Saatnya Era Wireless Communication Technology

Di Amerika Serikat, teknologi komunikasi terus bertumbuh di kalangan tenaga kerja. Terhitung sejak 2007, terdapat lebih dari 60 juta alat komuniaksi tradisional yang kebanyakan dioperasionalisasikan dari rumah. Melalui bantuan teknologi wireless, ada lebih dari 50 juta alat komunikasi yang bersifat additional yang digunakan di bidang pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu di luar kantor seperti sales dan eksekutif.

Saat ini, kecenderungan penggunaan wireless communication technology bahkan meluas ke lapisan pekerjaan yang banyak bergelut di kantor. Apalagi kecenderungan di dunia kerja saat ini memungkinkan pekerja untuk tidak hanya melakukan pekerjaan di dalam kantor. Hal ini membuat pekerja yang menggunakan teknologi ini kebanyakan adalah pekerja yang memiliki flexible time dan menghabiskan waktu bekerjanya di luar kantor.

Saat ini ada beberapa teknologi komunikasi yang cukup popular seperti Third Generation (3G) wireless mobile phones, wireless network infrastructure, wireless portable computer sampai personal digital assistants (PDA) dan notebook computer. Dengan berbagai macam wireless communication technology yang tersedia, pekerja dimungkinkan untuk berkomunikasi dengan kantornya setiap saat.

Untuk working style saat ini yang cenderung bersifat “business nomad” seperti sales yang mobilitasnya tinggi, wireless technology communications ini sangat diperlukan untuk menunjang pekerjaan mereka. Hal ini mengingat customer demand yang membutuhkan pelayanan yang cepat serta pressure pekerjaan yang mau tidak mau membuat pekerja harus dapat bekerja dengan produktif. Untuk menjawab tantangan tersebut, penggunaan wireless communication technology untuk saat ini dapat menjadi jawaban bagi perusahaan.

Salah satu contoh perusahaan yang mengoptimalkan peran wireless communication technology dalam menjalankan bisnisnya adalah PT. IBM Indonesia. Di IBM, wireless communication technology sejauh ini dapat digunakan sebagai alat penunjang bagi pekerjaan sales mereka. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Mohammad Gozie I. Dalel, Country Manager IBM System Storage.

“Karena kebutuhan saya sebagai sales harus banyak berhubungan dengan customer, jadi kita harus mobile karena customernya kan dimana-mana. Jadi kita banyak meeting di luar yang membutuhkan demand mobility in terms of saya harus punya semacam tools atau akses”, ujar pria yang biasa disapa Gozie ini. “Saya harus be able to communicate directly dengan people saya yang di lokal maupun di luar, dari tempat-tempat dimana pun. Semua itu sangat di-encourage IBM”.

M-Learning
Berbagai aplikasi yang dapat diakses melalui wireless technology saat ini memang sangat beragam. Bila dulu paling banter hanya bisa mengakses e-mail dan voice communications, saat ini sudah banyak aplikasi-aplikasi yang dapat diakses. Kebutuhan akan perlunya berbagai macam apliaksi yang memuat berbagai macam informasi dikarenakan saat ini sales harus mempunyai keahlian untuk mengerti dan memiliki pemahaman mengenai berbagai macam produknya.

Contohnya, sales di industri retail harus mengetahui berbagai macam produk, persaingan kompetisi dan perubahan harga. Sementara itu di pharmaceutical, sales yang berada di area tersebut selain harus mengerti tentang produk dan persaingan kompetisi juga harus dapat berkomuniaksi dengan dokter mengenai efek samping atau dosis yang dibutuhkan untuk mengkonsumsi suatu produk.

Saat ini, sales team sudah banyak dibekali mobile devices dan wireless technology untuk mengakses informasi dalam bentuk mobile learning (m-learning). Sudah banyak perusahaan-perusahaan yang menyadari bahwa learning merupakan business priority sehingga mereka membangun aplikasi yang memungkinkan untuk mengakses m-learning.

Menurut Gozie, pekerjaanya sangat terbantu dengan adanya teknologi ini. “Semua dibekali oleh semacam ThinkPad yang sudah dilengkapi oleh aplikasi-aplikasi misalnya e-mails, vacation claims, terus juga connection ke IBM portal yang banyak terdapat source of knowledge-nya”.

Menurut laporan IDC pada Juli 2004 mengenai “U.S. Handhelds in the Retail Industry 2004-2007 Forecast: Queue Busting and Shelf Stocking”, menghasilkan laporan bahwa m-learning memungkinkan retail industry untuk melakukan tiga hal. Yang pertama adalah penghematan biaya. Seperti kita ketahui, dengan training karyawan baru mau tidak mau perusahaan harus mengeluarkan pengeluaran yang tidak sedikit.

Menurut hasil laporan ini, turnover rates berada pada tingkat yang tinggi yaitu 40% per tahun. Hal ini terjadi karena sales kurang melakukan pesiapan sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan dari klien mengenai produk dengan baik. Sehingga mengakibatkan karyawan tersebut frustasi dan mengalami penurunan kepercayaan diri. Dengan training yang baik yang dapat dilakukan melalui m-learning, sales akan dapat menguasai pengetahuan tentang produk, puas dengan pekerjaannya, sehingga turnover akan berkurang dan biaya training bisa dihemat.

Kedua adalah peningkatan kualitas pelayanan customer. Dengan m-leraning , sales tentunya dapat mengetahui segala pernik tentang suatu produk dengan baik. Dengan sendirinya, hal itu akan membuat customer terbantu dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh sales tersebut.

Yang ketiga adalah peningkatan penjualan. Meskipun pembelajaran di dalam kelas juga merupakan hal yang penting, seseorang tidak dapat melakukan penjualan selama dia hanya duduk di dalam kelas atau mengakses e-learning material secara online. Sementara itu dengan apliaksi m-learning dari mobile devices, sales dapat belajar sambil melakukan penjualan. (adt)