SRI, Teknologi Ramah Lingkungan

SRI dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi padi hingga dua kali lipat. Sistem pertanian yang ramah lingkungan ini sangat cocok diterapkan di Indonesia.

Jumat pagi, 13 Juni 2008. Departemen Pertanian, Jakarta, mengadakan workshop “Sistem Intensifikasi Padi” atau system of rice intensification disingkat SRI. Tiga pembicara utama hadir hari itu, yaitu Norman Uphoff ketua International Institute for Food Agriculture and Development (IIFAD) dari Cornell University, Ithaca, New York; Suichi Sato ketua konsultan Decentralized Irrigation System Improvement Project (DISIMP)-2 NIPPON KOEI dari Jepang dan Ismandi Anas, ketua Ina-SRI dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 20 tahun oleh Henri de Laulanie, peneliti berkebangsaan Perancis, pada 1960-an di Madagaskar itu membuahkan metodologi intensifikasi padi bernama SRI. Pada 1983 SRI merupakan salah satu metode untuk meningkatkan hasil produksi padi.

Penyebaran SRI dibawa oleh Norman Uphoff ke luar Madagaskar pada 1997 dua tahun setelah mangkatnya Henri de Laulaine. Bertemunya Uphoff dengan Assosiation Tefy Saina, organisasi yang didirikan oleh Henri de Laulanie di Madagaskar untuk mempromosikan SRI diyakini Uphoff sebagai salah satu pilihan dalam metodologi intensifikasi pertanian yang murah, mudah, dan ramah lingkungan. Setelah turut mengamati perkembangan petani Madagaskar menerapkan SRI, Uphoff memutuskan untuk memopulerkannya di belahan bumi lain. Hingga sekarang berbagai negara sudah menerapkan metode ini. Sebutlah India, Sri Lanka, Polandia (petani gandum-red), Vietnam, Jepang, dan Kuba. Di Indonesia, SRI berkembang sejak 1999.

Metode SRI, seperti dijelaskan Uphoff, adalah pilihan yang bisa membantu manajemen pertanian baik dari sisi alam maupun materi pertanian itu sendiri. SRI mampu menghasilkan produksi padi hingga dua kali lipat dari hasil produksi padi non SRI. Pengelolaan lahan sawah pun menjadi lebih bijak. Air dan tanah yang menjadi sumber kehidupan utama padi dapat dikelola dengan lebih bijaksana dan ramah lingkungan.

Padi SRI memang mencolok. Ukurannya yang lebih tinggi dan rimbun dibandingkan padi non SRI cukup menandai bahwa padi tersebut adalah jenis SRI. Tanda lainnya adalah padi SRI hanya berasal dari sebuah benih persemaian yang mampu tumbuh dalam kelembaban yang rendah. Itu berarti, petani tidak perlu membenamkan benih persemaian seperti yang biasa dilakukan pada pola bertani konvensional. Malah beberapa petani yang tidak tahu hal ini mengira padi mereka mati karena tanahnya kering. Padahal, inilah salah satu keunggulan SRI – mampu menghemat air. Kendati kandungan air di dalam sawah sedikit, padi SRI tetap dapat bertahan hidup. Rupanya itulah salah satu alasan SRI diciptakan, yakni: menghemat pemakaian air.

Sekadar contoh, dari sebuah benih persemaian bisa tumbuh sekitar 50 cabang dalam satu akar. Alhasil, bulir padi yang dihasilkan lebih banyak dari padi non SRI. Sebagai gambaran, jika padi SRI telah mencapai umur panen, tingginya kurang lebih mencapai satu meter, berat padinya jika diangkat dengan gundukan tanahnya bisa mencapai sekitar 15 Kg. Bila masa panen tiba, Anda hanya perlu sekali mencabut seperti layaknya memanen pohon singkong. Selain dicabut, SRI bisa juga dipanen dengan cara dipotong.

Di Indonesia, panen SRI sudah lebih dari lima kali. Pada bulan Juli 2007, presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berkesempatan menghadiri panen raya padi SRI di Subang, Jawa Barat. Beliau tersenyum melihat hasil panen yang berlimpah. Sedangkan di kecamatan Jereweh- Sumbawa, pada April 2008 lalu, padi SRI membuat petani di sana tersenyum puas. Pasalnya, dengan biaya relatif murah hasil yang didapatkan petani di Jereweh jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. “Indonesia adalah negara yang sangat efektif untuk menerapkan sistem SRI,” kata Uphoff. “Ketika Anda menggunakan SRI, Anda telah mengubah cara mengolah tanah, manajemen air, sekaligus menyelamatkan lingkungan,” tambahnya berpromosi.

