Skandal Kompensasi Merebak

Selama bertahun-tahun, raksasa pembiayaan perumahan (mortgage) Fannie Mae mencatat pertumbuhan pendapatan double digit secara konsisten. Kinerja ini disambut dengan antusias oleh pelaku bursa saham di Wallstreet. Selama 5 tahun yang berakhir Agustus lalu, harga saham Fannie Mae melonjak 20% secara kumulatif versus penurunan 16% dari indeks S&P 500. Artinya, pada saat rata-rata harga raham 500 perusahaan terbesar Amerika mengalami penurunan 16%, harga saham Fannie Mae malah positif dan naik cukup tinggi (20%).

Board of Directors (ini beda dengan Dewan Direksi di Indonesia karena berisikan eksekutif-eksekutif hebat dari perusahaan lain termasuk CEO Fannie Mae sendiri serta bertindak lebih sebagai Dewan Pengawas) Fannie Mae mengganjar CEO Franklin Raines dengan bonus besar. Raines mendapatkan penghasilan US$52 juta dari 1999 hingga 2003, di mana US$32 juta di antaranya berasal dari rencana insentif jangka panjang yang menjamin kompensasi (guaranteed compensation) bernilai besar jika perusahaan berhasil mewujudkan kinerja tertentu, misalnya pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 15%.

Namun, setelah itu, atap rumah Fannie Mae rubuh. September lalu, regulator federal Amerika menemukan kejanggalan akuntansi di perusahaan itu, sehingga menyebabkan munculnya kelebihan laba (profit) sebesar US$9 miliar selama periode 2001 hingga Juni 2004. Raines dipaksa untuk pensiun dini bulan Desember 2005, dan harga saham Fannie anjlok 20% selama 6 bulan terakhir.

Serta merta, Board of Directors Fannie menghapuskan bonus terkait dengan kinerja finansial bagi eksekutifnya tahun 2005. Hal ini ditujukan supaya pembiayaan kepemilikan rumah bagi warga negara Amerika tidak terganggu.

Masih belum jelas apakah Raines sengaja memanipulasi hal itu untuk mendapatkan paycheck yang lebih besar. Tetapi, perdebatan tentang apa yang terjadi di Fannie menunjukkan betapa berbahayanya memberikan insentif besar bagi para bos. Sebagai penguasa perusahaan, mereka bisa saja menyalahgunakan kesempatan untuk mempercantik laporan keuangan perusahaan.

Menurut Michael K. Ozanian dan Elizabeth MacDonald dalam tulisannya berjudul Paychecks on Steroids dalam Forbes, pertanyaan terhadap pemberian kompensasi besar kepada para bos terkait kinerja perusahaan yang mereka jalankan telah muncul selama bertahun-tahun. Eugene Grace, President Bethlehem Steel tahun 1929, memperoleh bonus tunai senilai US$1,6 juta dengan gaji (salary) US$12.000 (setara dengan daya beli dari bonus senilai US$17,3 juta dengan gaji US$130.000). Praktik pemberian bonus kinerja ini makin merebak di era 90-an. Harga saham beranjak naik, dan opsi saham menjadi pilihan karena perusahaan tidak harus mengeluarkan uang untuk itu. Perencanaan insentif lazimnya mencakup 2 atau 3 tahun dan memasukkan matriks yang terkait dengan profitabilitas dan harga saham perusahaan.

Dalam teori, membayar imbalan berdasarkan kinerja bertujuan menyelaraskan kepentingan orang yang menjalankan perusahaan dengan para pemegang saham. Masalahnya, seberapa pas kepentingan-kepentingan itu diselaraskan? Laporan kinerja perusahaan begitu rumit untuk bisa mendapatkan gambaran berapa besaran target yang harus dicapai oleh eksekutif untuk mendapatkan bonus. Lebih mudah mencapai target berdasarkan pendapatan.

Namun, porsi terbesar dari kompensasi umumnya dikaitkan dengan pencapaian target pendapatan, menurut Baruch Lev, profesor akuntansi dan keuangan di Stern School of Business, New York University. Umumnya apa yang disebut dengan prinsip-prinsip akuntansi lebih kepada seni ketimbang sains. Berikan seorang bos yang cerdas insentif untuk melakukannya, dan dia akan mampu mendorong pendapatan mencapai limit – atau bahkan lebih. Delphi, Office-Max, Qwest, dan WorldCom adalah beberapa contoh perusahaan lain yang memberikan bonus besar berdasarkan kinerja tetapi berulangkali mencatatkan kembali (restatement) pendapatan yang lebih rendah setelah terkuaknya skandal akuntansi mereka.

