Kualifikasi SDM Berbasis Ilmu Pengetahuan

Sejak teknologi memasuki era digital maka sesungguhnya telah terjadi revolusi yang cukup mendasar bagi peradaban manusia. Pada awalnya, hal ini ditandai dengan pendekatan dan implementasi teknologi komputer ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia sebagai sarana canggih yang sangat mempercepat berbagai aktivitasnya.

Komputer berkemampuan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia dalam organisasi atau perusahaan dengan kecepatan waktu penyelesaian dan tingkat ketepatan / akurasi yang nyaris sempurna. Sebagian komputer juga didisain untuk mampu mengambil alih seluruh pekerjaan dari peralatan / perlengkapan tertentu karena komputer tersebut didisain secara dedicated kepada peralatan/perlengkapan tertentu tersebut sehingga manusia tinggal melakukan fungsi sebagai operator.

Perkembangan TI

Ketika komputer memasuki pasar bebas sebagai sarana canggih maka kehadirannya menyumbangkan kontribusi kepada peningkatan dinamika kerja, baik di bidang administrasi ketatanegaraan, organisasi maupun di bidang bisnis. Semua tiba-tiba saja berubah disentak oleh revolusi dalam tata cara kerja dimaksud, yang sebelumnya dilakukan secara manual atau paling tinggi otomatisasi yang sangat elektrik-mekanik menjadi elektromagnetik. Sistem informasi manajemen yang tercipta akibat perkembangan ini mendorong keras perubahan mendasar di bidang manajemen, termasuk manajeman sumber daya manusia (human capital).

Kemampuan komputer yang demikian hebat selain mampu menyajikan informasi secara cepat dan akurat, mendorong pula pola pikir dan pola tindak para pemimpin dan pelaku bisnis. Mereka berpendidikan tinggi, percaya dengan manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi dan mengaplikasikannya ke dalam sistim kerja organisasi maupun individu.Dunia seolah berputar dengan lebih cepat. Ketika orang belum mengenal komputer karena cakupan sosialisasi aplikasi komputerisasi kepada segenap pelosok dunia belum optimal, perkembangan teknologi di tahun tujuh-puluhan membuat kejutan lagi dengan proses perkawinan antara teknologi telekomunikasi dengan komputer yang membuat denyut kegiatan dunia berubah lebih cepat dan makin canggih.

Dewasa ini produk teknologi yang aplikatif mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, sehingga berbagai lapisan masyarakat banyak langsung menikmatinya sebagai gaya hidup dan kebutuhan baru, menyangkut bidang komputer, telekomunikasi, informasi, cara kerja baru, dan berbagai hal lain.

Tantangan Era Digital

Era sekarang disebut banyak tokoh sebagai era digital, sebab produk-produk yang menjadi media dalam perubahan, dihasilkan dengan menggunakan teknologi digital di mana angka biner yaitu 0 (nol) dan 1 (satu) menjadi dasar disain teknologinya. Dampak multiplier dari setiap produk baru ini selalu mendorong berbagai inovasi, termasuk aspek perangkat lunaknya, yang dampaknya kepada peradaban manusia juga luar biasa. Misalnya produk internet yang kemudian berdampak kepada cara beraktivitas secara maya (virtual) seperti komunikasi jarak jauh dengan e-mail, berbisnis jarak jauh, belajar jarak jauh, dan berbagai aktifitas melalui internet lainnya.

Sesungguhnya era universalitas adalah era digital,era yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, era yang menawarkan keterbukaan, era yang mampu menembus batas-batas ruang waktu bahkan wilayah kekuasaan atau negara sekalipun. Universalitas menuntut organisasi baik pemerintah maupun organisasi bisnis serta sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya mengantisipasi kondisinya, kegiatannya dengan merangkul perubahan tersebut, agar mampu mengendalikan perubahan untuk kondisi yang lebih baik bagi manusia.Organisasi yang berbasis llmu pengetahuan pada akhimya menjadi jawaban terhadap kualifikasi organisasi di era yang akan datang.

Diperkirakan, era kesejagadan (universalitas) menciptakan gerak-putar kegiatan bertambah cepat dalam kurun waktu yang sama dengan sebelumnya. Hal ini berarti mobilitas perubahan juga meningkat, bertambah kompleks, menuntut dilakukannya penanganan elemen-elemen organisasi secara lebih profesional. Pada era ini ketahanan organisasi menjadi penting, sebab tanpa itu kemungkinan bahwa organisasi harus lenyap terkalahkan dari desakan agresivitas yang lain sangat mungkin terjadi.

Oleh sebab itu harus ada antisipasi dalam organisasi, harus ada transformasi agar organisasi cocok dengan kondisi sekitarnya. Terdapat delapan elemen untuk melakukantransformasi organisasi yaitu:

  1. Mengambil hikmah dari perjalanan organisasi selama ini
  2. Menetapkan maksud keberadaan organisasi secara jelas
  3. Menetapkan tujuan yang menarik ke mana organisasi hendak dibawa
  4. Memantapkan tekad kemauan SDM
  5. Menghasilkan kinerja secara berkesinambungan dan semakin baik
  6. Menghadapi segala tantangan dan hambatan
  7. Melakukan kegiatan secara bertahap
  8. Mengendalikan perubahan untuk sebesar-besar manfaat

Kepemimpinan & Keteladanan

Era universalitas memerlukan pimpinan nasional yang tepat, yang memiliki dua aspek penting yaitu aspek teknis dan aspek nonteknis. Adapun yang dimaksud Aspek teknis adalah penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang related dengan lingkup kerjanya, sehinga pimpinan tersebut kompeten dalam melakukan tugasnya serta bisa menghasilkan kinerja sesuai dengan sasarannya. Dalam bahasa ilmu manajemen dikatakan bahwa pimpinan nasional harus memiliki managerial skill.

Aspek kedua adalah aspek nonteknis, namun memiliki bobot yang seirnbang dengan aspek teknis, yaitu penguasaan terhadap keteladanan yangdidasari oleh penghayatan yang tinggi terhadap eksistensi SDM dan peranannya, yang harus dijaga dan dipelihara kemauan dan semangatnya untuk bisa diajak turut serta mencapai tujuan organisasi secara kolektif. Dalam bahasa ilmu manajemen disebut bahwa pimpinan tersebut memiliki leadership. SDM bukan lagi orang upahan yang bisa diperlakukan sewenang-wenang, tetapi harus dijadikan subyek yang diajak partisipasinya untuk keberhasilan bersama.

Managerial skill dan leadership menyatu dalam jati diri pimpinan, sehingga segala persoalan dipecahkan secara ilmu tanpa harus menyakiti SDM yang ada. Kita tentu sependapat, bahwa era teknologi yang berkembang sedemikian dahsyat kita sikapi hanya dengan moderat, atau biasa-biasa saja. Sumber daya manusia harus berubah. Dan perubahan tersebut harus berdasar kesadaran untuk perbaikan kondisi, baik bagi organisasi, maupun SDM nya secara harmoni.

Masalahnya, tidak semua orang atau kelompok menyenangi perubahan. Terkadang yang senang dengan status quo juga lebih besar jumlahnya.Penyiapan SDM adalah suatu perubahan paradigma, dari paradigma lama menjadi paradigma baru yang harus dipenuhi, jika organisasi masih ingin berperan di era baru. Perubahan pola pikir atau mindset-changing yang prosesnya harus sepersuasif mungkin.Pada tahapan ini tantangan terbesar adalah kemungkinan terjadinya benturan antara nilai-nilai (values) lama yang sudah terlanjur internalized dan menjadi believes setiap oknum SDM.

Hal ini wajar sebab nilai-nilai lama walau ditunjukkan kekurangannya, sudah membuktikan kontribusinya dengan memberi berbagai pemenuhan kebutuhan dan keinginan kepada SDM. Sedangkan dengan nilai-nilai baru masih belum tampak nyata, baru dalam tahapan sosialisasi untuk menarik hati, sampai menerbitkan keyakinan bahwa kalau dipergunakan akan pula memberi pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang bahkan akan lebih besar dari sebelumnya.

Sumber: Majalah Human Capital No. 12 | Maret 2005