Perisalah, Inovasi Membanggakan Karya Anak Bangsa

Apa jadinya kalau notulensi dalam persidangan atau rapat dikerjakan secara manual? Tentu, butuh banyak notulen dengan kemampuan menulis cepat untuk merekap hasilnya. Jika tidak, beberapa informasi penting mungkin bakal terlewat. Namun, dalam waktu dekat kendala ini dapat diatasi dengan hadirnya sebuah alat bernama Perisalah. Apa keistimewaannya?

Berapa banyak institusi pemerintahan yang mempunyai ‘pekerjaan rumah’ berupa transkrip hasil rapat? Bayangkan, untuk sebuah rekaman satu jam rapat, memakan waktu tak kurang dari dua jam untuk mentranskripnya. Padahal, yang namanya rapat sudah menjadi kebutuhan dan berlangsung dalam intensitas yang tinggi. Waktu untuk mentranskrip sebenarnya dapat dipangkas, tetapi butuh biaya besar mengingat pekerjaan tersebut harus melibatkan banyak notulen.

Dalam waktu dekat, persoalan tersebut dapat diatasi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menemukan sebuah alat yang dapat melakukan pekerjaan transkrip yang diberi nama Perisalah. Direktur BPPT, Dr. Tatang A. Taufik, menjelaskan, Perisalah adalah sistem pengenal wicara Bahasa Indonesia untuk solusi risalah/notulensi rapat secara otomatis. Menurutnya, penemuan alat ini berangkat dari riset yang pernah dilakukan dua tahun lalu. Awalnya, penelitian tersebut dikembangkan oleh LiSan, gabungan Linux dan lisan, yakni sistem pengenal wicara Bahasa Indonesia untuk perintah komputer dan penulisan dokumen.

Dari LiSan, lanjut Tatang, fiturnya ditingkatkan menjadi SIDoBI atau Sistem Ikhtisar Dokumen untuk Bahasa Indonesia. “Dengan SIDoBI kita bisa meringkas dokumen sesuai yang diinginkan, misalnya ada 10 halaman bisa kita susutkan 50% atau 25%-nya. Bisa juga berdasarkan jumlah karakter yang diinginkan,” tuturnya.

Saat ini tim BPPT sedang berkonsentrasi untuk menyempurnakan alat ini. “Kami berharap Perisalah bisa dirilis awal Mei ini, sehingga tidak hanya untuk aplikasi riset tapi bisa dikembangan ke pasar komersial,” ungkap Tatang. Ia memberitahu, pada awalnya perisalah dikembangkan oleh litbangyasa BPPT yang lebih bersifat push-tecnology. Namun, “Beberapa tahun belakangan kami mendorong agar riset ini mengarah kepada market driven. Ini yang membuat teman-teman di BPPT lebih menyadari dan melihat tantangan pasar yang kompleks,” Tatang menerangkan.

Ia melihat, Perisalah memiliki potensi pasar yang belum digarap oleh kompetitor. “Perisalah bisa dipercepat agar tidak kehilangan momentum. Selain itu, kami ingin membantu perkembangan teknologi nasional. Jadi, bukan sebatas penguasaan teknologi saja,” ia menambahkan.

Karena itu, lanjut Tatang, BPPT berkonsentrasi pada pengembangan aplikasi, sedangkan marketing bisnisnya dipegang oleh PT Inti. “Ini kerja sama yang win-win. Kami ingin produk dari Litbangyasa BPPT bermuara kepada industri. Di sisi lain, dari sisi industri kami berharap dapat mengembangkan bisnis lewat inovasi-inovasi teknologi. Mudah-mudahan ke depan hal ini akan membuka cakrawala baru pengembangan ICT di Indonesia,” tuturnya.

Dari sisi pembiayaan, Tatang mengungkapkan, dibanding total revenue yang akan dihasilkan, biaya yang dikeluarkan saat ini tidak seberapa. “Jelas akan jauh lebih besar pemasukannya karena pasar pengguna alat ini sangat luas. Misalnya, lembaga pemerintahan baik pusat maupun daerah, tentu sering melakukan pertemuan-pertemuan. Kedua, pengelola gedung pertemuan. Sejauh ini gedung pertemuan hanya menyiapkan ruangan untuk rapat. Ketika dia mampu menyediakan fasilitas notulensi otomatis, maka akan menjadi nilai tambah baginya. Di samping itu, perusahaan-perusahaan yang mempunyai agenda pertemuan secara rutin juga menjadi sasaran kami,” katanya antusias.

Ke depan, Tatang memaparkan, Perisalah dapat dikembangkan ke produk lain. “Data suara bisa dikembangkan terutama yang berkaitan dengan natural language processing, misalnya di industri wisata. Dengan gadget tertentu alat ini bisa menggantikan fungsi kamus dan seolah-olah dia membawa seorang guide. Tentu masih banyak manfaat lainnya. Pengembangan teknologi digital adalah sebuah keniscayaan, sehingga kalau kita mempunya database jelas sangat berguna,” ujarnya.

Sementara itu, Oscar Riandi, salah seorang inovator Perisalah yang HC temui di kantor BPPT, menegaskan, masalah utama dalam membuat risalah pertemuan selain lamanya proses transkrip yang dilakukan notulis, juga menyangkut keamanan dan kerahasiaan kalau pekerjaan notulensi dikerjakan oleh pihak ketiga. “Kita banyak melihat kasus kebocoran data suara dan transkrip sering menimbulkan dampak ekonomi, sosial dan politik yang besar,” kata Oskar memberi alasan.

Secara teknis, Oskar menerangkan, Perisalah akan mentranskrip setiap kata yang diucapkan peserta rapat ke dalam bentuk tulisan, runut sesuai jam, menit dan detiknya, sehingga dengan mudah diketahui kapan, siapa dan berbicara tentang apa secara realtime. Ia menyebut Perisalah memiliki tiga fungsi utama. Pertama, merekam suara rapat dan mengubahnya menjadi teks transkripsi secara otomatis dan real time. Kedua, meringkas teks transkripsi tersebut menjadi teks resume. Dan ketiga, menjadi media pengelola arsip rapat.

Selain fungsi tersebut, lanjut Oskar, Perisalah juga memiliki beberapa fitur lain, seperti edit “on the fly”, yang memungkinkan notulis melakukan koreksi terhadap kesalahan transkrip pada saat pertemuan berlangsung. Fitur pencarian, akan memudahkan pencarian data dan informasi (dari sisi pembicara maupun konten rapat). Dari sisi keamanan data dan informasi pun cukup terjaga karena penyimpanan data suara maupun teks menggunakan tanda tangan digital.

Oskar menambahkan, Perisalah juga bisa melakukan multiple meeting handling, yakni dapat secara simultan melakukan transkrip beberapa pertemuan yang dilakukan di ruang berbeda sekaligus karena control server pada sistem multiple meeting handling memudahkan pembagian tugas dan pengelolaan transkrip rapat multi ruang.

Dibandingkan cara konvensional, Oskar yakin, Perisalah memiliki beberapa keunggulan, seperti meningkatkan akurasi dan kecepatan pembuatan risalah pertemuan, meningkatkan keamanan data dan informasi, serta menghemat biaya notulis. “Selain itu, membantu transparansi proses pengambilan keputusan dan memiliki kemampuan mengelola rapat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi PT Inti, seperti disampaikan Elfi Malano, PIC Divisi Content, ketertarikan perusahaannya untuk ikut menanam investasi di Perisalah karena memiliki semangat kebersamaan untuk mengembangkan teknologi di Tanah Air. “Soal harga kami belum memutuskan, tapi yang jelas ada persentase dari hasil penjualan yang akan dikembalikan ke BPPT untuk pengembangan ke depan,” katanya.