Krisis Talent TI di Tengah Gempuran Teknologi Canggih

Pada 2015 diprediksi manusia hidup di dunia pita lebar atau disebut broadband – internet protocol. Dengan teknologi yang semakin canggih, jarak dan waktu bukan lagi kendala. Siapkah kita menghadapinya?

Pemain jaringan serat optik di Indonesia makin bertambah. Mereka memperebutkan kue tarif bandwith yang mungkin saja akan turun mengikuti pertumbuhan pemain di industri ini. Situs Nokia Siemens Network memperkirakan, pada 2015 terdapat sekitar lima miliar orang yang akan terkoneksi melalui Internet untuk saling berkomunkasi dan bertransaksi. Sebuah angka yang fantastis. Di sisi lain, ini akan membuka kesempatan bagi banyak pihak untuk mengambil peluang di dalamnya. Tentu, bukan hanya praktisi teknologi informasi (TI) yang akan mengeruk keuntungan tersebut. Pihak lain yang berhubungan dengan bidang ini pun akan menikmatinya.

Teknologi kabel serat optik sendiri merupakan jaringan yang meniadakan sinyal elektrik, seperti layaknya kabel tembaga. Berkat kemampuan kabel jaringan serat optik yang dapat mentransmisi cahaya, maka jangkauan sinyalnya bisa mencapai lebih dari 550 meter bahkan ratusan kilometer. Memang, harganya lebih mahal dibanding kabel tembaga jenis lain. Namun, kabel jenis ini dirancang tahan terhadap interferensi elektromagnetik dan kecepatan pengiriman data lewat kabel ini jauh lebih cepat dibanding kabel biasa.

Seiring pesatnya pertumbuhan bisnis telekomunikasi, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) telekomunikasi pun makin esensial. Mempersiapkan SDM TI yang andal harus dilakukan sejak dini. Inilah yang dilakukan para penggiat TI dan pihak yang terkait dengan bisnis ini. “Kebutuhan untuk membangun SDM TI yang andal sangat penting untuk kebutuhan jangka panjang di Indoensia,” kata Bosco Novak, Head of HR Nokia Siemens Networks yang ditemui di hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta saat berkunjung ke Indonesia akhir Agustus lalu.

Bosco mengakui bahwa pasar teknologi Indonesia berkembang sangat pesat, namun ketersediaan talent TI yang andal belum dapat memenuhi permintaan pasar. “Indonesia membutuhkan orang-orang yang kompeten untuk membangun jaringan broadband,” ujar Bosco.

Tak hanya itu. Ia pun memerhatikan bahwa bisnis berbasis telekomunkasi di negara kita meningkat pesat. Orang Indonesia lebih memilih sms-an daripada membaca di saat bengong. Kelihaian para pebisnis diuji di sini. Alhasil, harga nomor perdana yang sekitar 10 tahun lalu masih selangit, sekarang sangat membumi alias murah. Dengan mudah setiap orang bisa memiliki bahkan berganti-ganti nomor kapan pun mereka suka. Pemain merangsek ke semua lapisan untuk berebut kue bisnis bernama pulsa dan bandwith.

Namun yang disayangkan, di tengah gempuran serba terjangkau dan fasilitas yang makin lengkap, ketersediaan SDM TI masih terbatas. Maka, tidak mengherankan jika rebutan talent TI di Indonesia juga jamak terjadi. Nokia Siemens Networks (NSN), salah satu perusahaan multinasional provider jaringan pita lebar, sudah punya cara untuk mempersiapkan talent TI-nya.

“Kami bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga pendidikan seperti ITB dan ITS. Kami berupaya menarik minat kaum muda kepada teknologi informasi karena di dunia TI banyak kesempatan untuk mereka,” jawab Bosco tentang strategi NSN mendukung program kelahiran talent TI di Indonesia. “Kami mempersiapkan mereka untuk siap menghadapi dan mengisi industri ini,” tambahnya.

Yang dilakukannya adalah, membuat sebuah ikatan sedini mungkin dengan pihak universitas. “Kami membutuhkan talent dari Indonesia untuk bekerja di luar negeri. Karena itu kami fokus pada talent TI dan elektronik,” ungkapnya.
Irvandi Ferizal, Country HR Director NSN Indonesia yang baru hijrah ke NSN Agustus lalu mengatakan, seorang talent TI yang andal adalah mereka yang mampu melakukan inovasi, menguasai aspek teknis, berpikir jangka panjang, mampu bekerja dalam tim di bawah tuntutan target yang ketat dan memiliki kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah.

Menurutnya, talent TI adalah tulang punggung perusahaan telekomunikasi yang sekarang menjadi perhatian NSN untuk dibangun. Jadi, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga kebutuhan di luar negeri. “NSN membuka kesempatan karier karyawannya secara transparan. Saat ini, 25 karyawan NSN Indonesia bekerja di luar negeri seperti Iran, Saudi Arabia, Singapura, Kuwait , dan lain-lain,” papar Irvandi seraya menambahkan, “Bukan sebagai TKI lho, tetapi menduduki posisi-posisi kunci dan mampu bersaing di pasar internasional.”

Saat ini Indonesia memiliki SDM lebih dari 240 juta orang. Sementara itu, pengguna telepon selular baru menyentuh 38%, sedangkan internet hanya 11%. “Ini menunjukkan pasar teknologi sangat terbuka di sini,” kata Irvandi. Pasar yang terbuka ini tidak boleh tersia-siakan dengan kehampaan talent. Ia menilai, alangkah baiknya jika talent TI Indonesia datang dari pribumi. Itulah mengapa NSN menunjukkan keseriusan dalam mendalangi kelahiran para talent TI yang berkualitas internasional.
Uniknya, NSN memberanikan diri masuk ke area kaum hawa dengan mengusung program penghargaan Woman In Technology. “Program ini memberikan hadiah khusus kepada lulusan wanita untuk magang di kantor pusat NSN di Finlandia,” kata Irvandi. “Mengapa? Untuk mendorong keberagaman di mana biasanya para engineer didominasi oleh pria,” jelas Irvandi.

Lalu, apa yang harus dilakukan dapartemen HR dari perusahaan telekomunikasi untuk mempersiapan talent TI mereka sejak dini? “HR perlu kilas balik pengalaman mereka sendiri, setidaknya 20 tahun sebelumnya. Apa yang membuat seorang anak muda tertarik pada teknologi. Jika petugas HR di perusahaan itu adalah anak muda, maka apa yang membuatnya tertarik kepada dunia TI? Itu yang harus dilakukan oleh seorang HR di industri telekomunikasi untuk mempersiapkan talent TI-nya,” tutur Bosco menegaskan.

Ilmu pengetahuan pasti berkembang setiap detiknya. Namun demikian, satu hal yang tak boleh dilupakan: teknologi yang ramah manusia akan membawa dampak positif untuk keberlangsungan industri, ekonomi, dan kehidupan pada umumnya.