Kiat Bagaimana Capitalizing Social Media for Succes

andre wenas

BUDAYA berteknologi kini merasuk ke semua kalangan, mulai dari sektor ekonomi, informasi bahkan human resource (HR). Kemudahan untuk mengakses teknologi juga membuat euforia di masyarakat dunia saat ini. Deklarasi ini dirayakan dalam bentuk baru untuk berkomunikasi dengan sesama, yang lantas biasa disebut sebagai sosial media.


(Kiri-kanan: N. Krsibiyanto (Partner of PortalHR), Andre V Wenas (CEO Permata Tene), dan PM Susbandono (HR Director PT Star Energy Indonesia)

“Seolah kita ada dalam dilema, di satu sisi ia membongkar kebudayaan termasuk nilai-nilai dan tradisi etis, namun di sisi lain kita sekarang, de facto, tidak bisa hidup tanpa teknologi,” itulah sepenggal kata yang diucapkan Andre Vincent Wenas, CEO PT Permata Tene dalam sharing session di PortalHR Summit 2012. Andre pun berbagi wawasan bagaimana kiat berhadapan dengan teknologi.

Andre, sosial media merupakan sekelompok aplikasi web dan mobile teknologi yang digunakan untuk mengaktifkan komunikasi atau interaktif dialog antara organisasi, masyarakat maupun antar individu. Dalam perkembangannya, sosial media dapat berubah-ubah sesuai dengan pasar dan penggunanya.

Terdapat 6 jenis tipe sosial media, diantaranya,
1. Project kolaborasi, seperti: Wikipedia
2. Blogs, dan Microblogs, misalnya: Twitter
3. Komunitas Masyarakat, misalnya : YouTube
4. Situs jaringan sosial, misalnya: Facebook
5. Permainan virtual dunia, misalnya: World of Warcraft
6. Sosial dunia maya, misalnya: Second life

Tidak hanya itu, masih ada lagi beberapa komponen yang juga bisa dikelompokan menjadi teknologi, diantaranya, Blogs, Picture-sharing, Vlogs, wall-postings, email, instan messaging, music-sharing, crowdsharing, dan beberapa sosial media ini juga bisa diinteegrasikan ke jaringan agrerasi platform. Bisa dibayangkan, ratusan bentuk dari sosial media itu, bisa diakses dengan mudah melalui teknologi yang kita punya.

Setiap saat, setiap waktu kita menyempatkan berkomunikasi lewat sosial media ini. Sebenarnya sosial media mana yang kita butuhkan? Jawaban itu pastinya berbeda-beda di masing-maisng orang. Sebagai acuan, The honeycomb framework mendefinisikan bagaimana layanan sosial media fokus berdasarkan 7 komponen pembentuk sosial media tersebut, diantaranya:

1. Identity ( Identitas)
2. Conversation ( Percakapan )
3. Sharing ( Berbagi)
4. Presence ( Keberadaan)
5. Relationship ( Hubungan)
6. Reputation ( Reputasi )
7. Groups ( Kelompok )

Tujuh komponen di atas membantu kita memahami apa saja kebutuhan pengguna media sosial. Sebagai contoh, pengguna LinkedIn lebih memerhatikan masalah identitas, reputasi, dan relationship, sementara Youtube lebih condong ke sharing, conversations, groups, dan reputasi.

Untuk itu banyak perusahaan atau organisasi yang menggunakan 7 elemen pembentuk media sosial tadi menjadi alat untuk menentukan engange karyawan, dan pada akhirnya menjadi Brand Company mereka.

Tidak heran bila kini, masih menurut Andre, ide-ide yang menarik dan kompetitif bisa diperjualbelikan layaknya barang. “Sekarang dunia menjadi seperti ideagora atau pasar, dimana semua ide dapat ditransaksikan,” terang Andre. Kelompok kreatif akan memanfaatkan moment ini sebagai peluang, dan banyaknya inovasi-inovasi baru yang bermunculan.

Tetapi kebebasan berinovasi ternyata juga mengundang pengaruh negatif, diantaranya bahaya hukum digital, dimana hukum undang-undang lama-lama menjadi lemah dan terkalahkan dengan inovasi tak terbatas, “ infinite filibustering”. “ Dari kutipan Tim Berners-Lee, Andre mengingatkan terhadap jaringan sosial yang tumbuh terlalu besar, akan menjadi monopoli karena cenderung membatasi inovasi, itu salah satu efek bahayanya.

Andre juga mengkritik, ada essensi yang hilang dari berkomunikasi di dunia maya, yaitu pemujaan terhadap community, yang berujung menjadi kapitalisme. “Semua itu dikomodisasi. Mereka melihat bukan dari humanis tapi relasi berdasarkan transaksi, semua dilihat dari komoditi orang itu,” sesal Andre.

Lantas bagaimana memanfaatkan sosial media untuk sukses? Andre menekankan adanya ‘building social authority’, di mana menurut Jurnal Psikologi Sosial Eropa juga ditegaskan, “salah satu kunci sukses sosial media adalah membangun otoritas sosial. “Sosial authority dikembangkan ketika seseorang atau organisasi menetapkan dirinya sebagai expert di bidangnya, sehingga masing-masing subjek akan menjadi pengaruh bagi lingkungannya,” terang Andre.

Akhirnya, proses membangun sosial otoritas tadi, menjadi efektif. Mengapa? Memang kadang pesan yang kita sampaikan melalui sosial media tidak lengkap sampainya, namun setidaknya kita bisa memulai conversation, dan berharap bisa mencapai pengaruh yang signifikan dengan menjadi partisipan dalam percakapan tersebut. “Intinya, siapa yang bawel, yang paling banyak suaranya, dialah yang paling bisa survive, yang pasif, go wtih the wind,” tutup Andre. (@nurulmelisa)

Tags: , , ,