Menciptakan Kreasi Demi Efisiensi

Kreativitas bagi seorang praktisi TI merupakan hal yang wajib. Tak hanya itu, para spesialis TI juga harus mampu beradaptasi dengan cepat mengingat perkembangan di dunia ini hitungannya hanya nano detik. Untuk bisa seperti itu, seorang praktisi TI membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tak terkecuali SDM TI di perusahaan besar seperti PT Adhi Karya (Persero), pun memerlukannya.

Ambil contoh Budi Hermawan, IT Specialist di divisi Engineering Procurement and Construction (EPC) Adhi Karya. Budi yang sehari-harinya dibantu seorang rekan ini memaparkan bahwa kebutuhan TI di divisi EPC harus bisa diterjemahkan semaksimal mungkin tanpa mengabaikan tujuan efisiensi. “Divisi TI di Adhi Karya secara umum terkonsentrasi di pusat. Kami di divisi EPC berperan sebagai representative saja dan untuk pengembangan sistem kami mengacu pada aturan dari pusat,” tutur Budi membuka pembicaraan.

Dijelaskannya, saat ini tim TI di Adhi Karya yang ditempatkan di kantor pusat ada 7 orang dan di kantor perwakilan masing-masing dua orang, yaitu satu sebagai adminstrator dan lainnya sebagai teknikal support. “Kebetulan saya di sini merangkap dua-duanya,” ujar Budi. Apa yang dilakukannya sehari-hari? “Mulai dari pemilihan software dan hardware. Untuk masalah pembelian dilakukan oleh bagian procurement. Kami hanya memberi rekomendasi dan analisis teknis,” tuturnya menjelaskan.

Menurutnya divisi EPC yang dia tangani membagi sistem menjadi dua bagian, yaitu pengembangan sistem dan technical support. “Technical support yang diberikan berupa perawatan hardware maupun program bakti sosial yang sudah berjalan selama ini. Sedangkan yang dimaksud pengembangan sistem adalah proses mengadaptasi. Paling tidak kami berusaha menyejajarkan atau mengejar ketinggalan sistem yang sedang berjalan di sini,” lanjutnya.

Sistem yang terdapat di divisi EPC diakuinya belum terintegrasi dengan baik. “Artinya, kami belum terkait dengan bidang keuangan. Sistem database yang kami pakai dulu adalah SQL sekarang mau bermigrasi,” ungkapnya memberitahu. “Aplikasinya berupa sistem informasi akuntasi, cost control dan HR. Belakangan ini tim TI pusat sedang mengembangkan source cord yang saat ini baru berjalan kurang lebih 95%,” ujar Budi menjelaskan.

Efisiensi tampaknya menjadi alasan kuat mengapa divisi ini akan bermigrasi dari Windows base ke Linux base. “Alasannya karena Linux jauh lebih murah dan bisa mengembangkan sendiri source cord-nya,” ungkap Budi. Di samping itu, ia menambahkan, fasilitas source cord-nya disediakan pula oleh Linux.

Budi membenarkan bahwa migrasi atau pindah sistem membutuhkan waktu untuk sosialisasi dan adaptasi, namun tidak akan menyulitkan user. “Perlu digarisbawahi bahwa yang bermigrasi hanya server-nya saja. Para user tetap pakai Windows, tapi di belakangnya ganti database. Ini tidak akan mengubah kebiasaaan user,” ujar Budi meyakinkan. “Tampilan di user monitor memakai PHP, sedangkan di dalamnya menggunakan Post Gre SQL. User tetap akan menggunakan browser yang familiar dengan kebiasaan mereka, yaitu Internet explorer,” ujarnya menjelaskan.

Untuk menambah keterampilan dan keahlian dalam mengaplikasikan Linux base, Budi dkk. melakukan pelatihan dari Linux Fundamental. “Pelatihan PHP dan Post Gre melibatkan tim TI pusat dan TI representative yang jumlahnya kurang lebih 12 orang,” katanya. “Tapi yang mengikuti pelatihan itu hanya orang-orang yang ada di posisi kunci saja,” tambahnya. “Saat ini kemajuannya baru 95%. Kami sebenarnya sudah sosialisasi ke seluruh cabang. Dalam hal ini kami akan membangun sistem online HR, cost control dan marketing,” ungkap Budi.

Demi kepentingan departemen HR, sistem online yang akan dikembangkan adalah sistem rekrutmen dan mobilitas di setiap cabang. Sistem online ini direncanakan berupa portal dan setiap divisi punya akses untuk masuk ke portal tersebut. “Super user-nya adalah Manajer HR di masing-masing cabang dan staf HR cabang sebagai end user dan data entry,” ujar Budi menjelaskan.

