Tekad FHCI Menjadi Talent Pool di BUMN

FHCI_Pandu Wijayanto_Harry Susetyo Nugroho_Priyantono Rudito

FHCI_Pandu Wijayanto_Harry Susetyo Nugroho_Priyantono Rudito

PAGI ITU, suasana di Lantai 25 Gedung BNI, di Jl Sudirman Jakarta, terlihat sudah ramai dipenuhi para praktisi HR. Terbilang istimewa karena yang berkumpul ini adalah para praktisi HR khusus di BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Mereka ini adalah para anggota dari Forum Human Capital Indonesia (FHCI), yakni sebuah forum profesi HR yang menaungi seluruh HR BUMN. Berdasarkan daftar absensi, tercatat ada 151 peserta dari 70 BUMN dengan 43 direksi yang hadir.

Dalam kesempatan pertama, Priyantono Rudito, selaku Ketua FHCI, mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan pertemuan ke-6 yang penyelenggaraannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain, tergantung dari tuan rumah yang ditunjuk dari salah satu BUMN. Topik yang diangkat dalam pertemuan kali ini adalah, “Sharing Session & Workshop: Performance Management & Executive Development System for Enhanching BUMN Great People & Great Leader.”

Kegiatan FHCI ini pula, lanjut Priyantono, merupakan program yang tidak terpisahkan dari 7 program utama FHCI yang sudah ditetapkan, di antaranya; meningkatkan membership FHCI , recruit dan talent management, outsource concept, competency developmen and learning sinergy, serta  performance management. “Untuk acara berikutnya kita akan mengangkat tema yaitu Learning Center & Corporate University Sinergy,” imbuh Pak Pri, begitu beliau biasa di sapa, yang sehari-hari adalah HR Director PT Telkom Tbk.

Selain sharing session dari berbagai nara sumber, yang kali menampilkan Ignasius Yonan (CEO Kereta Api Indonesia), Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), dan Budi Santoso (CHCD Astra International Tbk.), kegiatan FHCI juga melaksanakan konsep EDS atau Executive Development System. Menurut Priyantono, EDS sendiri sebenarnya bukanlah hal asing buat BUMN, karena hampir semua anggota FHCI sudah pernah melaksanakannya secara content. “Konsepsi atau pelaksanaan implementasi dari EDS itu back-bone-nya menggunakan konsep program-program yang ada di Corporate University yang ada di masing-masing BUMN. Kita sudah ada pengalamannya termasuk sudah banyak kita lakukan berbagai sharing di dalamnya, bahkan di sejumlah BUMN kualifikasinya sudah berada di level global,” terangnya.

Level global ini menurut Priyantono tidaklah muluk karena berdasarkan fakta di lapanga. Ia lantas menyebut di beberapa Corporate University BUMN sudah menerapkan silabus atau kurikulumnya yang penyelenggara atau mitranya berasal dari institusi terbaik dunia. Sebut saja di antaranya; Harvard University (sudah bekerjasama dengan Pertamina), Insead, Thunderbird dari USA, National University-Singapore, Melbourne Business School, dan sejumlah institusi atau learning center dunia lainnya.

“Maka, tidaklah berlebihan kalau kita mengklaim salah satu tujuan besar utama penyelenggaraan EDS kali ini yakni menciptakan center of excellence BUMN, di mana kita pahami bahwa kita punya potensi yang selama ini belum teragregasi, belum ter-framework. Betapa tidak, seluruh keahlian, seluruh kemampuan untuk berbagai bidang dalam mengelola perusahaan multinasional, korporasi ataupun korporasi berskala global, semua ada di BUMN, baik itu ilmu keuangan, ilmu marketing, engineering, hi-technology, atau kita sebut apapun semua ada di BUMN. Inilah saatnya kita untuk mengkapitalisasi knowledge tersebut, yang kita tahu akan kita address dan agregasikan ke dalam kurikulum atau kerangka EDS,” papar Priyantono.

Priyantono juga melontarkan joke ringan bahwa penyelenggaraan EDS ini sebenarnya bukan hanya kegiatan ‘penataran’ biasa, karena istilah ‘penataran’ sebetulnya tidak sesuai dengan tujuannya. “Niatan dan inspirasi yang kita tangkap sewaktu serah terima kepengurusan FHCI sebelumnya, sebenarnya kita mau membuat talent pool untuk kader-kader pimpinan BUMN masa depan. Tentu saja kami menggarisbawahi dengan tegas, kalaulah ada tiga hal di sini yakni pengembangan, pembinaan dan seleksi atau pemilihan, maka area FHCI ada di pengembangan dan pembinaan karena untuk penempatan dan seleksi kewenangannya ada di Kementerian BUMN. Kelak jika Menteri BUMN, Kementerian BUMN, atau Negara ini membutuhkan talenta-talenta yang ingin ditempatkan di sejumlah perusahaan milik Negara, maka talent pool ini adalah jawabannya, dan at any time itu sudah tersedia. Setiap waktu ada, bahkan walaupun kita merem salah pilih pun kalau sudah ada di talent pool, meskipun tidak menyebutkan nama kandidat sudah pasti cocok deh karena sudah ada EDS, dan inilah cita-citanya FHCI,” ujarnya yang disambut meriah oleh audien.

