Antara iPad Apple, Samsung Galaxy Tab, dan BlackBerry Playbook


Oleh Rudi Kuswanto

Tak henti rasanya kita berdecak kagum melihat laju perkembangan gadget yang telah melampaui batas teknologi mobile. Teknologi ini memungkinkan para penggunanya menikmati lebih banyak hal selama di perjalanan maupun dalam beraktivitas. Gadget-gadget inilah yang dengan mudah bisa membuka cakrawala dunia. Semua itu hanya dalam sebuah genggaman.

Terobosan-terobosan terus dihadirkan oleh para produsen teknologi mobile kelas dunia. Setidaknya ada tiga pemain besar yang selama dua-tiga tahun ini akan sulit untuk digeser, kecuali dengan inovasi yang spektakuler. Ketiganya adalah Apple dengan iPad-nya, Samsung dengan Galaxy Tab, serta pendatang baru, Research in Motion, produsen BlackBerry yang fenomenal, kali ini akan segera mengusung BlackBerry Playbook.

Pemicu ‘kehebohan’ ini tentu saja saat Apple meluncurkan iPad. Dari sisi desain dan fungsi, siapa saja memang layak cemburu ketika Anda dengan sengaja menenteng gadget besutan Steve Jobs ini atau sekadar memainkannya di hadapan rekan sekerja. Layar iPad terbilang fantastis ketajamannya, penuh warna dan responsif. Yang terpenting, ia menawarkan berbagai fungsi karena tersedia beragam aplikasi, baik yang sudah terpasang maupun dari pihak ketiga, penyedia jasa konten untuk didownload.

Sebagai gadget yang bisa berfungsi sebagai komputer, iPad memang tidak sepenuhnya akan ‘menganibal’ personal computer (PC) atau komputer desktop. Meskipun iPad dilengkapi dengan fitur-fitur layaknya perangkat komputer seperti iWorks, keynote, numbers dan perintah melalui sentuhan on the screen yang sangat bagus, ada pekerjaan-pekerjaan seperti pengolah kata maupun video editing yang tidak bisa dirangkap oleh iPad.

Kekuatan iPad, diakui ada di safari browser. Browser ini memang terlihat fantastis, di mana halaman web berukuran penuh bisa terlihat dengan jelas dan kontras, serta kemudahan dalam hal navigasi. Kelebihan lain terletak pada layarnya yang hanya 10 inch tapi sangat eyecatching. Terasa proporsional dengan adanya speaker eksternal sehingga cukup ideal untuk hadirnya sebuah bioskop mini.

Memang iPad masih kurang mendukung dalam varian pemutar format video, dan hanya format tertentu saja yang dapat mendukung. Keluhan lain, sebagai media player, iPad disorot karena masalah ukuran dan berat. Hal yang sama juga berlaku ketika iPad difungsikan sebagai ebook reader. Meski terintegrasi dengan ibook, gadget ini masih terlalu besar. Bahkan bagi penyuka novel berat, kembali ke buku-buku klasik rasanya malah jauh menyenangkan, ketimbang mengotak-atik iPad.

Ya, itulah iPad yang hadir dengan segala kelebihan maupun kekurangan fiturfitur yang dibawanya. Harus diakui kehadirannya cukup fenomenal, sarat dengan sensasi pemberitaan media, dan kehadirannya ditunggu-tunggu konsumen di banyak negara.

Pasar komputer tablet bukan hanya iPad. Ini langsung terlihat ketika produsen raksasa asal Korea Selatan yang tidak harus menunggu waktu lama dalam memanfaatkan booming komputer tablet. Samsung Electronics Co, Ltd, belum lama ini merilis saingan iPad, yakni Samsung Galaxy Tab (GT-P1000), lengkap dengan dukungan Sistem Operasi Android 2.2.

Samsung Galaxy Tab menyatukan semua inovasi Samsung untuk menyediakan pengguna dengan kemampuan lebih selama di perjalanan. Konsumen akan menjajal pengalaman web PC, seperti browsing dan menikmati segala bentuk konten multimedia pada layar 7-inci berukuran handy, terasa nyaman ditenteng-tenteng ke manapun pergi. Selain itu, pengguna dapat terus berkomunikasi melalui e-mail, suara dan video call, SMS/MMS atau jaringan sosial dengan user interface yang dioptimalkan.

“Samsung menyadari potensi pertumbuhan luar biasa dalam pasar yang baru dibuat dan kami percaya bahwa Samsung Galaxy Tab membawa proposisi yang unik dan terbuka untuk pasar. Ada permintaan konsumen baru yang ingin mendapatkan kepuasan sesuai dengan yang diinginkannya,” kata Simon Stanford, Kepala Mobile, Samsung Inggris dan Irlandia saat meluncurkan gadget ini. Simon menambahkan, Samsung Galaxy Tab memang dirancang untuk memungkinkan konsumen bisa memaksimalkan pengalaman online mereka di mana pun berada. “Samsung Galaxy Tab akan mendorong pasar ke arah yang baru dan kami berpendapat ini hanyalah awal dari inovasi sebagai pelopor dalam perangkat media cerdas,” Simon menegaskan.

