Saving Money Dengan Green Technology

Masalah keterbatasan energi yang semakin hari semakin menipis tampaknya sudah menjadi perhatian dari berbagai pihak. Selain aktivis lingkungan dan pemerintah, berbagai macam instansi saat juga semakin memperhatikan isu tersebut.

Secara langsung, saat ini kita sudah mulai merasakan dampak penyusutan sumber energi seperti BBM mulai dari kenaikan harga minyak dunia sampai pembatasan penggunaan premium. Berbagai kondisi tersebut mau tidak mau membuat pimpinan perusahaan berpikir untuk melakukan efisiensi energi. Berbagai macam aplikasi yang dapat mensupport efisiensi energi saat ini sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan.

Penggunaan “green technology” dipercaya banyak pihak dapat menjadi solusi bagi perusahaan dalam mengatasi berbagai masalah keterbatasan energi saat ini. Apalagi “green technology” saat ini banyak memberikan kemudahan dan keuntungan bagi perusahaan.

“Saat ini perusahaan banyak yang membutuhkan aplikasi yang kompleks. Dimana aplikasi ini membutuhkan system yang kompleks pula. Oleh karenanya, perusahaan berharap supaya system pendukung yang ada harus mudah dan cepat diinstal, dan dapat digunakan untuk hardware dan operating system apapun”, kata Rudy Agus Kurniawan, Sales Director-Infrastructure PT Mitra Integrasi Informatika (MII). Ia juga menambahkan bahwa MII sangat mendukung solusi yang memiliki “green technology.”

MII merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultasi dan layanan outsourcing system teknologi informasi. MII saat ini bermitra dengan Citrix Systems Inc., pemimpin perusahaan global dalam industri TI khususnya pada bidang access infrastructure dan secure access yang berpusat di Fort Lauderdale, Florida. Citrix System selama ini dikenal memiliki keunggulan antara lain higher productivity, lower cost, disamping penggunaannya yang sangat terintegrasi dan “green technology”.

Kebutuhan akan perlunya sebuah system yang dapat menghemat konsumsi listrik dan energi juga diungkapkan oleh Yanuar Wijaya, Country Manager IBM System x. “Sebagai salah satu perusahaan pengguna energi terbesar, IBM memahami kebutuhan yang mendesak akan performa yang lebih tinggi tanpa konsumsi listrik atau ukuran system yang lebih besar, serta terus merangsang inovasi di bidang desain system yang hemat energi dan solusi-solusi pengelolaan energi yang proaktif”, katanya.

Virtualisasi
Selain dituntut untuk efisien dalam menggunakan sumber daya, salah satu ciri “green technology” adalah memberi kontribusi sampah dan emisi seminimal mungkin. Salah satu jawaban TI untuk mewujudkan “green technology” adalah melalui virtualisasi.
Awalnya virtualisasi didasarkan pada keinginan untuk memanfaatkan kapasitas atau sumber daya TI yang tidak digunakan. Misalnya sumberdaya harddisk yang belum terpakai dan kapasitas pemrosesan yang tidak selalu pada puncak kebutuhan namun terkendala dengan batasan-batasan fisik dari server maupun akses harddisk. Sehingga kelebihan sumberdaya itu tidak dapat diakses dengan mudah. Dengan virtualisasi, berbagai sumberdaya itu sekana tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat fisik dan dapat diakses bila dibutuhkan.

Salah satu perusahaan yang merasakan manfaat penggunaan “green technology” adalah Asuransi AIU Indonesia. Perusahaan anggota AIG, yang dikenal sebagai pemimpin industri asuransi dunia, menggunakan Citrix System dan telah diimplementasi di sekitar 60 cabang.

“Citrix telah membantu perusahaan asuransi atau finance industry dalam mengefisienkan application delivery. Terutama dengan banyaknya cabang, kami merasa sangat terbantu baik dalam hal mengelola pengguna, maintenance, agar sejalan dengan pertumbuhan bisnis serta mengefisenkan penggunaan bandwith”, kata Budi Setiono, IT Manager AIU Indonesia.

Kepada HC, Budi bercerita bahwa pada awalnya ia menjalankan Citrix di tiga cabang di jabotabek. Setelah system ini selesai terpasang di tiga cabang ini barulah ia mengimplementasikan ke cabang-cabang lain di luar kota seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam jangka waktu dua sampai tiga bulan, Budi mengaku system tersebut telah dioperasikan di 37 cabang.

“Itu sekitar bulan September, Oktober 2005 dan sudah terimplementasi penuh sekitar bulan November 2005 untuk 37 cabang itu. Cabang-cabang berikutnya setiap kali tambah cabang otomatis langsung implementasi Citrix”, sambungnya.

Selain dapat mendukung efisiensi sumber daya, Citrix system seperti juga dikatakan Budi dapat me-reduce cost dari komunikasi secara signifikan. “Misalnya kita hitungan roughly lah, 60 cabang misalnya, masing-masing cabang kan expend nya sekitar 6 juta x 60 (cabang) berarti 360 (juta). Ditambah katakan 20 juta di head officer untuk bandwith yang 3 Meganya. Itu berarti rata-rata 380 atau let’s say 400 juta lah average per bulan.”

“Kalau menggunakan Citrix ini bisa untuk mendeliver 60 cabang. Nah kalau tanpa Citrix ini harus di upgrade sekitar katakan 20% dari itu. 20% dari yang tadi saya bilang 400 juta itu berarti 80 juta per bulan. Jadi itu yang bisa di save. Dalam setahun 80 (juta) x 12 yaitu sudah cukup signifikan, 960 juta. Jadi saya bilang sih cukup banyak. Satu hal lain lagi, dari sisi komunikasi. Kita nggak perlu menggunakan komunikasi yang bayar lagi, tapi menggunakan komunikasi yang interen, itu free antar cabang. Jadi itu otomastis akan reduce cost dari komunikasi”, jabarnya panjang lebar.

Saat ini untuk lebih meningkatkan efisiensi dari system tersebut, PT IBM Indonesia telah melakukan kerjasama dengan Citrix. Dengan menggunakan IBM Blade Server yang mampu mengkonsolidasi kebutuhan server baik secara fisik maupun virtual dan menggunakan Citrix Presentation Server yang memungkinkan akses aplikasi hampir dimana saja dan kapan saja dengan beragam device.

Dengan pemusatan data center di satu tempat yang ditunjang server yang terkonsolidasi tentunya akan lebih hemat ketimbang mempunyai server dengan aplikasi yang berada di 20 cabang, misalnya. Selain dari sisi investasi, biaya pemeliharaan dan kompleksitas permasalahan yang mungkin dihadapi dengan konsep konsolidasi ini akan memberikan keuntungan dan kemudahan dari sisi pemeliharaan baik server, aplikasi maupun user. Pendeknya Total Cost of Ownership menjadi jauh lebih efisien. (adt)