Spiritualitas untuk Tingkatkan Engagement Karyawan Bank Mandiri

Ada berbagai macam definisi employee engagement, namun kata kuncinya terletak pada tingkat seberapa para pegawai secara emosional dan rasional terlibat dan termotivasi serta berkomitmen pada tujuan perusahaan. Demikian Yuslam Fauzi, Dean Islamic Banking School Bank Mandiri, membuka sesinya dalam seminar bertajuk Indonesia Spiritual Capital Development yang berlangsung di Jakarta (7/5).

“Intinya yang dimaksud employee engagement dari berbagai macam definisi, keywordnya adalah tingkat dimana para pegawai secara emosinal dan rasional terlibat dan termotivasi dan komitmen pada tujuan perusahaan. Kalau dilihat dari tingkatannya diatas komitmen lah ya,” ungkap Yuslam Fauzi.

Yuslam Fauzi memberikan contoh terorisme sebagai absolute engagement. “Contoh engagement penuh dalam organisasi yaitu teroris. Teroris yang mau gendong bom kemudian meledakkan dirinya, mati meninggalkan keluarga dan anak istri untuk tujuan organisasinya. Itulah contoh absolute engagement atau 100% engagement. Bukan terorisnya yang kita ambil, tapi engagementnya.”

Baca juga: SDM Bidang Media Perlu Spiritualitas

Permasalahan employee engagement muncul setelah evolusi yang dimulai dari employee satisfaction. Sejauh mana pekerja merasa puas dengan pekerjaan mereka, namun ternyata permasalahan utamanya bukanlah itu. Pada tahun 1960an, permasalahan yang diperhatikan para pemimpin adalah mengenai employee motivation. Para pekerja yang dirasa butuh motivasi lalu dikirim ke training motivasi namun ternyata efeknya hanya bertahan satu atau dua bulan. Pada tahun 1980-1990an ternyata ditemukan bahwa permasalahannya ada di employee commitment. Employee commitment ditunjukkan dengan menandatangani perjanjian yang ternyata baru niat dan belum ada aksi. “Setelah itu muncullah konsep employee engagement. Jadi tanpa disupervisi dengan komitmen pun karyawan dapat terus bekerja,” ungkap Yuslam Fauzi.

Engagement dapat membangun involvement, commitment, trust dan integrity. Keempat hal ini kemudian menghasilkan performance dan endurance. Hal ini dikemukakan oleh Yuslam Fauzi berdasarkan hasil-hasil penelitian terbaru. Berdasarkan penelitian dari Gallup, salah satu faktor yang mempengaruhi employee engagement adalah leader. Ternyata 52% pegawai tidak engage, 29% engage dan 19% actively disengage. “Perusahaan di dunia banyak yang collaps karena faktor employee engagement,” jelas Yuslam Fauzi.

Peranan pemimpin dalam employee engagement sangat besar. Jika pemimpin tidak dapat meng-engage para pekerjanya, maka pekerjanya pun tidak akan engaged dengan perusahaan. “Sebanyak 90% pemimpin sadar betul bahwa permasalahan yang dihadapinya adalah masalah employee engagement namun ternyata hanya 25% diantaranya yang memiliki solusi atas permasalahan tersebut,” jelas Yuslam Fauzi memaparkan hasil penelitan yang ia temukan.

Pemimpin memang salah satu faktor penting yang berpengaruh dalam employee engagement, namun ternyata ada hal lain yang juga sangat berpengaruh, apakah itu? Spiritulitaslah jawabannya. Yuslam Fauzi memaknai spiritualitas sebagai pencarian makna hidup (meaning in life), rasa keterlibatan dengan lingkungan (sense of community) dan mampu terikat dengan Tuhan (transcendence). Pencarian makna hidup dapat membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna. Sama hal dengan mencari makna dalam bekerja. Bekerja tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga sebagai ibadah. Kemenyatuan dengan lingkungan juga dibutuhkan seseorang dalam membentuk spiritualitas. Ditambah dengan rasa terikat dengan Tuhan maka spiritualitas itu terbangun.

Yuslam Fauzi memberikan pemaparan spiritualitas sebagai elemen dalam pekerjaan. Jika spiritualitas sudah menjadi elemen dalam  pekerjaan, maka hal tersebut akan membentuk komitmen spiritual. Hal ini kemudian akan mengarahkan pada performa kerja yang lebih baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin seseorang memiliki spiritualitas maka semakin baik juga performa kerja yang akan ditampilkan. (*/@aindahf)

Baca juga: Mari Beri Ruang Spiritualitas dalam Organisasi

Tags: ,