Tantang Ekspatriat untuk Paham Budaya Lokal

komposisi SDM Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, jumlah tenaga kerja di Indonesia mengalami peningkatan. Angkanya secara keseluruhan meningkat, namun pada saat yang sama terjadi pendewasaan dini. Hal ini karena lulusan SD pun kini sudah turun ke dunia kerja. Keadaan ini memprihatinkan sekaligus dapat mengancam kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk bersaing secara internasional.

 

Walaupun jumlah tenaga kerja meningkat, ternyata peningkatan ini belum sebanding dengan tuntutan kualitas SDM yang diperlukan. Karena itulah, sangat beralasan jika kemudian banyak perusahaan cenderung memilih mengimpor SDM dari luar negeri untuk mendapatkan standar kualitas yang diharapkan. Hal ini menyebabkan jumlah pekerja asing cenderung semakin meningkat dan mulai mendominasi khususnya di level-level profesional di Indonesia.

Data yang didapat per tahun 2011, ekspatriat China yang paling mendominasi, yaitu 16.149 orang. Jumlah itu disusul oleh Jepang sebesar 10.927 orang dan Korsel 6.520 orang (jurnas.com). Sebagai praktisi SDM, sudahkah hal ini menjadi perhatian khusus bagi Anda? Apa yang harus dilakukan agar SDM Indonesia tidak kalah bersaing dengan ekspatriat?

 

Kami sempat berbincang dengan Sumarlan Wibawa, Chief Administration Officer (CAO) PT Sumberdaya Sewatama, dan menanyakan bagaimana pendapatnya tentang SDM lokal vs expatriat. Menurut Sumarlan, peningkatan kualitas SDM lokal turut didukung oleh banyaknya karyawan yang sudah berpengalaman di Multinational Company (MNC) dan meningkatnya exposure pada dunia internasional.

“Saat ini telah banyak lulusan pendidikan dari luar negeri, bahkan ada yang sudah berpengalaman bekerja di luar negeri dan menjadi tenaga inti di banyak perusahaan di Indonesia,” ujar Marlan.

Kesempatan tersebut menurutnya turut membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita. Selain itu, dengan berpengalaman bekerja di luar negeri maka skill dan knowledge pekerja menjadi lebih baik.

Marlan menambahkan, “Dari sisi knowledge, skill mereka sudah lebih baik dan juga dari sisi perilaku yang terbiasa menjalankan bisnis dengan etika dan integritas yang tinggi.”

Marlan berpendapat bahwa perkembangan teknologi informasi juga turut mendukung proses pengembangan kualitas SDM. “Di generasi X dan Y menurut saya kita sudah semakin siap bersaing dengan tenaga dari luar negeri karena didukung pengalaman di multi national company, pendidikan dari luar negeri, exposure international apalagi didukung teknologi dan informasi yang semakin terkoneksi, yang berarti kita mempunyai akses informasi yang sama dengan para pekerja di belahan dunia manapun,” jelas Marlan yang mengaku perusahaannya menggunakan 100% tenaga lokal Indonesia.

Marlan sangat optimis dengan kemampuan anak muda Indonesia. “Kelebihan SDM lokal yang terutama adalah mereka jauh lebih memahami budaya, pasar dan perilaku konsumen lokal di Indonesia, termasuk juga peraturan perundangan dan birokrasi. Hal ini adalah modal utama untuk mendukung pengembangan bisnis di Indonesia,” ujar Marlan.

Generasi Muda Perlu Dukungan

Pentingnya dukungan organisasi dalam mengembangkan potensi SDM lokal dibenarkan oleh Marlan. Menurutnya seiring dengan perkembangan bisnis, dan tantangan bisnis yang semakin meningkat, ruang untuk pengembangan potensi generasi muda Indonesia masih luas untuk secara terus-menerus ditingkatkan dan dioptimalkan.

“Seperti misalnya mengirimkan lebih banyak lagi generasi muda kita untuk belajar, benchmarking ataupun magang di perusahaan-perusahaan multinational di luar negeri sehingga wawasan maupun kompetensinya bisa benar-benar sejajar dengan top employees di global bisnis,” tandas Marlan.

Meski dukungan adalah komponen penting untuk menunjang potensi generasi muda, namun mereka juga harus berinisiatif mengembangkan skill yang mereka punya agar memenuhi standard global.

“Menurut saya skill yang utama yang harus dikembangkan adalah kemampuan dalam memimpin dan mengembangkan bisnis yang berorientasi global, termasuk mengubah mindset, kemampuan pengambilan keputusan, analisa resiko dan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan global business environment,” jelas Marlan.

Untuk itu generasi muda diharapkan selalu mau belajar dan berani berkompetisi dengan para pemain global dengan tetap mengedepankan etika dan integritas tinggi. “Karena apabila generasi muda kita sudah mempunyai kompetensi yang sejajar dengan top employee di global community dan didukung etika dan integritas yang tinggi dalam menjalankan bisnis hal ini akan menjamin sustainability bisnis kita dalam jangka panjang dan memberikan manfaat yang lebih optimal kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk di dalamnya para karyawan, konsumen, para partner bisnis, pemerintah, komunitas, environment dan para pemegang saham,” tutur Marlan. (*/@nurulmelisa)

Tags: , , ,