Masih Relevankah “Kerja Kantoran”?

Dell2

Jika ada satu hal yang terus menerus mengalami revolusi dengan cepat dari masa ke masa, maka hal tersebut adalah teknologi. Dan tentunya kita sepakat bahwa perkembangan teknologi tersebut memberikan pengaruh pada berbagai aspek, termasuk dunia kerja dan lebih spesifiknya adalah bidang Human Resource (HR).

Baru-baru ini, dua perusahaan yang bergerak di bidang teknologi mobile dan chips , Dell dan Intel, mengadakan sebuah riset tentang peran teknologi terhadap dunia kerja dan sejauh mana teknologi akan mengubah dunia kerja tersebut. Isu yang paling relevan dengan penelitian tersebut adalah adanya fenomena bekerja dari mana saja (telecommuting) karena teknologi memungkinkan hal tersebut.

Dalam riset yang bertajuk “Dell Global Evolving Workforce” tersebut, didapatkan hasil bahwa ke depannya, akan terbentuk tren-tren baru berkaitan dengan teknologi, di antaranya:

1. Tidak ada “one size fits all”

Di berbagai belahan dunia, karyawan bekerja menggunakan lebih dari satu perangkat ketika bekerja. Setelah diteliti, ternyata lebih dari separuh responden yang bekerja menggunakan desktop, juga bekerja menggunakan perangkat lain seperti tablet atau laptop. Penggunaan lebih dari satu perangkat atau 2-in-1 ini semakin banyak ditemui pada karyawan jajaran eksekutif di negara-negara berkembang. Dari perangkat-perangkat tersebut, karyawan sangat memperhitungkan “performa” sebagai catatan penting penetapan pemakaian suatu device.

Dell

Jenis bidang kerja sebuah bisnis juga berpengaruh terhadap kecenderungan karyawan atau pemberi kerja memilih perangkat. Desktop atau PC biasanya banyak digunakan pada perusahaan di industri keuangan, kesehatan umum dan pemerintahan. Sedangkan untuk bekerja di rumah atau urusan pribadi, karyawan lebih banyak menggunakan perangkat yang sifatnya mobile atau mudah dibawa berpindah seperti laptop, tablet dan sebagainya.

Baca juga: 5 Cara Tingkatkan Produktivitas dengan Telecommuting

2. Kantor masih dominan, tetapi berpotensi menimbulkan gangguan

Untuk saat ini, kantor masih dikatakan sebagai tempat bekerja yang utama. Sebanyak 97% karyawan yang disurvey mengaku menghabiskan beberapa jam di kantor. Di negara maju, karyawan rata-rata menghabiskan sekitar 32 jam di kantor setiap minggunya, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata waktu yang dihabiskan karyawan di negara berkembang yakni selama 26 jam.

Dari riset tersebut, disebutkan pula bahwa rata-rata karyawan menghabiskan waktu selama 4 jam untuk bekerja di lokasi luar kantor, seperti kantor klien, dua jam di tempat umum dan 5 jam perminggu bekerja di rumah.

Meskipun kantor masih mendominasi sebagai tempat kerja karyawan, lingkungan kantor juga berpotensi menimbulkan gangguan. Sebanyak 48% mengatakan bahwa mereka seringkali terganggu ketika harus bekerja di kantor bersama rekan-rekannya. Hampir 1 dari 5 karyawan menggunakan earphone ketika sedang bekerja di kantor. Dan jumlah tersebut menjadi dua kali lipat bagi mereka yang sering terganggu. Kantor pun ternyata tidak membantu dalam memperbaiki komunikasi interpersonal. Penelitian menunjukkan bahwa 21% karyawan lebih suka berkomunikasi menggunakan email atau IM.

Dell2

3. Isu produktivitas, Kantor Vs Remote

Persepsi bahwa bekerja di rumah tidak produktif, bergeser setelah 52% karyawan yang pernah bekerja di rumah mengaku bahwa mereka lebih produktif atau setidaknya sama produktifnya dengan saat mereka bekerja di kantor. Namun, besar persentasenya juga berlainan di berbagai negara. Di China, India, Turki dan Uni Emirat Arab, didapatkan hasil bahwa bekerja di rumah justru menimbulkan rendahnya produktifitas. Sedangkan 29% responden di negara-negara maju tidak yakin mana yang lebih produktif, rumah atau kantor. Bekerja di rumah juga dapat memberikan beberapa manfaat di antaranya waktu tidur yang lebih lama (diakui 30% responden), berkurangnya waktu tempuh perjalanan (40%) dan tingkat stress yang lebih sedikit (46%).

