keindahan ini tidak sepenuhnya benar. Dalam survey terakhir yang dilakukan oleh Rensselaer Polytechnic Institute menyimpulkan bahwa penerapan praktek telecommuting ini menimbulkan dampak kurang baik bagi karyawan yang tetap harus masuk kantor setiap hari. Diungkapkan, ada potensi timbulnya persepsi dari karyawan yang berada di kantor, mereka mendapat pekerjaan lebih banyak dengan fleksibilitas yang kurang. Selain itu, di deteksi pula, hambatan diantara mereka dalam berkomunikasi.

Oleh sebab itu usaha untuk menghilangkan kesenjangan diantara keduanya menjadi sangat penting. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa pekerjaan ini harus didasari oleh kepercayaan. Untuk itu, buatlah kontrak kerja sejelas mungkin. Pastikan bahwa pengukuran target kerja (KPI) yang berorientasi pada hasil, telah di definisikan dengan akurat. Bila perlu cantumkan pula detail mengenai berapa kali harus memberikan laporan, termasuk kapan saja mereka harus hadir di kantor.

2. Perjelas pula mengenai cara berkomunikasi. Telecommuting menghilangkan tradisi “jam kerja tatap muka”. Sebagai pengganti, perlu adanya kesepakatan dalam penetapan jam kerja serta bentuk berkomunikasi yang sesuai. Juga bagaimana agar mereka tetap dapat berkontribusi pada pekerja yang berada di kantor, serta pada saat bersamaan, juga mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dari rekan sekantor.

3. Pastikan karyawan yang bekerja secara remote tersebut tetap mendapatkan hak dan kewajibannya, termasuk penilaian kinerja serta pengembangan yang dibutuhkan. Termasuk untuk memberikan ide serta memperluas lingkup kerjanya. Keberadaan mereka harus tetap menjadi bagian dari organisasi, lengkap dengan kejelasan sistem pelaporan. Hal ini yang sering terlupa, karena banyak orang salah paham, menganggap bahwa Telecommuting hanya diperuntukkan untuk pekerjaan rutin. Padahal, semua hal tetap berlaku bagi mereka, kecuali lokasi tempat bekerja.

4. Ingatlah selalu tujuan dari pengalihan pekerjaan di kantor menjadi remote. Lakukan evaluasi terhadap produktifitas dan pencapaian target dari keputusan ini. Jangan ragu untuk menarik kembali dan mengembalikan pengerjaan pekerjaan ke kantor, jika diyakini cara ini tidak berhasil. Oleh sebab itu berikan penjelasan detil sebelum program ini dimulai.

5. Terakhir dan terpenting, lakukan komunikasi internal secara konsisten. Jelaskan pekerjaan apa saja yang memungkinkan dilakukan di luar kantor, berikut alasan serta bagaimana penilaian kinerja dilakukan. Adakan pula kegiatan ataupun pertemuan kerja, dimana para telecommuter dapat bertemu dan bertukar pikiran dengan rekan kantornya. Bicarakan pula bagaimana mereka bisa saling mendukung pekerjaan masing-masing. Melalui usaha tersebut, diharapkan kesenjangan dapat dihindari.