Saatnya HRD Peduli dengan HIV/AIDS

Sejauh ini, mendengar kata HIV/AIDS masih menimbulkan stigma negatif dari masyarakat Indonesia. Dalam artian bahwa masih banyak orang yang mendiskriminasikan penderita HIV/AIDS. Alasan yang paling umum adalah mereka tidak ingin tertular dan meminimalkan resiko tertular tersebut, biasanya tanpa berpikir panjang bahwa sikap kita mungkin akan menyinggung si pengidap.

Sejumlah data menunjukkan bahwa kasus penyakit HIV/AIDS mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di Indonesia. Dari awal HIV ditemukan di Indonesia, kasus yang terjadi masih berkisar 600an. Hingga survey terakhir tahun 2012, jumlah penderita HIV meningkat menjadi dua puluh satu ribuan. Dan berdasarkan riset yang sama, dari keseluruhan penderita, di atas 80% pengidap berada di usia produktif yakni dari umur 15-49 tahun.

Untuk itulah, tujuh perusahaan yang peduli dengan isu HIV/AIDS membentuk organisasi bernama Indonesia Business Coalition on AIDS (IBCA). Tujuh perusahaan tersebut antara lain Chevron, BP Migas, Gajah Tunggal, Freeport, Sintesa Group, Sinarmas dan Unilever. Mereka memiliki misi besar yakni menanggulangi persebaran HIV/AIDS di linkungan kerja.

Bagi mereka, mencegah jauh lebih menguntungkan daripada mengobati, baik ditinjau dari segi biaya, produktivitas maupun kemanusiaan. Dalam Workshop bertajuk “Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja” yang diadakan kemarin (12/11), Dr Wisprayogie, Health Manager Chevron, memberikan contoh jika seorang karyawan terjangkit AIDS maka pengeluaran yang harus dikeluarkan perusahaan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun ketika perusahaan peduli terhadap program penanggulangan dan tepat dalam menyikapi status karyawan yang terjangiti HIV, maka pengeluaran tersebut dapat diminimalisir. Paling tidak untuk satu karyawan, hanya sekitar 960,000 per tahun. Dijelaskan pula bahwa AIDS adalah sebutan untuk HIV positif yang sudah sangat parah, imunitas tubuh sudah sangat minim karena sel TCD4 nya kuang dari 300 per mikroliter di dalam darah.

Terdapat beberapa karakteristik untuk perusahaan yang karyawannya rentan terjangkit HIV/AIDS. Mereka adalah perusahaan yang jumlah pekerja pria lebih banyak daripada wanita, mobilitas tinggi, jauh dari keluarga, banyak jumlah pekerja yang masih lajang, upah tinggi dan beberapa karakteristik lain yang umum ditemui sebagai perusahaan pertambangan dan sejenisnya.

Lalu inisiatif apa yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menanggulangi HIV/AIDS? Menurut Ramdani Sirait, Head of CSR Gajah Tunggal Tbk, program penanggulangan HIV/AIDS dapat dimulai dari departemen HRD atau K3. Departemen tersebut dapat terlibat langsung dalam upaya pencegahan penularan penyakit.

Di Indonesia sendiri, perusahaan yang memiliki kesadaran akan pentingnya program pencegahan belum banyak. “Saat ini, memang sudah ada yang mulai peduli. Ada, tetapi masih jauh untuk dikatakan menggembirakan. Masih banyak tantangan ke depan yang harus kita hadapi untuk memutus lingkaran setan penularan HIV/AIDS ini,” ungkap Dr Wisprayogie.

Chevron dan Gajah Tunggal mungkin adalah dua dari beberapa perusahaan yang dapat kita jadikan contoh dalam hal penanggulangan terhadap HIV/AIDS di lingkungan kerjanya. Dari program kedua perusahaan tersebut, terangkum beberapa poin yang dapat kita pelajari selaku praktisi HRD dalam rangka memberantas persebaran HIV/AIDS di kalangan pekerja.

Poin pertama yakni adanya komitmen top manajemen dalam penyelenggaraan program ini. Kedua, perusahaan menetapkan policy dengan bekerja sama dengan dinas tenaga kerja atau instansi manapun untuk melindungi hak-hak pengidap HIV/AIDS. Perusahaan juga perlu melakukan edukasi dengan melakukan training untuk menambah pemahaman karyawan tentang HIV/AIDS. Kemudian, perusahaan juga perlu memberikan akses bagi karyawan untuk melakukan Voluntary Counseling Test (VCT) untuk mengetahui bahwa karyawan merupakan pengidap atau bukan. Dalam test tersebut, wajib hukumnya bagi perusahaan untuk menjaga kerahasiaan hasil test.

Poin selanjutnya adalah memberikan tanggapan yang tepat apabila karyawannya didapati mengidap virus HIV. Penanganan bisa beragam yakni dengan tes sel TCD4 hingga pemberian obat ARV yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh pengidap. Perusahaan juga tidak boleh memecat karyawan pengidap HIV possitif apabila memang hal tersebut tidak mengganggu produktivitas si karyawan.

“Orang dengan HIV AIDS (ODHA) masih dapat bekerja dan berproduksi secara normal layaknya orang sehat. Kecuali jika ia menderita AIDS maka sulit baginya untuk bekerja secara normal dan bahkan harus dirawat di rumah sakit,” demikian ungkap Yuli Simarmata Programme Manager dari IBCA. (*/@yunitew)