SDM Harus Siap Dengan New Economy

Rene Suhardono

Siapa yang tidak kenal produk Nokia? Beberapa tahun silam, merek ponsel tersebut sempat merajai pangsa pasar Indonesia. Akan tetapi sejak kemunculan Android maupun Iphone, dominasinya mulai meluruh secara drastis. Sama halnya dengan Kodak, pada masa kejayaannya, Kodak mengklaim dirinya tidak akan pernah mati terlindas jaman, namun saat ini Kodak harus menghadapi kebangkrutan. Satu poin penting dapat kita pelajari dari kisah dua produk berbasis teknologi tersebut, yakni perkembangan teknologi berjalan begitu pesat dan mereka yang gagal mengimbangi perkembangan serta tidak mampu melihat kebutuhan konsumen harus siap menerima kekalahan.

Rene Suhardono Canoneo, Career Coach dan penulis buku UltimateU, mengungkapkan bahwa siap atau tidak, kita harus mau berhadapan dengan yang dinamakan New Economy. Sebuah bentuk sistem ekonomi baru yang tidak lagi berbasis pada resources, melainkan pada teknologi informasi. Secara langsung dan tidak, new economy ini juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia Human Resource (HR).

Salah satu implikasi yang terjadi di dunia HR adalah bahwa kini, kita harus berpikir ulang (rethink) tentang makna bekerja itu sendiri. Menghadapi perubahan dengan ritme yang cepat, dibutuhkan talent yang mampu dan mau untuk berkembang bersama-sama. Memiliki kepedulian dan tanggung jawab untuk mendidik orang lain. Alasannya adalah karena tidak setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar sehingga bukan tidak mungkin SDM lokal akan tertinggal dari SDM dari luar negeri.

“Pada tahun 2020, diperkirakan posisi lini manager 70% akan diisi oleh orang dari luar Indonesia,” ungkap Rene.

Ia menambahkan bahwa dari sekian banyak generasi baru yang mendaftar di sekolah dasar, tak lebih dari 30% berhasil lulus dari perguruan tinggi. Sisanya bisa dikatakan sebagai missing generation, maksudnya adalah mereka yang bekerja pada profesi yang tidak membutuhkan keahlian khusus, seperti supir, pembantu dan berbagai profesi lainnya. Salah satu cara yang paling mudah untuk kita lakukan sebagai individu adalah memulai dari hal kecil yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup kita dan juga orang lain.

Perlu diperhatikan juga oleh para praktisi HR dan talent bahwa dalam konteks organisasi, yang diperlukan adalah talent yang memiliki keterampilan untuk melakukan pemberdayaan (empowerment) atau membuat orang menjadi mampu melakukan sesuatu. Mendorong karyawannya untuk membuahkan karya dengan mengoptimalkan passion yang dimiliki oleh karyawan tersebut. Memenangkan persaingan dalam ekonomi baru yang bisa dikatakan revolusioner dengan berbasiskan teknologi, diperlukan karyawan yang sadar akan pentingnya membuat perbedaan dan perubahan. Rene memastikan bahwa ketika motivasi seorang karyawan hanyalah uang maka sesungguhnya karyawan tersebut tidak pernah berkarya sama sekali. (*/@yunitew)