Siasati Remunerasi Lewat Bonus – PT. EXCELCOMINDO PRATAMA

Berusaha berada di market menjadi fokus utama jajaran divisi human resources perusahaan telekomunikasi yang berlokasi di.kawasan Mega Kuningan di belahan selatan Jakarta.

Berdasarkan data survei yang dilakukan Watson Wyatt terhadap beberapa perusahaan telekomunikasi di Indonesia akhir 2004 lalu, diketahui kalau PT Excelcomindo Pratama masih berada di posisi market. Dari sisi gaji pokok, Excelcomindo berada di atas P75 atau di atas perusahaan telekomunikasi lainnya. Untuk total cost, Excelcomindo berada di bawah P50 atau di bawah beberapa perusahaan kompetiter mengingat perusahaan kompetiter ini ada yang memberikan bonus kepada karyawan hingga 5 kali gaji pokok. Sedangkan untuk total remunerasi, Excelcomindo berada di atas P50. Hasil survei tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam remunerasi karyawan Excelcomindo yang besarnya rata-rata sekitar 12,98%.

Itu untuk tahun 2005. Sedangkan untuk tahun 2006, Excelcomindo masih berkutat dengan kalkulasi. Kendati belum menghitung angka pasti berapa kenaikan gaji yang akan diberlakukan di Excelcomindo, namun Joris de Fretes memperkirakan kenaikan gaji rata-rata karyawan Excelcomindo sekitar 15-16% jika angka inflasi 2005 masih berada di angka 18%.

“Kami memang tidak tempatkan di 17%,” ujar pria yang menjabat sebagai Director Human Capital Development Excelcomindo. Pertimbangannya, manajemen sudah memberikan kenaikan transportasi sekitar 2 bulan lalu. Para karyawan Excelcomindo mendapat kenaikan sebesar 40% sesuaj,dengan kenaikan biaya transport.

Kemudian, dari angka 15-16% tersebut, 7%-nya berdasarkan merit increase atau kompetensi karyawan, 8%-nya berdasarkan inflasi atau cost of leaving allowance. “Kenapa 8%, karena transportnya sudah naik, maka 8% ini merupakan dampak dari inflasi seperti tunjangan makanan,” papar Joris. Namun, tidak semua karyawan tidak akan mendapatkan kenaikan yang sama porsinya.

Terutama di skala kompetensi yang diterapkan Excelcomindo berdasarkan 3P, “pay for performance, pay for position dan pay for potential atau person”. “Kalau di era competency base, seharusnya sistem penggajiannya seperti itu. Cuma di Indonesia belum ada yang berani kompetensi model ini,” tambah Joris yang mengaku bahwa alat yang ada selama ini untuk mengukur kompetensi masih mengundang subyektivitas, lama dan mahal.

Ia menambahkan, sejauh ini pergerakan remunerasi yang ada di Excelcomindo pada periode 2005 tidak akan jauh berbeda dengan 2006 ini. Menurutnya, tingkat inflasi yang ada sekarang ini dinilai masih tergolong rendah dibanding sebelumnya. Indonesia pernah mengalami inflasi hingga 80% sehingga Excelcomindo mau tidak mau harus menaikkan gaji karyawan hingga 46%. “Ini untuk mengejar inflasi yang anjlok.” Namun, ia memang menyayangkan jika selama dua tahun terakhir ini Indonesia berhasil menekan inflasi hingga satu digit, kini kembali berada di posisi dua digit.

Yang jelas, jika inflasi 2005 dipastikan berada di 18%, maka kalkulasi biaya yang disampaikan Joris akan diberlakukan per Januari 2006 ini. Karyawan bisa jadi tidak terlalu happy dengan kenaikan ini karena masih dibawah inflasi. Tapi, Excelcomindo mencoba siasat lain, yaitu lewat bonus yang menggiurkan. “Kami sedang membahas masalah bonus ini. Yang jelas, untuk mereka yang prestasinya luar biasa, kami bisa kasihkan lebih. Tapi karyawan harus membaktikan dulu, dan kami juga harus membuktikan agar jangan sampai salah menilai,” tute Joris yang enggan membeberkan berapa angka bonus yang akan diterima oleh karyawan luar biasa tersebut.