Suichi Sato mengamini pendapat Uphoff. Bagi Sato, SRI dan Dewi Sri, lambang kesuburan tanah bagi pertanian di Indonesia merupakan filosofi yang bisa diterima masyarakat Indonesia. “Dengan menggunakan SRI, air bisa dihemat sebanyak 30%-60%,” katanya. Tentu ini kabar baik untuk kita semua mengingat cadangan air layak pakai makin berkurang. Pemanasan global pun makin terasa efeknya belakangan ini.

Ismandi Anas, Ketua Ina-SRI yang juga hadir di workshop tersebut mengatakan, SRI bukan segala-galanya. “Ini hanya satu pilihan intensifikasi padi yang baik. SRI di Indonesia didukung oleh berbagai institusi, yaitu Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Medco, DISMPP, dan NIPPON KOEI,” katanya bangga.

Anas menambahkan, SRI masih dalam tahap perkembangan. Di Indonesia SRI disambut hangat oleh masyarakat petani. “Jadi, masih banyak lapangan pekerjaan untuk penelitian,” katanya. Ia berharap, SRI dapat membawa angin segar bagi dunia pertanian Indonesia. Uphoff menimpali, penerapan SRI memenuhi kebutuhan yang timbul akibat masalah lingkungan dan pemanasan global. “Dilihat dari sisi ketahanan pangan, SRI sangat memungkinkan karena hasil panen lebih besar dua kali lipat,” ujarnya. Di samping itu, keunggulan SRI lainnya seperti dituturkan Uphoff adalah, kebutuhan airnya sedikit, modal menanamnya kecil, tidak membutuhkan pupuk kimia sehingga ramah lingkungan, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, tahan kemarau, kualitas beras yang lebih baik, dan menurunkan ongkos produksi sebanyak 10%-20%.

Uphoff menjelaskan, metode SRI bisa dikaitkan dengan pengembangan SDM terutama petani SRI. “Petani akan lebih sejahtera dan bisa memenuhi kebutuhan dasar akan makanan yang lebih baik dan bergizi. Ini artinya akan berpengaruh pada pertumbuhan mereka secara fisik dan membantu perkembangan otak anak. Kita semua setuju makanan yang baik akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan kualitas manusia,” kata Uphoff.

Pernyataan senada juga dicetuskan Sato. “Kandungan vitamin dan protein nabati pada beras SRI lebih baik dari pada beras non SRI. Nasi dari beras SRI bisa bertahan dua hari tanpa bau apek,” ujarnya memaparkan. “Jika makanan kita lebih baik gizinya, tentu akan baik untuk pertumbuhan tubuh kita. Kita akan jauh lebih kuat dan pintar. Inilah modal awal pembangunan sumber daya manusia,” tutur Sato bersemangat.

Terlepas dari semua keunggulan yang dimilikinya, SRI bukan dewi sempurna. Kebutuhan SRI terhadap pemakaian pupuk organik cukup signifikan. Sedangkan ketersediaan pupuk organik sampai kini masih jadi kendala di Indonesia. Justru, kendala ini bisa menjadi peluang bagi para pengusaha untuk memproduksi pupuk organik demi memenuhi kebutuhan SRI.

Harus diakui, perjalanan SRI masih panjang. Ironisnya, Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris kekurangan peminat di jenjang pendidikan S1. Hanya sedikit lulusan SMA yang melanjutkan pendidikannya ke jurusan pertanian. Kalaupun kuliah di bidang pertanian, mereka enggan bekerja di sektor tersebut. Ini terungkap dari pengakuan M. Ahmad Chozin yang dikutip dari web SRI Indonesia. Menurut Ahmad, wakil rektorat bidang akademik IPB, merupakan tantangan tersendiri bagi praktisi pendidikan agar jurusan pertanian menjadi primadona. Penurunan ini disebabkan program studi yang sudah terspesialisasi dan berhubungan dengan pertanian seperti hama, pemuliaan tanaman, tanah, dan penyuluhan dinilai kurang menjanjikan.

Padahal sudah jelas, Indonesia butuh banyak tenaga ahli pertanian. Dengan dukungan teknologi intensifikasi pertanian — salah satunya adalah SRI — pertanian akan tumbuh menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan.