Pekerja Swedia Ditanamkan Chip, Untuk Apa?

MicroChip

Para Swedes (orang Swedia) sepertinya berhasil mengukuhkan diri sebagai pionir kebijakan HR yang paling tidak biasa. Dua tahun yang lalu, Swedia memperkenalkan eksperimen enam jam kerja yang diaplikasikan dalam fasilitas kesehatan di Gothenburg. Meskipun menarik perhatian dunia, namun ternyata pemerintah Swedia memutuskan untuk mengakhiri eksperimen tersebut pada awal tahun ini. Hal ini disebabkan biaya operasional yang meninggi karena harus merekrut pekerja lebih banyak untuk menutupi jarak antar shiftnya.

MicroChip

(Jowan Osterlund from Biohax Sweden, holds a small microchip implant, similar to those implanted into workers at the Epicenter March 14, 2017. AP Photo/James Brooks)

Tidak berhenti dari kebijakan enam jam kerja, kali ini Swedes kembali menggegerkan dunia. Diketahui bahwa perusahaan startup teknologi, Epicenter, telah menyuntikkan microchip kepada para pekerjanya. Hal ini telah dilakukan sejak Januari 2015. Sampai saat ini, total 150 orang pekerja telah ditanamkan microchip tersebut. Microchip ini disuntikkan diantara ibu jari dan telunjuk.

Menurut CEO Epicenter, Patrick Mesterton, keuntungan terbesar dari penanaman microchip ini adalah kenyamanan. “Pada dasarnya itu (microchip) menggantikan berbagai alat komunikasi yang dimiliki. Entah itu kartu kredit ataupun kunci,” ungkap Mesterton. Microchip yang ditanam dapat berfungsi untuk membuka pintu, mengoperasikan printer, bahkan membeli barang hanya dengan melambaikan tangan.

Meskipun tidak berbahaya bagi tubuh, namun penanaman mircrochip ini meningkatkan kekhawatiran mengenai masalah keamanan dan privasi. Microchip dapat menunjukkan kapan Anda datang dan pulang ke kantor, apa saja yang Anda beli setiap harinya, apa saja kegiatan Anda setiap saat dan hal-hal pribadi lain yang mungkin tidak ingin diketahui orang lain.

Menurut Ben Libberton, seorang mikrobiolog, data yang didapatkan dari chip yang ditanam di tubuh sangat berbeda dengan data yang Anda dapatkan dari smartphone. “Anda bisa mendapatkan data mengenai kesehatan, lokasi di mana Anda berada, seberapa sering Anda bolos kerja, berapa lama Anda bekerja, bahkan hingga berapa kali Anda ke toilet setiap harinya,” ungkap Libberton.

Informasi tersebut sangatlah besar. Pertanyaannya sekarang, akan diapakan data tersebut? Siapa yang akan mempergunakannya dan untuk apa.

Meskipun kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi meningkat, namun microchip ini tetap populer di kalangan pekerja Epicenter. Mereka memiliki event bulanan di mana para pekerja dapat ditanam chip secara gratis. Selain itu mereka juga membuat pesta bagi mereka yang sudah ditanamkan chip. (*)