Survei Biaya Hidup : Panduan bagi Manajer SDM

Perbedaan biaya hidup di berbagai daerah membuat perusahaan sering kesulitan menentukan besaran kompensasi bagi karyawan yang ditugaskan ke daerah lain. Bagaimana para manajer HR menyiasatinya?

Joni Rukmana, karyawan bagian teknik di sebuah perusahaan kontraktor listrik di Jakarta, tampak uring-uringan ketika ia harus menjalankan tugas selama tiga bulan di Jayapura. Pasalnya, setelah dihitung-hitung, uang saku dan bekal biaya hidup yang ia terima bakal tidak mencukupi lantaran biaya hidup di kota tersebut, menurutnya sangat tinggi. Di sisi lain, ia juga tak bisa menolak, karena bidang pekerjaan yang harus ditangani sangat penting.

Asumsi Joni mengenai tingginya biaya hidup di Jayapura, sejatinya tidak mengada-ada. Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh konsultan sumber daya manusia, Mercer, dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, Jayapura menempati peringkat tertinggi sebagai kota dengan biaya hidup paling mahal. Disusul kemudian Batam, Balikpapan dan Jakarta. Kota besar lainnya seperti Medan, Surabaya, Bandung dan Denpasar, masing masing menempati urutan kelima, enam dan 17. Biaya hidup yang relatif rendah ditempati Yogyakarta, Bandar Lampung Cilegon dan Mataram.

Menurut Lucky Suardi dari Mercer HR Consulting, hasil survei biaya hidup di kota-kota besar di Indonesia menunjukkan letak kota memengaruhi distribusi barang dan jasa. Kota yang dikelilingi bahan makanan yang cukup, biaya hidupnya akan lebih murah, seperti Yogyakarta atau Bandung. Demikian pula dengan persediaan jenis bahan makanan yang tersedia. Makin banyak jenis makanan yang tersedia, makin murah harganya. Selain itu, survei ini tujuannya untuk menarik minat orang untuk pindah ke daerah lain. Selama ini banyak perusahaan yang kesulitan memindahkan orang ke wilayah lain karena berubahnya biaya hidup.

Bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki cabang atau kantor di beberapa kota di Indonesia, menetapkan kebijakan kompensasi menjadi pekarjaan yang perlu perhatian dan pertimbangan ekstra. Kerap terjadi kecemburuan antarkaryawan antarkota, atau karyawan yang akan dipindahkan seringkali mempertanyakan apakah kompensasi yang diterima dapat membuatnya hidup dalam tingkat kenyamanan yang sama atau lebih daripada di kota asalnya. Belum lagi pertanyaan – pertanyaan mengenai jumlah uang saku bagi karyawan yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Luky menambahkan, survei yang dilakukan berisi elemen-elemen kunci yang diperlukan untuk menghitung kebijakan kompensasi yang terkait dengan perbedaan biaya hidup di berbagai kota di Indonesia. Perbedaan ini diukur dengan membandingkan harga-harga 150 barang dan jasa dalam suatu keranjang survei nasional, yang mencerminkan pola belanja seorang profesional, dengan asumsi karyawan telah menikah dengan dua anak.

Keranjang survei berisi pilihan barang dan jasa yang umum dikonsumsi baik di kota asal maupun kota tujuan. Riset harga-harga dilaksanakan pada bulan April setiap tahun pada 3 jenis pasar di setiap kota.

Dari hasil pengamatan terhadap hasil survei, distribusi dan transportasi barang dan jasa merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap perbedaan harga di berbagai kota. Sehingga, secara umum barang dan jasa yang bukan produksi lokal suatu kota, akan lebih mahal harganya.

Ada beberapa kategori yang dijadikan dasar survei, yakni bahan pangan, barang kebutuhan domestik, transportasi dan layanan rumah tangga. Kategori makanan yang dikonsumsi di rumah meliputi bahan makanan pokok, sayuran, daging dan sumber protein lain, serta bumbu dapur. Kota-kota yang berada di sekitar daerah produksi pangan seperti Makassar, Bandar Lampung dan Bandung menikmati harga bahan makanan di rumah yang lebih murah dibandingkan dengan kota-kota lain yang disurvei.

Sedangkan kategori barang kebutuhan domestik, karyawan yang tinggal di Jakarta lebih sedikit mengalokasikan pendapatan mereka untuk membeli kebutuhan domestik rumah tangga (perawatan rumah tangga dan barang elektronik), apabila dibandingkan dengan kota-kota lain. Tekanan terhadap harga di kategori ini muncul, kata Lucky, karena keragaman barang yang tersedia di Jakarta di mana karyawan memiliki kebebasan untuk memilih barang dan jasa yang diingini. Sebaliknya, kota-kota seperti Jayapura, Palembang dan Cilegon dengan pilihan barang yang lebih terbatas di pasar, mencatat harga barang yang lebih tinggi dibandingkan Jakarta.

Pada kategori transportasi, patokan yang dipakai adalah ongkos bis sebagai dasar kalkulasi. Di sini terlihat bahwa jarak merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perbedaan tarif transportasi di kota-kota yang disurvei. Dengan demikian, kota-kota dengan mobilitas sehari-hari penduduk yang tinggi ke kota-kota sekitar menunjukkan biaya transportasi yang lebih mahal. Ongkos transportasi yang disurvei telah memasukkan dampak kenaikan harga bahan bakar baru-baru ini.

Adapun kategori layanan rumah mencakup layanan-layanan domestik terkait dengan jasa binatu, pembantu serta pramusiwi (babysitter). Kota-kota besar dengan tingkat kesulitan untuk mencari pembantu rumah tangga serta tenaga profesional penjaga anak mencatat biaya yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain.

Manfaat bagi Manajer SDM

Informasi survei ini dapat menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan di dalam menyikapi adanya perbedaan biaya hidup antar kota. Menurut Geoffrey W. Latta, dalam Expatriate Compensation Practices, perusahaan-perusahaan multinasional menggunakan berbagai pendekatan dalam menjawab adanya perbedaan biaya hidup untuk karyawannya yang akan dipindahkan ke luar negeri dalam periode cukup panjang: Memasukkan unsur perbedaan biaya hidup ke dalam gaji dasar, mendesain tunjangan khusus terkait dengan daerah tertentu, seperti tunjangan kemahalan, perumahan, pendidikan anak.

Satu jenis tunjangan lain seperti tunjangan pajak pribadi biasanya digunakan untuk ekspatriat, tetapi tentu tidak relevan dalam kasus perpindahan karyawan antar kota di satu negara. Memberikan insentif tertentu yang,dihitung berdasarkan persentase tertentu terhadap gaji atau premi mobilitas – diberikan secara sekaligus (lumpsum) pada awal atau akhir penugasan.

Menurut Luky, perusahaan-perusahaan di Indonesia telah lama berinovasi dalam menemukan perbedaan biaya hidup di kota-kota seluruh Indonesia. Beberapa perusahaan menggunakan gaji sebagai instrumen untuk menyikapi perbedaan tersebut, sementara perusahaan lain menggunakan perbedaan benefit dan tunjangan. Selain terkait dengan perpindahan karyawan dari satu daerah ke daerah lain, informasi survei ini dapat digunakan untuk mendesain tunjangan transport, tunjangan makan yang berbeda di masing-masing daerah, serta mendesain kebijakan tiap perjalanan dinas karyawan ke luar kota.

Di samping menyajikan informasi yang diperoleh melalui analisis yang mendalam, laporan survei ini juga menyertakan data-data lapangan aktual, sehingga manakala diperlukan, perusahaan dapat memprosesnya lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan pengambilan keputusan. Selain itu, diharapkan hasil survei inipun dapat meningkatkan kemampuan HR dalam menjawab tantangan perbedaan biaya hidup.

Lalu bagaimanakah perusahaan dan HR menjawab permasalahan tersebut? Prio Riswanto, manajer HRD sebuah perusahaan teknologi informasi mengakui, survei tersebut mestinya sangat membantu para manajer SDM dalam mengalokasikan dana, terutama ketika hendak mengirimkan karyawannya ke daerah lain. Sejauh ini, katanya, pihaknya mendasarkan perhitungan biaya hidup dan tunjangan bagi karyawan yang dipindahtugaskan ke luar daerah berdasarkan persentase tertentu dari gaji yang diterima karyawan. “Meski begitu, kami juga tetap memperhitungkan ke daerah mana karyawan akan ditempatkan. Nah, survei ini saya rasa cukup membantu,” katanya.