Sisi Lain Engagement

Engagement karyawan ibarat Cawan Suci dalam manajemen talent. Semua organisasi pasti menginginkan karyawan yang berkomitmen pada keberhasilan organisasi dan bersedia memberi lebih.

Tetapi ada sisi lain engagement yang sering luput dari perhatian banyak organisasi: Karyawan yang engaged juga bisa cepat menjadi tidak engaged bila mereka merasa dimanfaatkan — dan karyawan yang tadinya sangat terlibat (engaged) berpotensi untuk lebih merugikan perusahaan dibanding mereka yang memang tidak pernah terlibat.

Itulah temuan utama sebuah riset yang dilakukan Wayne Hochwarter, Profesor of Business Administration di Florida State University College of Business. Hochwarter mensurvei 1.000 orang, baik staf biasa maupun pejabat perusahaan, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang engagement karyawan, manfaatnya pada perusahaan, dan juga bahaya yang mungkin timbul apabila tidak dikelola dengan baik.

“Karyawan yang engaged bekerja lebih keras, lebih kreatif dan lebih berkomitmen, dan mereka merupakan prediktor yang penting terhadap produktivitas perusahaan,” ujar Hochwarter seperti dikutip dari situs management-issues.com. “Tidak diragukan lagi, organisasi yang memiliki karyawan engaged dapat lebih berhasil mengatasi tekanan resesi.”

Meskipun begitu, organisasi tetap harus sensitif terhadap fakta bahwa bahkan karyawan terbaik pun bisa “lelah” bila mereka merasa terus diminta melakukan lebih dan lebih, dan dengan sumber daya yang semakin sedikit, sementara mereka membandingkan dengan rekan mereka yang tuntutannya lebih sedikit.

Penelitian tersebut menemukan bahwa karyawan yang merasa terlibat 50% lebih tinggi dalam hal kepuasan kerja, 45% lebih tinggi dalam kinerja, dan 40% lebih tinggi dalam kepuasan hidup. Mereka juga 33% lebih kecil kemungkinannya untuk pindah ke tempat lain dan 30% lebih berkomitmen kepada perusahaan.

Bagian yang rumit di sini adalah bagaimana mempertahankan engagement karyawan tersebut. Bila karyawan merasa mereka dimanfaatkan, bila mereka tidak mendapatkan dukungan dan sumber daya yang mereka perlukan untuk melakukan pekerjaan mereka, mereka akan mulai menunjukkan beberapa sikap dan tingkah laku yang tidak diinginkan.

Perilaku negatif tersebut seperti 50% penurunan dalam sikap suka membantu, 35% peningkatan kemarahan kepada supervisor, dan 33% meningkatnya kepercayaan bahwa apa yang diharapkan dari mereka berada di luar kapasitas mereka. Selain itu, tingkat stress mereka 30% lebih tinggi dan produktivitas secara umum menurun 25%.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa, karyawan yang terlibat dapat mudah menjadi tidak terlibat apabila tidak dikelola dengan baik.

Kepada para pemimpin bisnis, Hochwarter mengingatkan bahwa engagement karyawan adalah sesuatu yang harus dijaga dan dibudidayakan, bukan sebuah proses sekali jadi saja.

“Membuat karyawan engaged seperti menanam pohon: Bila Anda abaikan, pohon tersebut tidak akan tumbuh. Dan akhirnya, banyak pemimpin merasa mengelola pekerja yang terlibat lebih mudah daripada mereka yang tidak terlibat. Padahal kenyataannya tidak demikian dalam kebanyakan perusahaan,” pungkasnya.

Tags: ,