Menurut Budi sejauh ini rencana tersebut sudah masuk tahap penyelesaian. “Semoga tahun ini sudah berjalan. Ini masih tahap awal karena yang mengetahui sistem pengembangannya adalah PT Adhi Karya, bukan divisi EPC,” Budi menegaskan.

Budi memastikan ada banyak keuntungan jika sistem di perusahaan terintegrasi dengan baik. “Salah satunya kita bisa mengetahui progres perusahaan. Semenjak saya bergabung di sini tahun 2004, saya lihat semua aplikasi masih sederhana,” ujarnya. Saat itu, ia melihat sistem networking-nya masih kurang tertata. Ia membantu menatanya dan dikreasikan sistemnya sesuai kebutuhan. Walaupun saat ini sudah ada peningkatan, saya menganggap kreasi saya juga masih sederhana,” katanya.

Dalam pandangannya, TI di divisi EPC Adhi Karya yang ia tangani memiliki keunikan. Yaitu, domain website perusahaan yang berbeda dari kantor pusat dan divisi lain. “Kami memang unik. Seharusnya kami hanya punya satu domain, yakni adhi.co.id. Tapi kami menggunakan domain sendiri yaitu adhikarya.com,” ungkapnya. Di samping itu, ia melanjutkan, “Untuk sistem email-nya kami bikin hosting sendiri alias tidak hosting di mana-mana. Pertimbangannya adalah biaya dan kecepatan. Saya berusaha membuat mail server di sini. Jadi tidak mampir kemana-mana dulu,” kata alumni universitas Budi Luhur ini memaparkan.

Cara yang dilakukannya itu sudah pasti dapat mengurangi biaya-biaya yang tak perlu. “Bayangkan kalau kita hosting di luar, biayanya mencapai Rp 25 ribu/mail. Kalau misalnya ada 200 alamat email dikali Rp 25 ribu, kurang lebih Rp 5 jutaan,” Budi berhitung. Selain itu, juga efisiensi waktu. Jika hosting di luar untuk email, kita kirim email ke satu ruangan saja butuh bandwith Internet. Sementara dengan server sendiri, Budi bisa memakai bandwith lokal (LAN).

Budi memaparkan, upaya yang dilakukannya mengandung dua kepentingan, yaitu mendukung lingkup divisi dan mendukung proyek di divisinya. “Misalnya, kami dapat proyek download, lalu kami bangun kantor sementara. Semua akan terintegrasi untuk mengakses data,” Budi mencontohkan.

Contoh lainnya, ungkap Budi, “Kami sedang ada proyek pembangkit listrik di Lampung sebesar 2×100 Megawatt. Kami mengintegrasikan jaringan tersebut dengan menggunakan radio frekuensi 2,3 Hz. Jadi rekan-rekan yang ada di proyek yang berjarak 2 Km itu sudah terintegrasi dalam satu jaringan dengan kami di sini. Mereka bisa akses mail server dan data center dari sini. Relatif cepat karena efisien,” tuturnya. Dengan demikian, mereka tinggal download dan upload data dari server saja. “Untuk data center kami menggunakan aktif data direktori. Sementara untuk domain memakai domain sendiri, yaitu pltulampung.co.id,” tambahnya.

Menelisik jenis pekerjaannya yang seperti itu, seorang praktisi TI di mata Budi harus bisa meningkatkan pengetahuan terus-menerus. “Membaca buku, mengikuti seminar dan training, serta mencari informasi melalui Internet sangat membantu dan mudah diakses. Kita dituntut untuk berubah terus,” katanya menandaskan. Budi menilai, justru di situlah letak tantangan dan keasyikannya.

Budi berani mengatakan bahwa menerapkan TI tidak sulit asalkan mau banyak bertanya dan belajar. “Jangan segan untuk sharing knowledge dengan sesama teman TI. Menurut saya, orang TI itu relatif solid. Dia tidak harus sekolah tinggi banget. Itu bukan yang utama, tapi yang penting bagaimana kita bisa bergaul di lingkungan orang-orang TI,” katanya serius. Sejauh ini ia melihat banyak orang TI yang bukan berasal dari latar belakang pendidikan TI. “Mereka tertarik dengan dunia TI karena senang membaca, rajin browsing dan sering bertanya kepada orang TI,” ungkap Budi.

Bagaimanapun, tidak ada sesuatu yang mutlak dalam mengaplikasikan TI di perusahaan. Budi membenarkannya. “Lihat kebutuhannya saja. Terkadang orang hanya ikut-ikutan. Yang perlu diingat adalah, TI itu sebagai alat bantu saja,” tuturnya memberi saran.