Sebuah konsep baru mobilitas untuk media cerdas yang dimaksud Simon, terlihat dari fitur yang diselipkan. Samsung Galaxy Tab hadir dengan layar lebih kecil, 7-inch TFT-LCD, dengan maksud memberikan pengalaman mobile yang menyenangkan untuk menonton film, melihat gambar, membaca ebook sekaligus bisa berbagi dokumen. Apalagi gadget ini juga telah dibenamkan Adobe Flash Player terbaru versi 10.1, sehingga Galaxy Tab akan terasa lebih cepat, dengan janji tampilan mulus dalam setiap halaman web-nya.

Sebagai perangkat komunikasi, Galaxy Tab dilengkapi konektivitas 3G HSUPA, 802.11n Wi-Fi, dan Bluetooth ® 3.0, jelas meningkatkan komunikasi seluler pengguna di tingkat yang baru. Video conferencing dan push email padalayarnya m embuat komunikasi yang lebih halus dan efisien.

Untuk telepon suara, Samsung Galaxy Tab melengkapinya dengan speakerphone yang nyaman untuk ditaruh di meja, atau kalau dalam perjalanan bisa dipilih opsi melalui headset Bluetooth.

Didukung oleh prosesor Cortex A8 1.0GHz aplikasi, Samsung Galaxy Tab dirancang untuk memberikan kinerja tinggi kapanpun dan di manapun usernya berada. Pada saat yang sama, HD konten video didukung oleh berbagai format multimedia (DivX, XviD, MPEG4, H.263, H.264 dan lebih) yang memaksimalkan kegembiraan hiburan. Dengan menghadap ke depan kamera video telephony-nya memungkinkan untuk bertatap muka melalui komunikasi 3G, bahkan kamera yang menghadap belakang bisa difungsikan untuk menangkap gambar diam maupun video yang dapat langsung diedit, di-upload dan berbagi, dengan sangat simpel.

Sementara itu, selain iPad dan Galaxy Tab, pasar komputer tablet juga makin marak dengan hadirnya pendatang baru yang langsung menggebrak pasar. Pendatang itu adalah RIM (Reseach in Motion) dengan BlackBerry Playbook. Setelah sukses menggarap gadget komunikasi dengan ciri khas push email, RIM tampaknya tidak ingin menyianyiakan momentum yang telah ia peroleh beberapa tahun terakhir ini dengan masuk ke pasar tablet. Bukan Blackberry kalau tidak ingin mendapat perhatian. Ia mengklaim Playbook hadir dengan konsep tablet yang berbeda sama sekali. Setidaknya menurut versi RIM sendiri, tentunya.

Playbook yang bakal dirilis tahun depan, akan hadir dengan layar 7 inch dengan resolusi layar 1.024 x 600 pixel, berukuran 193 x 130 x 10 mm dan berat hanya 400 gram. Di bagian belakang terdapat kamera 5 megapiksel, sementara di bagian depan dipasang kamera 3 megapiksel. Keduanya mampu merekam video HD, dan Playbook dirancang juga untuk penggunaan video conference.

Awalnya, Playbook akan menawarkan konektivitas WiFi dan bluetooth hanya dengan 3G, sementara versi 4G model akan menjadi proyek berikutnya. Di dalamnya terdapat prosesor dual-core 1GHz dengan besar 1GB RAM, spesifikasi yang sangat mengesankan bahwa Playbook berdiri terpisah dari banyak perangkat pesaing lainnya.

Mungkin hal yang paling menarik tentang Playbook adalah sistem operasi (OS, operating system). Dijuluki sebagai “BlackBerry Tablet OS” oleh RIM, itu sebenarnya didasarkan pada QNX yang telah digunakan secara luas dalam sistem industri selama bertahun-tahun. QNX adalah sistem operasi yang dijalankan untuk industri reaktor nuklir, sehingga BlackBerry Tablet OS terkesan memiliki silsilah yang mengesankan. OS ini dirancang untuk mendukung proses simetris di kedua core prosesor, sebuah penekanan dari RIM yang ingin menunjukkan betapa kemampuan koneksi gadget ini akan sangat cepat ketimbang perangkat lain.

Playbook dapat diintegrasikan dengan smartphone BlackBerry untuk melakukan sinkronisasi dengan email dan kontak. Bahkan untuk pelanggan BlackBerry korporasi sangat memungkinkan untuk bisa mengambil paket integrasi lebih jauh dengan akses ke dokumen dan sumber daya lainnya. Toh, BlackBerry Playbook yang digadang-gadang sebagai gadget dengan segala kecanggihannya, hadir bukan tanpa kelemahan.

Yang banyak disorot tentu saja OSnya, di mana meski OS QNX terlihat sangat tidak umum untuk urusan gadget. Nyatanya, hanya membatasi ketersediaan perangkat lunak. Alasannya tentu saja karena tidak support. Ingat, bahwa ketika iPad diluncurkan, ia sudah kompatibel dengan ribuan aplikasi yang ditulis untuk iPhone, karena pada dasarnya iPad hanya iPhone skala-up, tapi Playbook bukan BlackBerry skala-up.

Memilih dan memilah gadget yang mau dibeli memang memerlukan kecermatan. Baca review dari berbagai sumber. Dapatkan testimoni positif dari user di media online. Akhirnya pilihan tetap di tangan Anda. Mana yang paling sesuai dengan selera dan tentu saja pas dengan kebutuhan fitur yang diperlukan. Silakan pilih antara iPad Apple, Samsung Galaxy Tab, maupun BlackBerry Playbook. Atau, jangan-jangan Anda punya jagoan sendiri?