Meskipun demikian, bekerja dari rumah juga bukan tanpa hambatan. Hambatan tersebut misalnya adanya interupsi dari orang tua, anggota keluarga lain dan bahkan hewan peliharaan. Dengan bekerja di rumah, sebagian orang juga mengaku bahwa waktu olah raganya menjadi berkurang. Sementara itu, 38% responden mengaku bahwa mereka menjadi lebih banyak mengonsumsi makanan ringan.

4. Batas antara kehidupan personal dan professional yang semakin kabur

Perkembangan teknologi menawarkan semakin banyak pilihan bagi karyawan untuk menentukan kapan dan di mana mereka akan menunaikan kewajiban professional mereka. Sebanyak 64% karyawan menyampaikan bahwa mereka masih tetap bekerja setelah tiba di rumah. Di negara-negara berkembang, karyawan juga semakin diharapkan untuk bisa dihubungi ketika berada di rumah, dengan persentase sebasar 83% menyatakan masih membuka email kantor ketika sampai di rumah. Angka tersebut jauh sekali jumlahnya dibandingkan dengan negara maju yakni sebesar 42% saja.

Kaburnya garis pemisah antara kehidupan kantor dengan pribadi semakin terasa di kalangan eksekutif. Mereka lebih sering menggunakan teknologi pribadi untuk mengerjakan tugas kantor, yakni sebesar 64% responden dibandingkan staff biasa yang hanya berkisar 37%. Kaum eksekutif ini pun memiliki kecenderugan lebih tinggi untuk memakai fasilitas kantor untuk keperluan pribadi (45% dibanding 20%), serta mengakses situs atau software pribadi di kantor (67% dibanding 49%).

Lebih dari setengah karyawan yang disurvey juga mengatakan bahwa mereka kerap kali menggunakan perangkat pribadi untuk mengerjakan tugas kantor dan 43% di antaranya melakukannya secara diam-diam. Tentunya hal ini cukup merepotkan  Departemen IT karena mereka tidak dapat mengontrol data yang sebetulnya adalah milik kantor.

“Tantangan yang dihadapi oleh banyak departemen TI adalah bagaimana mengelola dan mengamankan jumlah perangkat yang terus bertambah, yang digunakan di dalam dan di luar sebuah organisasi. Smartphone, khususnya, menjadi perangkat utama di balik model Bring Your Own Devices (BYOD),” kata Bob O’Donnell, pendiri dan chief analyst, TECHnalysis Research. “Hal tersebut memaksa banyak organisasi berpikir ulang cara mereka mengelola perangkat, khususnya yang tidak dibeli atau tidak sepenuhnya bisa diakses oleh departemen TI.”

5. Teknologi adalah rahasia kebahagiaan karyawan

Satu dari empat karyawan di dunia mengaku bahwa aktivitas professional mereka sangat dipengaruhi oleh teknologi. Teknologi juga menjadi pertimbangan bagi mereka dalam menentukan untuk menerima atau menolak sebuah tawaran pekerjaan. Pekerja di bidang media dan hiburan juga memiliki kecenderungan berhenti kerja dikarenakan oleh ketidaktersediaan teknologi canggih seperti yang mereka harapkan.

Sebesar 76% karyawan yang diriset mengatakan bahwa kehidupan karir mereka sangat dipengaruhi oleh teknologi. Sebagian dari mereka, yakni sebesar 46%, mengaku bahwa teknologi meningkatkan produktivitasnya. Sementara di India, hasil penelitian justru menunjukkan hasil sebaliknya.

6. Masa Depan Teknologi Cerah, tetapi belum sepenuhnya Otomatis

Hasil riset menyatakan bahwa responden umumnya optimis dengan masa depan teknologi sebagai penunjang dunia kerja. Hanya saja, mereka tidak melihat bahwa teknologi akan mengubah cara kerja karyawan secara fundamental. Di antara mereka, 92% memprediksi bahwa penggunaan suara akan lebih banyak dibandingkan penggunaan keyboard, 87% merasa bahwa tablet akan sepenuhnya menggantikan peran laptop. Diyakini juga oleh sebanyak 87% responden bahwa semua device nantinya akan dioperasikan langsung dengan gerakan tangan sehingga keyboard dan mouse akan menghilang.

Akan tetapi, teknologi tetap tidak bisa menggantikan peran manusia di tempat kerja. Hanya sekitar 34% yang menyatakan bahwa perkerjaan mereka nantinya akan menjadi otomatis dengan bantuan teknologi. Karyawan di negara berkembang khususnya Uni Emirat Arab, India, dan Turki lebih bersedia mengandalkan teknologi sedangkan negara Inggris, Amerika Serikat dan Jepang lebih mengutamakan sentuhan manusia dalam dunia kerja. (*/@yunitew)

Baca juga: Batas Home Life – Work Life Makin Mengabur

Tags: , ,