Data Membuat Hidup Praktisi HR Lebih Happy

Krisbiyanto

Krisbiyanto

Pernahkah Anda mendengar cerita yang banyak diceritakan tentang “big data” yang sempat heboh di Amerika ini? Bahwa sebuah supermarket ternama di Amerika Serikat dapat mengetahui kehamilan seseorang bahkan sebelum keluarga mengetahuinya?

Hal ini bisa terjadi karena analisa data yang dilakukan oleh supermarket tersebut terhadap item-item yang dibeli oleh konsumennya itu.

Cerita di atas menunjukkan kekuatan data yang dapat melakukan analisa prediktif serta memberikan banyak wawasan apabila dikelola dan dianalisa dengan baik. Bayangkan apabila kita, para praktisi HR dapat mengenal karyawan kita dengan begitu baik, karena data-data yang kita miliki tentang karyawan. Dengan memiliki data di tangan, maka seorang HR pun akan lebih percaya diri ketika berhadapan dengan CEO dan ditanyai pertanyaan-pertanyaan strategis.

Baca juga: Saatnya HR Berkenalan dengan Big Data

Inilah salah satu hal yang disampaikan oleh Krisbiyanto, Senior Partner People Consulting pada acara SAP CHRO Forum yang berlangsung di Jakarta (16/9). Kris yang sudah berpengalaman di HR lebih dari 20 tahun di berbagai perusahaan besar di Indonesia mengatakan, sesungguhnya banyak sekali masalah dalam organisasi yang sebenarnya berakar dari tidak tersedianya data yang dibutuhkan dengan cepat dan akurat.

Kris menceritakan pengalamannya ketika terjadi merger 5 bank besar, sebagai seorang HRD yang ditunjuk menjadi koordinator merger dirinya mengelola semua aspek HR dalam merger, dimana bagian paling menantang pada saat itu adalah bagaimana menarik, meng-engage dan mempertahankan talent yang dibutuhkan oleh bank.

“Seandainya saya bisa melakukannya dengan cara berbeda saya akan membutuhkan system HR yang komprehensif yang bisa membantu saya melakukan analisa yang komprehensif untuk membuat keputusan yang akurat dalam mengelola talent,” ujar Kris.

Kris menambahkan, banyak yang mengatakan masalah pada saat itu adalah budaya. Namun Kris meyakini bahwa masalah sebenarnya bukan terletak pada budaya (perusahaan), tetapi pada tidak adanya data yang memadai ketika dibutuhkan.

Dalam pekerjaannya HR harus menghadapi banyak keputusan yang berhubungan dengan nasib seorang karyawan. Siapa yang dipromosikan, siapa yang di”kotakkan” dalam high performer maupun tidak, siapa yang siap menggantikan seorang leader ketika leader resign, benefit apa yang akan mengurangi turn over karyawan, dan sebagainya.

Sementara itu seringkali data yang dimiliki HR saat ini masihlah berupa spreadsheet, maupun dokumen-dokumen terpisah-pisah, sehingga tidak dapat memberikan wawasan untuk pengambilan keputusan cepat.

“HR pada saat ini diharapkan lebih berperan aktif sebagai player dalam arti melakukan aktivitas yang berdampak langsung dalam pengelolaan bisnis. Apalagi di era digital ini, HR harus bisa memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaannya, serta membuat hidupnya lebih happy,” tutup Kris. (*/@mei168)

Baca juga: Menggali Potensi Bisnis Melalui Big Data

 

Tags: , , ,