Inilah Resep, 3 Perusahaan Besar Indonesia Mengelola KM

bandung digital valley

KIPRAH PT Unilever Indonesia, PT United Tractor dan PT Telkom adalah sebagian contoh organisasi yang sudah berhasil mengelola knowledge management (KM), atau pengetahuan sumber daya manusia di dalamnya menjadi sebuah sistem yang bisa dijadikan pembelajaran bagi organisasi lainnya. Hal ini terlihat dari presentasi mereka dalam ajang pemanasan Indonesian Most Admired Knowlegde Enterprise (MAKE) pekan silam,di Jakarta (14/3/2012).

Unilever yang sudah dinobatkan sebanyak 7 kali sebagai jawara Make Award, bahkan mencatat prestasi membanggakan dengan menang untuk penghargaan serupa di tingkat Asia, dan tahun lalu terpilih sebagai salah satu pemenang tingkat dunia dalam Global IOU (Independent Operating Unit) MAKE Study. Enny Sampurno selaku Vice President Human Resource PT Unilever Indonesia Tbk, tak segan berbagi ilmu mengenai bagaimana mereka memanfaatkan knowledge yang dimiliki baik dari dalam organisasi maupun customer untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tinggi.

Enny lantas memberikan contoh, salah satu kunci keberhasilan Unilever dalam mengelola produknya yaitu melalui keberlanjutan sistemnya. “Program itu continous, walaupun ada perubahan tapi master programnya tidak berubah-rubah sepanjang tahun,” ujar Enny, sambil menambahkan jika salah satu program sudah mampu menjadi great product di pasar, manajemen akan lebih mudah mengembangkan produk lain yang lebih inovatif.

Selain di Unilever, penerapan knowledge management yang patut dijadikan pelajaran adalah apa yang dijalankan oleh PT Telkom Indonesia. Menurut Indra Sutoyo, selaku IT Solution & Strategic Portfolio Director, Telkom mempunyai Corporate Culture yang dinamakan 5-C, yaitu Commitment to Long Term, Customer First, Caring to Merictocracy, Co-Creation of win-win Partnership, dan Collaborative Innovation. “Kelima komponen itu dimulai dengan penerapan komunikasi dan interaksi yang efektif antar lini,” jelasnya.

Indra menambahkan, sebagai perusahaan yang menerapkan innovative solution, interaksi selayaknya dihidupkan di dalam sebuah perusahaan, dari interaksi itu akan lahir inovasi di setiap organisasi. “Inovasi sebenarnya fungsi dari kualitas interaksi, semakin tinggi interaksi semakin tumbuh inovasi,” ujar Indra yang juga mulai menumbuhkan inovasi untuk urusan training dan learning.

Indra juga optimis, Telkom tidak merasa khawatir akan perkembangan teknologi saat ini, sebagai perusahaan yang dikenal dari produk telepon rumah, kini Telkom merubah pattern bisnisnya dari fixed line menjadi penyelenggaraan bisnis TIME (Telecommunication, Information, Media dan Edutainment) yang handal. Indra juga menyebut, change management itu diambil untuk menyesuaikan ekosistem dengan membaca segmentasi customer.

Telkom, lanjut Indra, mulai membangun anak perusahaan untuk program baru namun tetap menggabungkan ke bisnis utamanya. Di tengah pertumbuhan era digital, Telkom tetap konsisten menerapkan knowledge enterprise, hasilnya mereka sudah siap dengan berbagai inovasi yang dibentuk menjadi new collaborative innovations, salah satunya Groovia TV, yaitu TV cable yang penayangannya dapat ditentukan sendiri oleh penggunanya. Bahkan Telkom kini tengah membangun Bandung Digitall Valley yang merupakan wujud dari collaboration in context.

Penerapan KM yang dipercaya dapat menjadi culture dan komponen yang efektif untuk organizational value sebuah perusahaan, ternyata memang harus dikomunikasikan secara langsung dari antar lini. Untuk urusan ini, United Tractor yang bergerak di bidang solusi alat-alat berat juga sudah terbiasa menjalankan tradisi ini.

“Misalnya masing-masing General Manager bertugas memberikan sharing mengenai, what is the culture kepada staffnya,” papar Nilawati Irjani, GM Corporate Planning & Management Development Division UT. Selain komunikasi, UT mempunyai komitmen untuk selalu mengedepankan kepentingan customer. “Kita believe kalau customer success, kita akan sukses juga,” ujar Nila.

Nila menjelaskan, insan di UT yakin bahwa driver dari perusahaan sebenarnya customer, di mana dari customer itulah akan tercipta innovative solution yang berasal dari learning organizational. UT, lanjut Nila, mengembangkan daya juang belajar dari hari ke hari ke dalam tim. “Lucunya, program inovasi itu juga dikemas dengan fun oleh management, seperti pemberian nama kegiatan nonton bareng dengan sebutan no-bra. Maklum staff kita 95% laki-laki, sehingga pemilihan nama-nama itu terbentuk dengan sendirinya,” ujar Nila sambil tersenyum.

Setiap tahun, lanjut Nila, UT hampir selalu mempunyai anak perusahaan baru. “Masalahnya bagaimana mempercepat leaders people development based enterprise bila perusahaan yang lama masih belum mampu dijalankan oleh orang-orang yang baru. Leadership development kami jalankan dengan cara mentoring dan pertemuan rutin setiap 3 bulan sekali,” katanya lagi.

UT, masih menurut Nila juga membangun tim dengan aktif melihat peluang-peluang untuk kolaborasi. Misalnya ketika perusahaan merasa kurangnya tenaga mekanik yang sangat dibutuhkan, manajemen lantas bergerak sendiri merekrut ahli mekanik di luar. “Kami men-develop siapa saja yang mau menjadi staff mekanik di UT, bahkan kami mengembangkan kurikulumnya ke SMK-SMK agar company mendapatkan tenaga kerja yang mumpuni di bidang mekanik. Setelah mereka lulus, kami siap mempekerjakan mereka. Dalam hal ini kami tidak hire orang asing, kami memilih untuk jemput bola ke sekolah-sekolah,” tukas Nila. (@nurulmelisa, foto:bandungdigitalvalley.com)

Tags: ,