Sebagian Besar Perusahaan Belum Bergeser dari HR ke HC

octa melia jalal

Isu mengenai pergeseran aktivitas human resource (HR) kepada human capital (HC) sudah lama  menyeruak di kalangan organisasi atau perusahaan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana penerapannya. Dalam forum Human Capital yang diselenggarakan PPM Manajemen hari ini ditemukan bahwa sebagian besar perusahaan masih belum bergeser dari HR ke HC.

Menurut Octa Melia Jalal, Chairman of Center of HC Development PPM Manajemen Indonesia, berdasarkan data yang dihimpun melalui voting, ada beberapa hal yang menjadi kendala mengapa perusahaan belum menerapkan sistem HC. Kendala tersebut adalah:  komitmen di dalam manajemen (leadership), paradigma tentang HC yang terkadang belum dapat dipahami oleh perusahaan, dan keterlibatan manajer lini yang dinilainya masih kurang.

Perbedaan antara HR dengan HC, di dalam konsep HR sumber daya manusia (SDM) dipandang sebagai pengeluaran (cost) sehingga perusahaan cenderung menekan cost tersebut sekecil mungkin.

Sementara konsep HC memandang SDM sebagai capital (modal) yang nilainya pun harus dihitung, sama seperti modal perusahaan yang lain, seperti tanah, gedung, dan lain-lain.

HC menganggap SDM sebagai aset yang dapat dinilai, diukur dan dikembangkan seperti aset lainnya. SDM juga aset yang dinamis yang dapat meningkat nilainya dari waktu ke waktu, bukan aset yang terdepresiasi nilai. SDM merupakan aset utama, misalnya seringkali nilai saham akan berkurang atau menurun pada saat HCnya tidak dikelola dengan baik.

Dimulai pada saat penyeleksian karyawan kekeliruan seringkali ditemukan, seperti bentuk diskriminasi terhadap SDM seperti mengatasnamakan gender, mempekerjakan orang yang salah, dan mempekerjakan terlalu banyak orang atau bahkan terlalu sedikit. Terkait dalam merekrut karyawan, tidak cukup hanya berbasis kompetensi, SDM juga harus didasari oleh karakter. Kriteria yang diseleksi mencakup Intelligent, skill, dan heart.

Saat ditanya mengenai hambatan yang kerap dialami perusahaan saat mengembangkan SDM dan SDM yang telah berkembang meninggalkan perusahaan, wanita yang kerap disapa Mia itu menegaskan lebih baik memiliki karyawan yang capable meskipun hanya bertahan beberapa tahun, ketimbang pada saat rekruitmen HRD memilih SDM yang salah.

“Dapat dicontohkan, SDM yang berkinerja tinggi kerap berpindah tempat kerja dalam waktu yang cepat, namun hal tersebut tidak masalah asalkan si karyawan telah menerapkan performance yang baik di perusahaan,” katanya. (*/@friesskk)

 

Tags: , ,