Survei: Wanita Gen Y Lebih Ambisius

Wanita yang termasuk dalam kategori Gen Y, dikenal lebih mampu menggebrak tradisi dan budaya dalam perusahaan. Hal ini disebabkan karena sifat mereka lebih cocok dengan gaya kepemimpinan masa kini dibandingkan dengan para  pria, begitulah yang dituliskan dalam The Great Generational Shift, sebuah whitepaper dari Hudson.

Perusahaan spesialis rekrutmen itu melakukan penelitian mengenai tantangan dalam menghadapi lima generasi yang berbeda dan apa perbedaan kualitas setiap generasinya. Berdasarkan data yang diambil dari 28.000 karyawan di seluruh dunia, ditemukan bahwa suatu pola perilaku dapat terlihat pada setiap pekerja dalam setting yang berbeda.

Jika dibandingkan, para pekerja pria maupun wanita yang termasuk dalam generasi baby boomer, Gen X dan Gen Y, ditemukan bahwa wanita dari Gen Y mendapatkan skor paling tinggi pada aspek social confidence (16 poin lebih besar dibandingkan para pria Gen Y, altruism (+12 poin) dan kemampuan organisasi (+22). Para wanita Gen Y juga mendapatkan skor yang tinggi pada aspek ambisi dan positive attitude. Artinya para wanita Gen Y, yang menjadi partisipan dalam survey ini, memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, rasa altruisme yang lebih tinggi dan kemampuan organisasi yang lebih baik dibandingkan pria Gen Y. Selain itu wanita Gen Y juga lebih ambisius dan lebih memandang tantangan sebagai hal yang positif.

Tim Drake, selaku Head of Talent Management UK, menyatakan pada HR Magazine bahwa hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi lingkungan kerja modern seperti saat ini. “Pemimpin akan lebih merasa tertantang pada masa kini, dan atmosfir yang terasa adalah atmosfir kolaborasi. Sehingga mereka yang berwawasan luas akan terlihat lebih baik. Pria cenderung lebih asertif ketika memimpin. Menurut saya, pendekatan seperti itu sudah tidak trend lagi,” ungkap Drake.

“Apapun jenis kelaminnya, seorang praktisi HR memiliki peran besar untuk mampu mengidentifikasi jenis pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan,” tambah Drake.

“Makin ke sini, iklim organisasi semakin berkembang, karyawan lain di perusahaan akan mulai bertanya, terutama kepada para praktisi HR, apakah mereka sudah memiliki pemimpin yang tepat. Dan seorang praktisi HR harus mampu menjawabnya,” tutup Drake.

Baca juga: Gen Y Kutu Loncat, Bagaimana Mencegah Mimpi Buruk HR

Tags: