Sulit Mencari SDM Berkualitas, Perusahaan Berani Bayar Di Atas Harga Pasar

parwati

Perusahaan kini mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan karyawannya, karena di tengah persaingan bisnis yang semakin memanas, SDM semakin langka dan terbatas.

Indonesia kini dianggap salah satu primadona baru di kancah ekonomi dunia, yang mampu menarik banyak perusahaan asing untuk berinvestasi. Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan pengusaha di Indonesia yang ingin meningkatkan performa perusahaan dan mencapai efektivitas kerja.

Salah satu industri yang menghadapi tantangan seperti ini adalah dunia perbankan. Menurut Parwati Surjaudjaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP, banyak bank baru yang masuk ke Indonesia karena bisnis perbankan saat ini sedang cantik-cantiknya.

“Banyak bank baru masuk ke Indonesia karena bisnis bank sedang cantik-cantiknya. Mereka tidak punya orang, namun ingin membangun bisnis, sehingga mau tak mau mereka akan membayar berapun biaya SDM di atas harga pasar,” ujar Parwati dalam seminar bisnis “17 CEO Addresing 8 Challenges Towards a Better Indonesia” yang diselenggarakan Rabu (17/10) yang lalu.

Menurut Parwati, karena sulitnya mendapatkan SDM berkualitas, maka di sisi lain perusahaan juga harus pandai mempertahankan karyawan yang bagus. Mendengarkan keluhan dan mengajak karyawan untuk menjadi bagian yang utuh bagi perusahaan menurutnya menjadi salah satu cara mempertahankan loyalitas tersebut.

“Kami berupaya mempertahankan karyawan dengan memperlakukannya seperti keluarga. Generasi karyawan saat ini sudah berbeda, sudah tak zamannya lagi dengan hanya menggaji karyawan kami bebas memarahi mereka,” tambah Parwati. Parwati menganggap inovasi produk menjadi nomor 2 bila dibandingkan dengan pentingnya menjaga kualitas SDM yang diperlukan untuk perusahaan.

Kelangkaan SDM kemudian memunculkan tren bajak-membajak karyawan. Hal ini dikemukakan Bambang Triwibowo, CEO PT PP, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan perumahan.

“Untuk menciptakan keunggulan bersaing secara kesinambungan, pengelolaan manusia dan pembangunan kultur perusahaan sangat diperlukan,” ujar Bambang.

Untuk itu sebagian besar karyawan dan manajemen PT PP memiliki saham perusahaan sehingga terbangun rasa ikut memiliki.

“Jadi kalau ada karyawan yang melakukan kesalahan, bukan hanya atasannya yang marah tetapi semua karyawan ikut memarahi,” seloroh Bambang.

Menurut Bambang, program pengembangan SDM harus dilakukan mulai dari proses perekrutan. PP aktif melakukan roadshow ke universitas terbaik untuk mendapatkan kandidat yang berkualitas, mahasiswa yang belum lulus akan diberikan pembekalan terlebih dahulu (magang) agar siap diterjunkan ke lapangan ketika sudah lulus.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Priyantono Rudito, Direktur Human Capital and General Affair Telkom Indonesia juga memaparkan tantangan yang dihadapi Telkom di sisi SDM. Pergeseran fokus bisnis Telkom dari jasa telekomunikasi saja menjadi TIMES (Telekomunikasi, Informasi, Media, Edutainment, dan Services) membuat perusahaan memerlukan kultur dan SDM yang menunjang.

“Untuk menjadi leading company, kita memerlukan culture dan people yang menunjang, pengembangan Telkom menjadi TIMES mesti didorong dengan spirit yang kuat, kami menyebutnya Great spirit beyond strategy,” ujar Priyantono.

Menurutnya karyawan yang berkualitas tidak hanya yang memiliki skill, namun faktor yang paling penting adalah attitude.

“Jadi teorinya kami balik, bukan skill dulu tapi attitude dulu, baru knowledge dan skill. Karena prioritas pengembangan manusia dari attitude-nya, ujar Priyantono tegas. (*/@nurulmelisa)

Tags: