Survei: 41% Karyawan Mengalami Change Fatigue

change fatigue

PENINGKATAN performance seorang karyawan adalah dambaan semua perusahaan. Kinerja karyawan yang mampu mendongkrak revenue perusahaan menjadi salah satu kebutuhan organisasi. Namun apakah semudah itu karyawan memberikan loyalitasnya untuk perusahaan, sementara tekanan juga terus datang?

Seiring perubahan perekonomian ditambah penyakit kronis yang saat ini bermunculan, seperti Change Fatigue yang kerap menimpa organisasi, membuat beberapa karyawan mengalami dilema dalam bekerja. Dalam sebuah survey yang dirilis Towers watson mengenai dampak dari penyakit kronis bernama Change Fatigue didapatkan hasil yang miris, diantaranya:

• 41% Employee kecapekan dengan perubahan yang terjadi.
• 35% memilih tetap stay because they think have to, tidak ada pilihan.

Untuk itu, dengan melibatkan 30 partisipan dari berbagai negara, Towers Watson melakukan penelitian Global Talent dan Reward mengenai strategi apa yang efektif untuk diterapkan dalam perusahaan sehingga karyawan merasa dihargai dan kembali produktif walau pressure mengancam dan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Dari survey itu, ada beberapa solusi yang umumnya sudah diterapkan di organisasi, seperti peningkatan gaji, bonus dan jenjang karir. Masalahnya, perusahaan merasa tidak cukup mampu untuk memberikan semua reward karena dana yang tidak tersedia.

Menurut Jennifer Frei, Asia Pasific Practise Director, sales Effectiveness & Reward Towers Watson, perusahaan dapat menerapkan korelasi yang baik antara departemen HR dengan Marketing selaku kepala yang memimpin langsung penjualan produk perusahaan. “Sales pun akan bekerja sebaik mungkin bila culture di dalam perusahaan mampu mendongkrak produktifitasnya,” kata Jennifer.

Jennifer menegaskan, salah satu best principle-nya adalah “measures should drive focus and carry a meaningful reward for performance,” karena ambang batas dari kinerja sales berbeda-beda setiap industri. “Untuk beberapa industri misalnya, aktifitas distribusi kadang tidak sejalalan dengan prakteknya, hal ini mengakibatkan bisnis atau peningkatan penjualan terganggu dan otomatis kinerja sales meningkat,” imbuhnya.

Faktor-faktor dominan dalam organisasi dapat mengukur performa terbaik yang dipunyai, seperti kemampuan selling, negosiasi yang akan merangsang sales lainnya untuk mendapatkan reward, seperti komisi dalam setiap penjualan. Dan perusahaan meramunya dalam Total Reward, seperti disebutkan, Total reward is a key component of a company’s employee value proposition (EVP) and sistems directly from business strategy. Jenis-jenis intensif seperti komisi atau insentif target juga dapat menjadi alternatif perusahaan. Intinya reward-reward itu harus di-optimized antar lini agar berjalan optimal dan aplikatif.

Seminar yang berlangsung kurang lebih 120 menit ini juga memaparkan hasil riset di dunia perbankan, FMCG, General Industry, High Tech, Pharmaceuticals, Life Sciences dan Telecos. Hasilnya bermacam-macam, pengukuran key performance indicator (KPI) berbeda-beda di tiap industri. Sementara program pemberian intensif untuk menggantikan peranan kenaikan gaji atau upah karyawan kini juga sudah diterapkan perusahan-perusahaan Indonesia. Tapi pemberian insentif ini harus didukung perencanaan dan data yang kuat, bila ingin reward yang diberikan menjadi meaningfull. (@lisa)

Tags: , , , , ,