Priyantono mengaku optimis bahwa EDS akan mampu menjawab tantangan tersebut karena EDS yang saat ini dijalankan oleh FHCI bukanlah EDS sembarangan. “EDS ini dikembangkan dengan menggunakan framework 3C, yakni tidak saja berdasarkan aspek competency development, ataupun aspek competitiveness, tetapi yang lebih penting adalah kita setuju menempatkan ‘C’ berikut ini sebagai ‘C’ pertama yang merupakan aspek tertinggi, yang akan mewarnai seluruh program EDS, yaitu character development,” tukas Priyantono.

Sementara itu Pandu Wijayanto, selaku Pengawas FHCI menekankan bahwa yang terpenting saat ini bagaimana FHCI bisa menjawab isu standar kompetensi. “Tanggung jawab itu ada di pundak kita bersama, bagaimana kita mempersiapkan kandidat orang-orang yang memiliki standar kompetensi, kita yang menyiapkan seleksi dari talent itu sendiri, di mana sumber-sumbernya pun juga harus kita pikirkan. Mulai dari sekarang setiap BUMN diminta satu level di bawah direksi untuk menyiapkan talent-nya untuk digodok secara bersama-sama. Tujuannya 3-4 tahun dari sekarang tidak ada lagi talent  yang berkarir di hanya salah satu BUMN saja, dari mulai berkarir hingga pensiun di BUMN itu-itu saja, karena kita sebetulnya melihat banyak sekali talent yang bisa berkontribusi lebih baik. Kita bisa melihat salah satu contoh yang berhasil yakni di PT KAI. Saya sendiri bersyukur terlibat dalam pembenahan 139 BUMN, dan 106 itu di antaranya kini level kesehatannya sudah membaik,” imbuh Pandu.

Hal kedua yang disampaikan Pandu terkait dengan EDS, bagaimana Kementerian BUMN bisa membuat prioritas siapa calon-calon direksi di BUMN,  yang dipilih dengan prinsip ‘tidak asal’ dan setidaknya ada sisi obyektivitasnya. “Mekanismenya ada, sistemnya ada, sehingga kita akan mendapatkan mutiara-mutiara talent di BUMN. Memang kita bisa mengatakan tak kenal maka tak sayang, kita harus kenal dulu dan kita juga harus tahu, paling tidak kandidat memiliki kemampuan seperti apa, kemudian dari situ kita ada mekanisme fit and proper tes dan kita bisa pertanggungjawabkan bahwa ketika kita memilih calon direksi itu adalah keputusan yang terbaik. Tinggal kemudian pertanyaannya apakah kita berani mengambil keputusan berdasarkan mekanisme tadi atau tidak. Inilah mekanisme yang sedang kita rancang melalui EDS di bawah Tim Khusus FHCI,” terang Pandu.

Pandu juga mennyampaikan informasi penting terkait kebijakan Kementerian BUMN yang mulai memikirkan sizing di BUMN. “Konsekuensinya adalah bagaimana juga strategi placement-nya. Kandidat yang dipersiapkan itu sesuai tidak dengan konsep sizing di BUMN ini,” tambahnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Pandu mengharapkan FHCI mampu mencetak insan-insan SDM di BUMN supaya bisa lebih memberikan sumbangsih dalam arti profesionalism dunia. “Bagaimana melakukan pengelolaan, melakukan suatu kegiatan, melakukan interaksi, bertanggungjawab terkait dengan masalah perusahaan, untuk juga dilakukan suatu pola pemikiran, pola tindak dengan suatu kegiatan-kegiatan yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara korporasi, sehingga ke depan akan tercipta insan-insan korporasi yang tangguh. Sehingga kalau pun sudah tidak berkarir di BUMN, saya yakin insan BUMN tangguh ini akan tetap bisa berkarya di tempat yang lain,” tukasnya lagi.

Sementara itu di sharing session kali ini juga diperkenalkan Penasehat FHCI yang baru, yakni Harry Susetyo Nugroho, dari Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN. “Ini adalah kesempatan saya pertama berinteraksi dengan para pengurus dan anggota FHCI, dan saya menemukan suasana ‘sersan’, serius tapi santai di acara ini, sehingga dengan suasana santai ini diharapkan bisa keluar ide-ide baru bagaimana menjawab tantangan SDM di BUMN. Di Kementerian BUMN sendiri, ini juga termasuk tugas paling utama karena dengan menempatkan sumber manajemen yang benar, artinya sebagian tugas Kementerian BUMN sudah terlaksana, karena dengan tim yang solid, kredibel dan kapabel tentunya apa yang diharapkan Kementerian BUMN akan bisa terwujud,” kata Harry.

Harry mengakui dirinya baru menduduki di Bagian Infrastruktur Bisnis, yang nanti akan banyak bersentuhan dengan SDM eksekutif. “Dengan posisi ini, ke depan tentu akan berkaitan erat dengan kegiatan-kegiatan FHCI dan sebagaimana disebutkan tadi keinginan agar terbentuknya talent pool di BUMN juga menjadi tantangan yang menarik. Di BUMN sendiri saat ini menganut dream team, di mana kita menunjuk CEO-nya terlebih dahulu, kemudian CEO diberikan kebebasan untuk memilih siapa-siapa yang akan menjadi anggota timnya. Tentunya tidak asal pilih, sehingga keberadaan talent pool ini akan dirasakan besar sekali manfaatnya,” ujar Harry. (*/@erkoes)

Keterangan gambar:

Kiri-Kanan: Pandu Wijayanto (Pengawas FHCI), Harry Susetyo Nugroho (Penasehat FHCI), Priyantono Rudito (Ketua FHCI)

Tags: , , , ,