“Dibayar atas kinerja secara signifikan menjadi penyebab malapetaka skandal akuntansi,” kata Paul Hodgson, Peneliti Senior di firma corporate governance Portland. Menurut sebuah studi oleh pengawas negara bagian New York, antara 1995 hingga 2002, bilamana perusahaan mengaitkan bonus dengan pendapatan, jumlah restatement pendapatan melonjak dari 44 menjadi 240.

Kalau begitu, di luar sana sesungguhnya banyak perusahaan Amerika yang dicurigai melakukan banyak praktik menyimpang. Beberapa lembaga di Amerika mencoba mencari perusahaan yang pendapatannya tergolong kurang bermutu dan bos mereka mungkin mendapatkan manfaat dari kenaikan pendapatan. Istilah kurang bermutu di sini berarti adanya gap yang signifikan antara pendapatan yang dilaporkan dan pendapatan yang tergolong tunai. Criterion Research, firma analisisi laporan keuangan di New York, mendefinisikan pendapatan tunai sebagai arus kas operasional plus dampak dari investasi seperti pengeluaran modal dan akuisisi.

Istilah ini juga diberikan kepada perusahaan yang terbiasa membukukan biaya restrukturisasi dan penghapusan asset, yang seringkali berdampak pada munculnya asumsi akuntansi yang terlalu optimistik pada tahun-tahun awal. Ditemukan 7 perusahaan yang memiliki kualitas pendapatan rendah, di mana bos mereka memperoleh pembayaran tahun 2004 dan perencanaan jangka panjang lebih besar daripada bonus tahunan mereka.

Sebagai contoh, tahun 2003, CEO pembuat mesin Cummins Theodore Solso, membawa pulang kompensasi senilai US$4,S juta, di mana US$3 juta berasal dari rencana insentif jangka panjangnya. Belakangan, berdasarkan laporan menyeluruh perusahaan (proxy statemeat), hal itu diperoleh dari pencapaian terhadap target arus kas bebas (free cash flow) yang tidak jelas tahun 2001-2002. Selama periode itu, free cash flow perusahaan (Cummins mendefinisikannya sebagai tunai dari aktivitas operasional dan investasi, termasuk pengeluaran modal tetapi di luar dana tunai dari akuisisi dan sebagainya) melonjak dari US$53 juta menjadi US$94 juta.

Bagaimana caranya? Terbesar dengan melakukan pemotongan pengeluaran modal tahun 2002 menjadi US$90 juta. Bukan berarti Cummin membesituakan pabrik-pabriknya. Tahun berikutnya, perusahaan kembali menaikkan pengeluaran modalnya menjadi US$111 juta, yang memotong  free cash flow menjadi US$26 juta (Cummin melaporkan hal ini karena melambatnya bisnis). Dalam periode 1998-2004, Cummins menurunkan modal pemegang saham secara besar-besaran, seperti menghapusbukukan total asset senilai US$233 juta, setelah pajak, untuk berbagai hal seperti usaha patungan dan peralatan yang gagal.

Menurut David Trainer, President firma riset ekuitas New Construct, Cummins juga membantu memperpanjang free cash flow – dan insentif CEO – selama periode itu dengan sebanyak-banyaknya memanfaatkan jasa leasing operasional, dan teknik pembiayaan di luar laporan keuangan (off-balance-sheet). Leasing itu menghasilkan aset hipotik besar-besaran tetapi menjaga pengeluaran modal perusahaan tetap rendah, antara lain, dengan tidak mengeluarkan banyak uang tunai untuk membeli peralatan dan pabrik. Trainer mengatakan, net present value leasing operasional Cummin menjadi US$257 juta di akhir tahun.

Charles T. Fote, CEO First Data, yang berhasil membeli Westem Union, mendapatkan pembayaran insentif jangka panjang sebesar US$2,8 juta tahun 2004. Angka itu didasarkan kepada kinerja harga saham vs. S&P 500 tahun 2000 dan 2001, dan retorn on equity (ROE) tahun 2002 dan 2003.

Criterion menempatkan First Data di bagian bawah dari sisi kualitas pendapatan vs. perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500. Trainer juga khawatir First Data telah menghapusbukukan asset senilai US$467 juta, setelah pajak, dari 1998 hingga 2003. Penghapusbukuan tersebut mengakibatkan rendahnya nilai ekuitas pemegang saham. Trainer mengatakan penghapusbukuan itu menyumbang 3,4% dari 35% ROE tahun 2003, sebuah peningkatan sebesar 10%. ROE digunakan untuk menetapkan insentif bos perusahaan itu.

Sayangnya, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar tidak mau mengakui adanya manuver akuntansi tersebut. Mereka merasa praktik akuntansi masih selaras dengan prinsip-prinsip akuntansi yang umum. Lalu, bagaimana di Indonesia?