Strategi untuk Jadi Global Talent

GI Net

Global talent menurut definisi Global Indonesia Network, adalah sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berada di luar negeri atau SDM Indonesia yang ada di dalam negeri namun bekerja di perusahaan asing, organisasi asing, atau melakukan joint venture dengan pihak asing.

Indonesia yang dilihat sebagai land of opportunities, di tahun 2030 nanti diprediksi akan menuju peringkat 7 dalam hal ekonomi terbaik di dunia. Namun berita baik tersebut ternyata tidak dibarengi dengan ketersediaan global talent Indonesia di pasar internasional, demikian disampaikan Dr. Hana Panggabean, Director School of Graduate Program Atmajaya University dalam  Roundtable Dissussion: Becoming a Global Citizen: A New Frontier for Global Indonesian di Universitas Atmajaya, kemarin (1/7).

“Dari hasil penelitian kami, minimnya supply global talent Indonesia di pasar internasional disebabkan karena banyak dari SDM Indonesia yang lebih memilih kembali ke Indonesia lagi. Alasannya adalah karena keluarga, atau karena ia menganggap dengan kembali ke Indonesia, ia akan memiliki karier lebih baik. Namun harus menjadi orang yang excellent di bidangnya terlebih dahulu untuk mendapatkan kesempatan tersebut dengan cara ia bekerja di luar negeri,” jelas Hana.

Lebih lanjut Hana juga menjabarkan, beberapa kompetensi untuk menjadi global talent yang kompeten juga perlu dikembangkan. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mindset global dan memperluas pengetahuan.

2. Penguasaan akan bahasa asing & technical excellence: technical excellence berarti SDM tersebut menguasai keahlian khusus.  Hana menjabarkan bahwa berdasarkan hasil studinya, banyak dari SDM Indonesia yang awalnya berasal dari technical job, kemudian beralih ke general job. Hal ini akan menjadi ganjalan sendiri saat ia akan masuk ke top level manajemen dalam level global. “Padahal technical skill di atas rata-rata merupakan daya saing yang baik  untuk seorang global talent,”  tambah Prof. Dr. Hora Tjitra, Executive Director & Founder Tjitra Consulting.

3. Self articulation & assertive communication: yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dan menampilkan diri di depan forum. Hal senada dikemukakan oleh salah satu partisipan dalam diskusi tersebut, George Hadi Santoso, President Director & Country Manager PT DuPont Agricultural Products Indonesia & PT DuPont Indonesia, yang berpendapat bahwa kemampuan untuk menyuarakan pendapat dalam meeting atau forum,  tidak hanya diam saja, dan memberikan impresi yang baik di depan forum, masih harus kita benahi.

4. Intercultural sensitivity & awareness: yaitu faktor-faktor yang diperlukan untuk mengelola perbedaan-perbedaan budaya. Dengan adanya sensitivitas kultural ini seorang SDM akan lebih dapat menghindarkan dirinya dengan culture shock yang selama ini menyebabkan 50% pekerja global kembali ke negara asalnya.

Salah satu pembicara yang sharing dalam forum kali ini yaitu Adi Prabowo, Associate Director, Asia Pacific OTC Project & Portfolio Management di Johnson & Johnson menambahkan bahwa networking juga merupakan hal yang penting untuk dapat survive dalam bekerja di ranah internasional.

Di sini organisasi juga berperan dalam mengembangkan global talent melalui beberapa langkah yaitu,  exposure to diversity (melibatkan SDM dalam lingkup kerja internasional), early intensives experiences on intercultural learning (pembelajaran dimulai sedini mungkin, saat pekerja masih berusia muda), international assignment in early career, dan strong tehnical competence.

Di luar dari kompetensi yang perlu dikembangkan oleh SDM Indonesia agar lebih banyak lagi SDM kita yang dapat menjadi global talent, Hana menakankan SDM Indonesia di mata internasional dianggap  memiliki interpersonal skill yang bagus. Mereka peka terhadap bawahannya dan harmony oriented, itulah beberapa poin plus yang disukai masyakarakat internasional dari bangsa kita, yang merupakan bagian dari global competence.

Hana juga berpesan bahwa untuk menjadi seorang global talent yang sukses, yang paling penting adalah SDM tersebut mau keluar dari comfort zonenya. ”Dengan ia keluar dari negaranya ataupun bekerja di lingkup kerja SDM asing, berarti ia mau untuk menghadapi perubahan dan menantang dirinya sendiri. Hal tersebutlah yang membuat seorang individu dapat sukses bersaing di dunia internasional,“ pungkas Hana.(*/@shinnyislamiyah)

Tags: ,