Survey: Satu dari Tiga Pekerja Alami Bullying

Bullying di tempat kerja mungkin tidak seekstrim bullying ketika masa sekolah. Namun hal tersebut benar-benar terjadi. CareerBuilder melakukan survey terkait bullying di tempat kerja kepada 3.400 pekerja dengan latar belakang industri dan ukuran perusahaan yang berbeda. Hasilnya, setidaknya satu dari tiga pekerja di Amerika dilaporkan mengalami bullying di kantor. Buruknya, hampir 20% pekerja yang mengalami bullying lebih memilih untuk keluar dari pekerjaannya.

Survey ini juga menunjukkan bahwa sebanyak 34% korban bullying di kantor adalah pekerja wanita. Sedangkan pekerja pria yang ditemukan mengalami bullying hanya 22%. Selain itu, sebanyak 30% pekerja yang termasuk dalam kategori LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender), juga dilaporkan mengalami bullying di kantor. Diikuti dengan para pekerja yang physically disabled sebanyak 44%. Sebanyak 27% pekerja Afrika-Amerika dilaporkan mengalami bullying di kantor, diikuti dengan pekerja Hispanik sebanyak 25%, dan Kaukasian sebanyak 24%.

“Hal menarik yang kami temukan dalam survey ini adalah bullying di tempat kerja terjadi tanpa memandang ras, pendidikan, pendapatan dan tingkat otoritas dalam suatu organisasi,” ungkap Rosemary Haefner, selaku Vice President of Human Resources di CareerBuilder.

Lalu, siapa yang melakukan bullying? Sebanyak 45% responden menunjuk boss mereka sebagai pelakunya, lalu 25% menyatakan bahwa pelaku bully di kantor adalah seseorang dengan jabatan yang lebih tinggi dari mereka namun bukan boss mereka. Bahkan sebanyak 46% responden mengaku bahwa mereka di bully oleh rekan kerja mereka.

Berdasarkan survey ini pula diketahui bahwa salah satu bentuk bully yang kerap kali terjadi adalah menjadi kambing hitam ketika ada permasalahan yang terjadi.

Baca juga: Bullying di tempat kerja, apa tindakan HR?

Tags: