Seberapa Hebat Sistem Remunerasi Mereka?

PT Astra International Tbk.

Di deretan perusahaan besar Indonesia, PT Astra International Tbk. dan anak-anak perusahaannya termasuk paling diidamkan banyak lulusan perguruan tinggi. Sejak awal, Grup Astra memang menempatkan sumberdaya manusia sebagai modal utama perusahaan. Itu sebabnya, sistem remunerasi Astra dari waktu ke waktu terus disempurnakan dan dibuat semakin kompetitif. Gaji tunai Astra yang selama ini disebut-sebut tidak sehebat perusahaan besar lainnya kini sudah menjadi berita basi. Sedangkan citra Astra yang sangat kuat dalam bonus kinerja kini terus dipertahankan. Alhasil, sudahlah gaji cukup besar, bonusnya pun tetap besar selama kinerja bisnis Astra dan kinerja individu bagus.

Sejauh ini, tingkat ke luar-masuk (turnover) Astra relatif rendah, yang menunjukkan sistem remunerasi mereka cukup kompetitif. Kalaupun ada staf yang ke luar karena tergiur imbalan dari perusahaan lain, biasanya cukup banyak yang kembali lagi ke Astra. Selama ada posisi, mereka yang ke luar secara baik-baik biasanya diterima kembali di Astra. Lebih senang lagi Astra jika karyawan itu berkembang cepat di luar Astra dalam hal wawasan dan kompetensi sehingga kembali membawa pengetahuan dan pengalaman baru yang bisa menjadi masukan bagi Astra.

Banyaknya karyawan yang ke luar kembali lagi ke Astra menimbulkan guyonan 5K tentang Astra, yaitu kagum, kaget, kecewa, ke luar, dan kembali. Biasanya karyawan baru melihat Astra dengan kagum, masuk ke dalamnya agak kaget karena gaji yang diperoleh tidak sebesar namanya, lama-lama kecewa, lantas memutuskan ke luar, dan setelah mereguk dunia bebas kembali lagi ke Astra. “Terbukti Astra tetap lebih baik,” canda Julius Aslan. Slogan 5K itu agaknya kini kurang tepat terhadap Astra, karena perusahaan secara kontinu terus memperbaiki sistem remunerasinya, dan menjadi salah perusahaan terbaik di jajaran perusahaan besar di Indonesia.

Astra membuat sistem kepangkatan berjenjang untuk seluruh karyawannya, dari golongan I hingga golongan VII. Golongan IIII merupakan golongan untuk karyawan non-sarjana, dan golongan IV ke atas untuk sarjana ke atas. Masing-masing golongan memiliki struktur gaji dan benefit tersendiri yang tertuang dalam Pedoman Pemberian Hak dan Kewajiban Karyawan PT Astra International Tbk.

Dalam menetapkan sistem remunerasi, tutur Chief HR Astra Julius Aslan, Astra menggunakan 2 filosofi dasar. Pertama, haruslah internally fair. Setiap orang dengan golongan yang sama dan prestasi yang sama, diharapkan pendapatannya juga sama. Kedua, externally competitive. Harus kompetitif dibandingkan perusahaan lainnya. Untuk kompetitif, Astra melakukan survei gaji sendiri maupun dengan menggunakan data konsultan. “Hasil survei gaji itu sangat membantu memperjelas daya saing sistem remunerasi Astra,” ungkapnya. Sistem remunerasi Astra berlaku untuk perusahaan induk (PT Astra International Tbk.) dan diterapkan pula di seluruh anak perusahaan Astra sesuai kemampuan masing-masing. Ada anak perusahaan yang menerapkan remunerasi hanya 75% dari remunerasi Astra. Itu tidak masalah, karena yang paling tahu kemampuan perusahaan adalah manajemen masing-masing anak perusahaan.

Selain gaji pokok, berikut adalah bentuk-bentuk kompensasi lainnya yang diberikan perusahaan:

TUNJANGAN

  • Transpor (bruto per hari): Rp 12.350 untuk golongan I-III dan Rp 18.500 untuk golongan IVA-D. Golongan di atas itu tidak mendapat tunjangan transpor tetapi memperoleh fasilitas pemilikan mobil.
  • Fasilitas pinjaman motor/mobil: sepeda motor Honda untuk golongan I-IVD; mobil untuk IVE ke atas (mulai dari Rp 95 juta hingga Rp 425 juta menurut golongan). Motor dan mobil dicicil selama 48 bulan atau 4 tahun. Untuk golongan IVA-D sebesar 70% dari cicilan dibayar perusahaan. Golongan IVE ke atas diberikan subsidi mulai dari Rp 1,108 juta per bulan hingga Rp 4,958 juta per bulan, yang ditambahkan ke dalam gaji.
  • Biaya operasi motor/kendaraan: hanya diberikan untuk golongan IVA-D (Rp 185.000 per bulan) ke atas (hingga Rp 2,159 juta untuk golongan VII B).
  • Makan (natura): Rp 6.000 per hari untuk golongan I hingga VID, dan Rp 20.000 untuk golongan VII
  • Makan dinas luar: Rp 9.000 untuk golongan I-III, Rp 10.500 untuk golongan IV; aktual untuk golongan V ke atas
  • Kesehatan (bruto/tahun): mulai dari Rp 1,3 juta hingga maksimal Rp 11,0 juta, di luar biaya kacamata dan pemeriksaan kesehatan.
  • Lembur (khusus golongan I-III): jam lembur x (gaji pokok+tunjangan makan+transport)
  • Hari raya (bruto): 1 x gaji pokok
  • Bonus (bruto): kebijaksanaan perusahaan, tergantung kinerja perusahaan dan individu Pensiun: iuran sebesar 3,2% x gaji pokok (maksimum gaji pokok terkena Rp 10 juta/ bulan). Diberikan secara bulanan setelah usia pensiun 55 tahun.
  • Astek: perusahaan mengiur 0,24% untuk asuransi kecelakaan kerja, 0,30% untuk asuransi kematian, 3,7% untuk asuransi hari tua. Kewajiban karyawan untuk tunjangan hari tua adalah 2% x gaji pokok. Asuransi: perusahaan membayar premi asuransi jiwa karena cacat total dan kematian selama 24 jam akibat apapun, kecuali karena bunuh diri atau tindakan kriminalitas
  • Rawan Inap: RS rujukan St Carolus, mulai Rp 160.000/malam (gol. IIA) hingga Rp 575.000/malam (gol. VI ke atas). Fasilitas seperti itu juga tersedia untuk melahirkan. Cuti: 12 hari kerja dipotong cuti massal per tahun; cuti tidak dibayar (maksimal 22 hari kerja). Cuti 5 tahunan 22 hari kerja dengan tunjangan 1 bulan gaji + gaji bulan berjalan.
  • Training: Terdiri dari pengembangan kepemimpinan; pengembangan budaya kerja; dan program training setiap divisi.

PERMATABANK

Sebagai hasil merger dari 5 bank, dengan sistem jabatan dan kompensasi berbeda-beda, urusan remunerasi di PermataBank tentu tidak mudah. Menghadapi kondisi ini, PermataBank memutuskan tidak akan melakukan penurunan gaji karyawan, meskipun level jabatannya bisa turun. Dalam struktur baru organisasi PermataBank, bank menerima semua karyawan berdasarkan jabatannya di bank peserta merger. Pengelompokan jabatan dilakukan tetapi belum terlalu detil. Misalnya, ada bank yang menyebut jabatan General Manager (GM) yang setara dengan jabatan Division Head di bank lain. Mereka dikelompokkan menjadi satu. Hal seperti ini berjalan 6 bulan awal.

Setelah organisasi mulai jalan, dan beban serta kemampuan masing-masing orang mulai kelihatan, PermataBank mulai melakukan job grading (penyusunan golongan kepangkatan). Proyek job grading ini diselenggarakan oleh konsultan Hewitt sejak November 2002 dan selesai Maret 2003. “Pada bulan April 2003, barulah hasil job grading itu kami implementasikan,” ujar N. Krisbiyanto, GM HR PermataBank.

Dari job grading itu disusun struktur organisasi baru, di mana berbagai jabatan dengan istilah beraneka ragam sebelumnya disusutkan dan dikelompokkan secara rapi. Karena kebijakan PermataBank tidak mengambil seluruh hal yang bagus (dalam hal remunerasi) dari bank peserta merger, termasuk soal gaji, maka pada setiap level jabatan, deviasi gaji masih cukup lebar. Gaji kotor seorang teller bisa bervariasi antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan.

Untuk mengatasi ini, PermataBank menyusun standar gaji dengan cara membentuk skala gaji untuk setiap level jabatan – terendah hingga tertinggi. Penyusunan skala gaji ini dilakukan dengan memanfaatkan hasil survei gaji (total remunerasi) yang diselenggarakan Wyatt ataupun Hey. Bank dengan asset sekitar Rp 28 triliun melakukan benchmark terhadap remunerasi pada 10 bank terbesar nasional. Survei itu diselenggarakan hingga Desember 2002, dan setelah diolah 3 bulan, bulan Maret hasilnya ke luar dan PermataBank langsung mengadakan penyesuaian gaji di bulan yang sama, namun berlaku mundur sejak 1 Januari 2003.

Cara penyesuaian gaji yang dilakukan cukup unik. Mereka yang bergaji terbesar dalam sebuah skala gaji, tidak mendapatkan penyesuaian gaji. Penyesuaian hanya dilakukan bagi karyawan dengan gaji yang masih di luar skala gaji, sehingga masuk ke dalam garis tengah (median) skala gaji. Juga bagi karyawan dengan gaji di bagian bawah dari skala gaji, disesuaikan menuju garis tengah. Target PermataBank minimal mencapai 50 persental dari skala gaji itu. Dengan sendirinya, kenaikan gaji karyawan PermataBank tidak merata, bahkan ada yang tidak naik sama sekali bila gaji yang diperoleh sudah berada di bagian puncak kisaran gaji.

Di antara 10 bank besar di Indonesia, besarnya remunerasi PermataBank diposisikan bukan di barisan paling top. “Maklum, kami bank baru yang harus dikelola secara efisien. Posisi kami 75% dari remunerasi bank paling top,” tegas N. Krisbiyanto. Posisi ini naik 15% dibandingkan remunerasi PermataBank di awal merger. Total bujet remunerasi PermataBank kini sekitar Rp 400 miliar per tahun.

Gaji karyawan PermataBank rata-rata 14 kali setahun, termasuk 1 x tunjangan hari raya dan 1 x tunjangan akhir tahun. Dalam memberikan remunerasi, PermataBank sepenuhnya mendasarkannya pada prestasi atau kinerja karyawan. Semakin tinggi prestasi atau kinerja seseorang, semakin besar pula remunerasinya.

Selain gaji pokok, bonus, tunjangan kesehatan (rawat inap dan rawat jalan), Astek, dan dana pensiun, layaknya bank-bank papan atas lainnya, PermataBank juga memberikan pinjaman bersubsidi untuk keperluan pembelian rumah, mobil, maupun untuk kebutuhan darurat. Subsidi diberikan terhadap bunga pinjaman di mana karyawan peminjam cukup membayar 6% per tahun, selebihnya –  yakni 15% bila bunga pinjaman 21% per tahun – dibayar perusahaan. Angka ini lebih tinggi dari Bank Niaga yang hanya membebani karyawan dengan bunga 3% sisanya disubsidi perusahaan.

Fasilitas ini hanya bisa diperoleh karyawan yang memenuhi syarat, yakni bekerja minimal 3 tahun dan memiliki kolateral minimal 90% dari pinjaman – sama seperti peminjam lainnya. Seluruh dokumen kredit, juga kolateral, disimpan di PermataBank. Ketentuan ini sesuai dengan regulasi BI yang akan mengaudit seluruh pinjaman bank. Dana pinjaman hanya bisa digunakan untuk membeli rumah pertama, mobil, atau keperluan darurat, dan tidak bisa digunakan untuk tujuan lain. Kalau ketahuan menyalahgunakan pinjaman, PermataBank akan mengambil tindakan terhadap si peminjam. Lama pelunasan pinjaman diserahkan kepada peminjam atau atas dasar kesepakatan dengan pihak bank. Yang pasti, cicilan pinjaman plus bunganya tidak boleh melebihi 1/3 dari total gaji peminjam. Pemotongan dilakukan secara otomatis oleh PermataBank langsung dari gaji yang bersangkutan.

Seluruh cicilan itu harus dilunasi pada saat karyawan berhenti atau pindah kerja ke perusahaan lain. Bila tetap bermasalah, pihak bank memasukkannya ke bagian collection seperti layaknya peminjam biasa. Tidak semua karyawan PermataBank memanfaatkan fasilitas itu. “Hanya 70%,” katanya, sambil menambahkan, “Permata-Bank bakal segera menerapkan system penggajian cleanwage.”

PermataBank secara bertahap menghapus fasilitas kendaraan kantor. Kendaraan dinas kini hanya ada di sejumlah cabang luar Jakarta, yang pemakaiannya diatur secara ketat. Hanya untuk urusan dinas, dan tidak boleh untuk urusan pribadi.